Wamenag: Masyarakat Modern Kini Tengah Gelisah

Sabtu, 22 September 2012 –

Foto

Makassar (Pinmas)—Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, masyarakat modern dewasa ini tengah menghadapi kegelisahan, termasuk di dalamnya kalangan intelektual, yang tengah mencari jawaban terhadap fenomena tersebut.

Ternyata kegelisahan yang terasa berat tersebut tak sanggup dijawab dengan dirinya sendiri karena berbagai keterbatasan yang dimiliki, kata Nassaruddin Umar ketika menjadi pembicara pada pembukaan Forum Dekan, Seminar Nasional dan Temu Alumni Universitas Islam Negeri Makassar, Fakultas Usuluddin Filsafat dan Politik, Sabtu.

Di lingkungan perguruan tinggi pun, lanjut Nasaruddin, upaya menjawab kegelisahan masyarakat modern terus dilakukan tapi hasilnya terasa belum pas. Kendati berbagai pendekatan ilmu agama di tengah masyarakat telah dilakukan juga hasilnya belum menyentuh pada akar persoalan.

Ia memberi contoh bisa bila di tengah masyarakat yang tengah menghadapi konflik kemudian dilakukan dengan pendekatan kurang pas, misalkan menerjunkan sarjana ahli fikih, tentu bukan menyelesaikan konflik. Disiplin ilmu fikih lebih banyak bicara hitam-putih, bicara halal dan haram. Tapi jika yang diterjunkan sarjana usuluddin, tentu akan bisa mengeliminir konflik di daerah. bersangkutan, katanya.

Disiplin ilmu usuluddin, menurutnya, kini menghadapi tantangan berat menjawab fenomena yang ada di masyarakat. Tak hanya sebatas pada kegelisahaan yang terjadi di masyatakat, tapi juga persoalan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Usuluddin adalah ilmu yang mempelajari tentang keesaan Allah. Termasuk di dalamnya bidang hakikat, akidah dan keimanan terhadap Allah. Jika ada seorang anak bertanya kepada orangtuanya dimana kerajaan Tuhan, pasti sang bapak akan mengalami kesulitan menjelaskan. Sang bapak akan terus ditanyai, kenapa berdoa dengan tangan mengadah ke atas. Apakah tuhan ada di atas. Untuk menjawab ini, yang tepat adalah sarjana usuluddin,
kata Wamenag.

Tapi dalam perkembangannya, disiplin ilmu usuluddin seperti jalan di tempat. Itu terjadi karena mahasiswa terlalu menggantungkan pada buku yang ada di perpustakaan dan penjelasan dari dosen. Kreatifitas menggali dari sumber lain masih perlu ditingkatkan lagi.

Di sisi lain, ada buku berkualitas tak dibaca dengan alasan sudah kuno. Padahal, jangan-jangan dia yang salah dalam memahami buku itu. Nasaruddin Umar mengatakan, para peraih nobel awal-awalnya berpendapat bahwa untuk menghasilkan karya yang baik pikiran dijauhi dari pemahaman agama. Tapi belakangan ini pendapat tersebut ditinggalkan dan malah menyerempet bidang agama. (ant/ess)

    Bagikan    


Berita Terkait



Facebook  RSS  Twitter
©2011 Kementerian Agama Republik Indonesia