Minggu, 18 Februari 2018

Rumah Penyuluh Kreatif, Oase Kehidupan Kaum Miskin Kota

  • Sabtu, 20 Mei 2017 10:33 WIB
Aktivitas Rumah Penyuluh Kreatif di pemukiman padat Pondok Labu. (foto: furqan)

Jakarta (Kemenag) --- Minggu (07/05) pagi itu, ada pemandangan yang berbeda di salah satu pemukiman padat daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Berbeda karena pagi itu, tidak ada anak kumal di sana. Rambut berminyak bocah lelaki tampak tersisir rapi, sementara yang perempuan berjilbab manis. Mereka berlarian mengucapkan salam kepada setiap orang yang ditemui.

Padahal, pemukiman yang dihuni kurang lebih 100 kepala keluarga pemulung itu lekat dengan kesan kumuh. Anak-anak kecil berlarian sambil membawa kardus bekas atau botol air mineral hasil memulung adalah pemandangan keseharian. Di tambah lagi dengan teriakan khas anak jalanan yang saling bersahutan.

Gambaran kesan lainnya adalah tentang wajah lelah para ayah yang pulang dengan gerobak kosong meski telah seharian mengukur jalan ibukota mencari rongsokan. Sementara para ibu menunggu cemas menggantungkan harapan tentang adanya makanan anak yang dapat mereka suapkan.

Pagi itu, pemandangannya berbeda. Wajah lelah para ayah menatap bangga anak-anak mereka yang bermain ceria. Tatapan ibu mensiratkan harapan dan doa agar buah hati mereka senantiasa bahagia.

"Assalamu’alaikum… Bapaaakkk… Ibu….," sapa bocah Atun diikuti teman-temannya berebut mencium tangan tetamu yang baru tiba.

Mereka lah orang-orang yang selama ini tulus dan sabar memberi warna kehidupan di perkampungan ini. Mereka tergabung dalam Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF). Dibantu mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mereka mengelola pembelajaran bagi kelompok pemulung.

Setiap Minggu, mereka menginisiasi dua sampai tiga kali kegiatan belajar bagi anak-anak. Semantara kaum ibu mendapat giliran pengajian sekali dalam seminggu.

Dengan sekuat tenaga, mereka berusaha memberi harapan baru pada bocah-bocah di perkampungan itu. Tatapan lelah wajah para ayah mereka coba balik agar menjadi tatapan bangga. Demikian juga wajah cemas para ibu, mereka coba warnai dengan harapan dan optimisme untuk masa depan anak-anaknya. Melalui komunitas Rumah Penyuluh Kreatif (RPK), mereka hadir seperti oase kaum miskin kota ini.

Minggu (07/05) pagi itu, memang ada pemandangan berbeda di perkampungan ini. Panggung bertuliskan Festival Pendidikan Nasional (FPN) telah berdiri di salah satu sudut pemukiman. "Jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka engkau menanggung pahitnya kebodohan", demikian kalimat yang tertulis di backdrop panggung.

Bocah-bocah berkumpul di sisi terdepan panggung. Mereka bersiap untuk bergantian unjuk kebolehan, mulai dari lantunan shalawat, tarian, serta unjuk bakat lainnya.

Pagi itu, mereka siap beraksi di hadapan ayah, ibu, dan para undangan. Tidak hanya itu, mereka juga siap tunjukan bakatnya di hadapan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Selatan, Mukhobar, dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cilandak, Khafsin.

Ah, ingatan pun melayang saat pertama kali Inmas Kanwil Kemenag DKI Jakarta masuk ke sini beberapa bulan lalu. Saat itu, Inmas Kanwil baru mendengar kalau ada RPK yang menggarap kelompok binaan baru.

RPK yang berisi penyuluh-penyuluh agama dari Kota Jakarta Selatan, dirintis oleh Dzurotun Ghola beserta teman-temannya, Izza Faizah, Ridwanullah, dan Fery Sofyana. Fokus garapan mereka adalah pendidikan bagi kelompok miskin kota. Lapak pemulung Pondok Labu, menjadi salah satu sasarannya.

Saat itu, RPK baru satu bulan melakukan program pembinaan di kampung ini. Tim RPK mengaku awalnya tidak merencanakan untuk melakukan pembinaan di komunitas kampung pemulung.

"Tadinya kami tidak tahu ada perkampungan pemulung di sini. Saat itu, kami sedang mencari majelis taklim perkampungan yang membutuhkan pembinaan. Lha kok salah jalan, malah masuk di kampung ini. Lho malah di sini yang membutuhkan kita sebenarnya," cerita Ghola saat itu.

Masuk pemukiman ini, tim RPK menjumpai fakta banyak anak-anak usia sekolah yang tidak bersekolah. "Ada anak umur 15 - 16 tahun, saya tanya belum sekolah, belum bisa baca," tutur Ridwan.

Saat itu, Inmas Kanwil Kemenag DKI Jakarta menemui Ridwan ketika bersama beberapa mahasiswa relawan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah sedang membimbing anak-anak belajar. Ruang belajar itu berupa bilik kecil berdinding triplek-triplek bekas dan berlantai tanah.

Tinggi ruangan diperkirakan kurang dari 2 meter sehingga perlu menunduk saat akan masuk. Luas ruangannya pun hanya sekitar 1,5 x 2m.

Dengan 5 orang pengajar dan 15 peserta didik, terbayang suasana pengap dan panas ruangan. Namun, itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar.

Bilik itu disediakan secara suka rela oleh Rubiyo, salah satu kepala pengepul di kampung itu. "Kami berterimakasih ada yang memperhatikan kami, memperhatikan anak-anak kami," kata Rubiyo dengan mata berkaca-kaca. Dia mengaku melihat harapan yang besar dari masyarakat perkampungannya akan kehadiran RPK.

"Sejak kedatangan ibu-ibu penyuluh, anak-anak jadi semangat. Ibu-ibu di sini juga gak malu belajar ngaji," cerita istri Rubiyo, yang biasa dipanggil Bude.

Sementara anak-anak belajar, tim RPK lainnya membina ibu-ibu belajar mengaji. Fery Sofyana misalnya, dengab sabar mengajar mereka membaca IQRA. Aktivitas itu tak lupa disisipkan dengan pemberian nasihat seputar pentingnya pendidikan, terutama bagi anak.

"Anak ibu harus sekolah, harus pinter…," tegas Fery dalam tausiyahnya saat itu. Fery mengajak kaum ibu untuk lebih berdaya, dan itu bisa dimulai dengan memperhatikan pendidikan.

Sementara kepada anak-anak yang sama sekali belum bersekolah, RPK memberikan treatment khusus. “Kami berupaya membentuk generasi muslim yang berkarakter Islami agar menjadi insan-insan tangguh dan tak lagi menjadi pemulung ataupun mengemis,” jelas Gholla, lulusan magister psikologi UIN Jakarta.

Kegiatan mingguan yang telah disusun tim RPK mendapat sambutan hangat dari penghuni kampung pemulung. "Alhamdulillah ada ibu yang dateng ngajarin baca, jadi anak-anak gak buta huruf… jangan sampai mereka nasibnya gini-gini aja," tutur Ruhyati, pemulung asal Cilacap yang memiliki 4 orang anak, sambil menyeka matanya yang basah karena air mata.

Kehadiran para penyuluh agama yang tergabung dalam RPK ini telah memberi warna baru di perkampungan pemulung. Setidaknya, setiap Minggu ada pemandangan yang berbeda di kampung pemulung Pondok Labu. Anak-anak tampak riang menyenandungkan shalawat dan menampilkan tarian tradisional.

Catatan ini hanyalah usaha kecil untuk memotret perjuangan besar para penyuluh agama. Mereka hadir di tengah umat untuk terus membina dan bekerja dalam senyap.

PAIF berkomitmen untuk terus melakukan rencana pengembangan komunitas, demi memberi harapan baru bagi kaum miskin kota, yang seringkali tak terlihat dalam pandangan mata. RPK ini hanya salah satu garapan mereka. Di belahan tempat lainnya, mereka juga membina panti wredha.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Mari bangkit dengan berbuat!!! (ilm/mkd/mkd)

Sumber : -
Penulis : Khoiron
Editor : Khoiron
Dibaca : 2.560 kali