Muhammad Kece dan Tolok Ukur Penyelesaian Kasus Serupa

Baru-baru ini, masyarakat dihebohkan dengan postingan Muhammad Kece. Secara terbuka, dia melakukan tindakan yang diduga mengandung unsur penghinaan terhadap agama Islam. Polisi telah menangkapnya di Bali dan memprosesnya secara hukum.

Gerak cepat kepolisian melakukan penangkapan perlu diapresiasi. Sebab, postingan Muhammad Kece ini telah membuat resah publik. Ormas Islam, baik Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, dan Majelis Ulama Indonesia telah menyatakan pendapat bahwa tindakan Muhammad Kece telah  mengancam keharmonisan umat beragama. Statement dia berpotensi merusak hubungan antar umat beragama yang sedang dirajut oleh pemerintah melalui program moderasi beragama. 

Program moderasi beragama adalah satu upaya untuk membangun kesadaran bersama antar umat beragama untuk bisa hidup harmonis, rukun, saling menghargai, dan saling menghormati keyakinan masing-masing.

Moderasi beragama yang didasari ketulusan dari pemahaman agama yang benar akan menghasilkan pemeluk agama yang kata dan lakunya memberi kebaikan kepada kehidupan. Beragama dengan pemahaman yang benar akan seperti pohon yang baik, akarnya kokoh menghujam, cabangnya menjulang ke langit, dan memberikan hasil produktif untuk kemanusiaan.

Muhammad Kece, sesuai dengan namanya, mestinya adalah orang yang pikiran dan perkataannya memberi kabar baik dengan keteduhan sehingga para pendengar dan penontonnya hidup damai berdampingan dengan setiap pemeluk agama. Namun, mengutip sajak Shakespeare, 'apalah arti sebuah nama', ceramah Muhammad Kece justru tidak sesuai namanya, dinilai mengandung unsur penghinaan dan kebencian.

Penanganan hukum penistaan dan ujaran kebencian Muhammad Kece harus dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyelesaikan kasus-kasus serupa. Sebab, ujaran kebencian dan hasutan masih bermunculan di berbagai platform media sosial. Pelakunya mulai dari orang biasa dan juga orang yang disebut sebagai pemuka agama. Jika ini terus terjadi dan tidak ditindak tegas maka polarisasi akan semakin menguat dan mengancam kehidupan kita berbangsa dan bernegara.

Polarisasi ini masih tercermin dalam percakapan atau perbincangan di media sosial. Sentimen agama dan etnis terlihat masih terus mendominasi dan mempengaruhi cara pandang masyarakat. Ini adalah penyakit serius yang akan menggagalkan program moderasi yang sedang dilakukan pemerintah. 

Para politisi, pemuka agama dan para pemeluk agama harus berhenti memproduksi isu-isu sentimen keagamaan dan ras di ruang publik untuk kepentingan politik dan pemuas diri sebagai agama paling benar. 

Semua agama mengajarkan kebaikan untuk kemanusiaan. Bukan kebencian dan hasutan. Bangsa ini akan utuh jika setiap pemeluk agama memahami agamanya dengan baik. Sebab, hal itu akan menjadikan dirinya menjadi pribadi yang baik dengan akal dan hati yang baik, serta menghasilkan perbuatan-perbuatan baik.

 

Endang Tirtana (Peneliti Maarif Institute Jakarta)