Jumat, 27 April 2012 –
Kaimana (Pinmas)—Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, tidak ada satu pun ayat yang dilanggar dalam ajaran agama jika umat mengembangkan kesenian yang menunjukan ciri khas daerah dalam kontek kebhinekaan yang kini berkembang.
Berkesenian dengan bentuk yang khas kebhinekaan dan dibawakan oleh penyanyi yang dilatih untuk kepentingan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), misalnya pada MTQ IV Papua Barat di Kaimana sangat membanggakan, kata Nasaruddin Umar dalam silaturahmi dengan tokoh agama dan masyarakat Papua Barat di Kaimana, Jumat (27/4) petang.
Ikut mendampingi Wamenag, pada acara itu gubernur Papua Barat Abraham Oktavianus Aturari. Kakanwil Kemenag Papua Barat Juliana Leong, anggota DPR-RI dari partai Demokrat asal Papua Barat Mikael Watimena.
Menurut Wamenag, esensi berkesenian bagi umat, bukan hanya terbatas pada olah vocal dan menari, tapi lebih luas lagi yang dimaksudkan untuk member dukungan menghaluskan rasa, kehalusan budi dan kebersamaan. Nabi Muhammad SAW pun orang yang gemar terhadap keseniaan yang dibuktikan membela istrinya Aisyah, yang ditegur Abu Bakar ketika mendengarkan penyanyi di kediamannya.
Dalam agama mana pun, kata Wamenag, ia yakin seni tak dapat dipisahkan untuk mengekspresikan kehalusan rasa dan kehalusan budi bagi seluruh umat. Karena itu, ia pun menyambut gembira, di beberapa daerah seperti di Papua Barat dan Ambon ada kelompok seni menyanyikan mars MTQ dibawakan umat Nasrani dan sebaliknya ketika berlangsung paduan suara Pesparawi ada umat muslim memberikan kontribusi.
Peristiwa ini tidak melanggar ayat yang ada di al Quran dan kitab agama lainnya. Karena itu, ketika orang Arab bertanya tentang pesta umat Islam, Nasaruddin Umar menjelaskan, tidak menyebut MTQ sebagai pesta umat muslim. Tapi justru MTQ merupakan pesta umat dan rakyat karena kontribusi dan yang menikmati adalah rakyat setempat.
Wamenag menilai, kegiatan MTQ sesungguhnya telah menjadi sarana untuk menghaluskan rasa dan nilai kebhinekaan. Kondisi itu patut dipertahankan dan harus diyakini, di situ ada nilai kebersamaan yangbisa dijadikan sumber memajukan kerukunan antar umat beragama.
Wamenag berharap, para tokoh agama di Papua untuk menunjukan keteladanan dan menjadi motivator bagi kemajuan daerah setempat. “Peran ulama, pastor , pendeta dan tokoh masyarakat sangat penting dalam melaksanakan peran ini,” ujarnya. (ant/ess)