Minggu, 6 Mei 2012 –

Banda Aceh(Pinmas)—Wakil Menteri Agama (Wamenag) Prof. Nasaruddin Umar MA menyatakan, dewasa ini masyarakat menaruh harapan besar kepada Kementerian Agama wajahnya seperti “malaikat”, putih bersih dan jika ada titik noda sedikit bakal jadi persoalan tersendiri.
“Ini konsekuensi logis, ekspektasi atau harapan terhadap Kementerian Agama seperti malaikat,” kata Nasaruddin Umar di hadapan peserta penutupan rapat koordinasi rencana kerja anggaran satuan kerja (RKA-SR) Kementerian Agama Provinsi Aceh tahun 2013 di Banda Aceh, Sabtu (5/5)malam. Wamenag sebelumnya juga shalat magrib, memberikan tausiyah dan sholat Isya di Masjid Raya Baiturahman Aceh.
Hadir pada rapat penutupan yang berlangsung di Asrama Haji Banda Aceh itu antara lain Kepala Dinas Syariat Islam Prof. Rusdi, Kakanwil Kemenag H. Ibnu Sa’dan MPd, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh Gazali Muhammad, Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Habib Badaruddin, mantan rektor IAIN Arraniri Prof. Yusni Sabi, dan wakil Biro Isra Ilyas Nyaktui.
Di hadapan sejumlah pejabat, Nasaruddin Umar mengingatkan, karena ekspektasi masyarakat yang demikian tinggi itu tentu harus dijawab dengan memberikan sikap keteladanan dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan setempat. “Tentu, ini memang repot, karena kita juga manusia biasa,” ia mengatakan.
Ia berharap jajaran Kemenag tidak lalai dalam mengantisipasi dinamika masyarakat. Juga tidak terjebak dalam kebanggaan jika instansi itu serapan anggaran dan pelaporannya bagus. Sebab, tugas Kemenag tidak sampai disitu saja. Masih banyak lagi dan yang pokok adalah apakah ajaran agama dan umat sudah mendekat.
“Kita harus lihat lingkungan sekitar, sudah menyatu atau terpisah. Pertanggungjawaban jajaran Kemenag dunia hingga akhirat,” ia menegaskan.
Untuk itu, Nasaruddin Umar mengajak jajaran Kemenag Aceh untuk mengidentifikasi seluruh persoalan umat. Jangan sampai, saat ini dan kedepan tidak diketahui. Selama seluruh persoalan yang ada tidak “terbaca”, dan tidak dicarikan solusinya, jangan harap keberhasilan dapat digapai. Dan, karena harapan masyarakat kepada Kemenag demikian tinggi, persoalan yang ada tentu tak dapat diselesaikan dengan asal menjawab pula.
Contoh, lanjut Nasaruddin Umar, apa definisi agama dari perspektif negara. Agama menurut tafsir kitab suci Al Quran. Agama menurut negara dan negara dari tinjauan agama. Dan siapa yang berhak memberikan definisi itu. “Ini soal konseptual dan masih ada lagi soal yang aktual, yaitu hidup spekulatif,” tambahnya.
Soal kehidupan spekulatif pun harus dijawab. Pejabat Kemenag harus mampu memberikan pencerahan. Sebagai contoh, masih ada umat menaruh harapan besar seperti pada pemberian hadiah yang ditawarkan pihak bank. Bujukan pemberian hadiah bagi nasabah yang mendepositokan uangnya sebetulnya tak sesuai dengan hukum syariat Islam. Di lain pihak, bank-bank di luar negeri, nasabah yang mendepositokan uangnya tak menawarkan hadiah. Harapannya, nasabah bisa beralih agar uangnya produktif dan memberikan manfaat bagi orang banyak.
Masih banyak persoalan umat yang harus dijawab. Pariwisata mistik, kehidupan seks bebas, kehidupan pragmatis yang cepat berubah. Persoalan naiknya angka percerian dan upaya pencegahannya. Belum lagi persoalan aliran sempalan, halal dan haram. “Jangan biarkan umat berjalan sendiri,” ia menegaskan lagi.
“Jajaran Kemenag diminta tak terjebak dalam rutinitas. Tapi harus kreatif, inovatif dan berani untuk mengajak umat,” katanya menambahkan.(ant/ess)