Jum'at, 25 Mei 2018

Rekruitmen CPNS Kemenag Bebas Kolusi dan Nepotisme

  • Minggu, 05 November 2017 19:06 WIB

Jakarta (Kemenag) --- Kementerian Agama pada tahun ini membuka seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Total ada 1000 formasi yang tersebar pada 31 Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). Proses pendaftaran sudah berlangsung sampai 25 September, sedang  tahap Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dilakukan pada 23 Oktober 2017. 

Sekjen Kemenag Nur Syam memastikan proses rekrutmen CPNS Kemenag ini bebas dari kolusi dan nepotisme. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh pengembangan system Computer Asested Test (CAT) yang dilakukan oleh Kemenpan dan RB.

“Akan sangat kecil bahkan tidak ada kemungkinan untuk mencederai terhadap penilaian obyektif yang dilakukan dengan sistem CAT. Di Kemenag dipastikan bahwa penyimpangan seperti ini tidak akan terjadi, sebab sistem rangking yang dibuat dan sesuai dengan CAT sudah menutup kemungkinan tersebut,” terang Nur Syam di Jakarta, Minggu (05/11).

“Saya berani menyatakan bahwa proses rekruitmen CPNS pada Kemenag sesuai prosedur dan kebutuhan yang telah ditetapkan. Transparansi di dalam penerimaan CPNS sudah sedemikian telanjang,” tandasnya.

Menurut Nur Syam, keyakinannya ini didasarkan pada sejumlah alasan. Pertama,  Kemenpan&RB sudah menetapkan prosedur baku atau Standart Operating Procedure (SOP) yang harus dilakukan  semua instansi pemerintah dalam penerimaan CPNS.  Tidak ada satu instansi pemerintah pun yang memiliki sistem sendiri terkait dengan hal ini.

Kedua, sistem yang dikembangkan Kemenpan&RB menerapkan pengawasan berlapis. Hal ini diawali dari  seleksi administrasi. “Di dalam seleksi administrasi, maka kelengkapan persyaratan tentu menjadi ukurannya,” ujarnya. 

Jika ada satu persyaratan yang tidak lengkap, maka peserta tersebut akan  digugurkan oleh sistem. Nur Syam mencontohkan  tentang kesamaan ijazah dengan bidang lamaran yang dipilih. Jika ada seseorang yang melamar dosen Pendidikan Agama Islam, lalu ijazahnya adalah Pendidikan Islam, maka sistem akan menolaknya. 

“Begitulah ketatnya persyaratan administrasi dimaksud. Di Kemenag dari yang melamar sebanyak 12.848 Orang, maka yang lulus seleksi administrasi sebanyak 9.587 orang,” katanya.

Hal sama berlaku pada tahap SKD yang sepenuhnya menjadi  kewenangan Kemenpan&RB. Tidak ada sedikitpun kewenangan kementerian/lembaga untuk mencampuri kelulusan tahapan ini. Di Kemenpan-RB telah digunakan sebuah alat ukur yang sangat akurat, yang disebut sebagai Computer Assested Test (CAT). Melalui system ini, maka nilai akan bisa diketahui secara langsung oleh para peserta seleksi.

“Begitu usai ujian atau test, maka bisa diketahui berapa score-nya dan berapa peringkatnya. Jadi tidak ada lagi cara untuk mengatrol nilai, mengubah nilai dan menambah nilai untuk peserta CAT. Sangat transparan,” tuturnya. 

Dengan cara ini, kata Nur Syam, maka daftar rangking yang memenuhi dan tidak memenuhi passing grade sudah diketahui sedari awal. Bahkan passing grade itu berlaku untuk-masing-masing session. Bisa jadi, ada session yang nilainya sangat tinggi dan ada yang kurang memenuhi passing grade. Meskipun secara akumulatif nilai yang bersangkutan memenuhi jumlah total pasingg grade, namun tetap dinyatakan tidak lulus. 

“Artinya, seluruh session harus memenuhi passing grade dimaksud. Di sinilah kekuatan dan keakuratan CAT di dalam kerangka memberikan penilaian tersebut. Sama sekali tidak ada campur tangan manusia tentang kelulusan pada tahapan ini,” tandasnya.

Session tersebut meliputi Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Inteligensi Umum (TIU), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Nilai peserta pada tiga jenis tes ini harus berada di atas passing grade agar bisa dinyatakan sebagai lulus passing grade. 

Namun demikian, tidak semua yang lulus passing grade mesti lulus pada tahap berikutnya, sebab tergantung pada berapa kebutuhan CPNS pada jenis pekerjaan atau banyaknya dosen program studi yang dibutuhkan.  Jika yang dibutuhkan hanya satu orang dosen misalnya, maka yang dinyatakan lulus CAT hanya  tiga rangking tertinggi saja untuk mengikuti tahap Tes Kemampuan Bidang (TKB). Peserta rangking empat dan seterusnya dinyatakan tidak lulus meskipun memenuhi passing grade.

“Dengan sistem seperti ini, menjadi aneh jika ada yang lulus pada tahap berikutnya sementara nilainya berada di bawah rangking tertinggi yang dibutuhkan.  Jika ada yang melakukannya, maka dapat dipastikan bahwa akan menuai tuntutan yang luar biasa sebab nilai tersebut diketahui oleh lainnya,” tandasnya. (NS)

Sumber : -
Penulis : Kontri
Editor : Khoiron
Dibaca : 8.506 kali