Minggu, 24 Juni 2018

Lewat Tari, Kontingen Kalteng Kobarkan Kebinekaan di Ustawa Dharma Gita

  • Rabu, 12 Juli 2017 19:28 WIB
Kontingen Kalteng suguhkan tarian suku Dayak

Palembang (Kemenag) --- Bunyi gong nyaring tiba-tiba terdengar di ruang penutupan Utsawa Dharma Gita (UDG) ke XIII di Main Dining Hall Wisma Atlet Jakabaring Sport Centre, Palembang, Minggu (09/07) malam.

Dari sisi panggung sebelah kanan dan kiri, ke luar tiga penari mengenakan busana adat Suku Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng). Tampilan mereka lengkap dengan aksesori bulu burung Tingang yang diikat di kepala dan Mandau, senjata khas Suku Dayak, di tangan kanan.

Tanpa alas kaki, ketiga penari itu lincah bergerak melambaikan tangan, memutar jemarinya yang lentik serta menggoyakan tubuhnya mengikuti irama Gandang, alat musik suku Dayak Kalteng.

Seorang penari pria di barisan tengah mengayunkan Mandau ke depan. Dengan tatap mata yang tajam, tiba-tiba ia meloncat dan teriak "huui" dengan nyaring. Sementara dua penari putri terus menggerakan tangan dan badanya seraya menggigit Mandau. 

Tepuk tangan riuh rendah langsung menggema di seisi gedung. Beberapa hadirin terlihat bersorak-sorai menyaksikan keindahan tarian suku Dayak yang disuguhkan kontingen berjuluk Bumi Tambun Bungai di Festival Nyanyian Suci Keagamaan Hindu tahun 2017 itu.

Tokoh Dayak Kalteng, Lewis KDR yang hadir di acara penutupan mengatakan, tarian yang disajikan ketiga remaja Kalteng itu berjudul Hampenyang Mandau Ampang. Tarian khas Dayak Kalteng itu menggambarkan bahwa masyarakat yang hidup di era modern saat ini bagikan berenang di samudra perbedaan.

"Persamaan dan perbedaan adalah kodrat dari Tuhan dan bukan hal yang negatif, jika manusia bisa memberikan proporsi dengan akal budi yang sehat," ucap Lewis di venue penutupan.

Menurutnya,  tarian bertema "Kekuatan Spiritual dan Isen Mulang (pantang menyerah red) dalam Menghadapi Perkembangan Jaman" ini sengaja disuguhkan untuk memotivasi peserta UDG Nasional dan masyarakat Indonesia agar terus berani membela kebenaran secara ritual dan spiritual dalam menjaga alam dan melestarikan budaya di tengah keberagaman suku, agama dan bahasa agar tetap kokoh dalam ikatan falsafah Bhineka Tunggal Ika.

"Bangsa kita, akhir-akhir ini diguncang isu-isu intoleran yang bisa memecah-belah dan mengerogoti persatuan dan kesatuan kita. Karena itu, sebagai bagian anak bangsa, putra-putri Kalteng di kotingen Ustawa ini ingin mengobarkan semangat menjaga kebinekaan agar bangsa ini tetap kokoh di tengah keragaman," ucap Lewis.

Sementara Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Kalteng, Sisto Hartati mengaku bangga di setiap ajang Utaswa Dharma Gita, putra-putri Kalteng diminta untuk tampil menyuguhkan tarian khas daerah untuk memeriahkan kegiatan baik saat pembukaan maupun penutupan. Selain itu, kontingennya juga selalu diminta tampil membacakan kitab Panaturan, kitab suci agama Hindu Kaharingan Kalimantan.

Utsawa Dharma Gita XIII ditutup oleh Dirjen Bimas Hindu I Ketut Widnya. Tampil sebagai juara umum kontingan dari Provinsi Bali. (rf)

Sumber : -
Penulis : Kontri
Editor : Khoiron
Dibaca : 1.808 kali