Jum'at, 25 Mei 2018

Menag Diskusi Soal Kehidupan Keagamaan di Keio University Jepang

  • Selasa, 14 November 2017 20:11 WIB

Tokyo (Kemenag) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berdiskusi soal kehidupan keagaman dengan mahasiswa dan Dekan Fakultas Manajemen Kebijakan Prof Takeshi Kawazoe  Keio University. Menag menyampaikan bahwa penduduk Indonesia tidak kurang dari 250 juta orang. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia kental dengan ajaran agama. 

“Indonesia memandang agama sebagai hal yang penting dan dasar-dasar kehidupan. Orang Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai agama,” katanya di Tokyo, Senin (13/11).

Menurut Menag, ada enam agama yang dipeluk mayoritas penduduk Indonesia, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Pemeluk agama Islam paling dominan, meliputi 87%. Meski demikian tidak lantas menjadikan Indonesia negara Islam. Selain itu penduduk yang memeluk agama di luar yang enam itu tetap diberi kebebasan dan pelayanan ibadah. 

“Nah Kementerian Agama bertugas memastikan kehidupan umat beragama semakin baik dan dapat hidup rukun dalam keragaman,” ujarnya.

Menag menambahkan, agama bisa dilihat dari dua sisi, luar dan dalam. Pada sisi luar agama, terdapat banyak keragaman, baik mazhab, paham, maupun aliran. Sementara sisi dalam agama berupa substansi yang bersifat universal dan menjadi titik temu agama-agama. Substansi itu misalnya berupa nilai kejujuran, keadilan, kesamaan hak, larangan mencuri, dan larangan membunuh.

“Dalam kemajuan teknologi informasi di mana hubungan antar negara, budaya, dan peradaban semakin tidak terbatas, seharusnya agama lebih dilihat pada sisi dalamnya agar ditemukan banyak kesamaan dalam keragaman,” tuturnya.

Setelah memaparkan kondisi kehidupan umat beragama di Indonesia, Menag menyimak presentasi dari mahasiswa Universitas Keio yang belajar tentang Indonesia. Keio adalah salah satu perguruan tinggi swasta terbesar dan tertua di Jepang. Selain manajemen ekonomi, fakultas yang dipimpinnya juga menyelenggarakan studi keislaman, termasuk memperdalam makanan halal.

Di fakultas ini ada juga program studi Bahasa Indonesia. Menurut Takeshi, komunitas muslim di kampus ini mendapatkan fasilitas layanan ibadah, ada mushalla yang bisa digunakan untuk keperluan ibadah dan mengkaji Islam.

Mereka juga mendapatkan bimbingan terkait produk makanan halal di Jepang. Dengan demikian, mereka tak kesulitan mendapatkan makanan halal di kampus maupun di tempat lain. 

Kepada Menag, Takeshi mengaku bangga dengan Indonesia yang memiliki prinsip dasar Ketuhanan sebagaimana tertuang dalam sila pertama Pancasila. Sebetulnya, kata dia, orang Jepang juga meyakini adanya sebuah kekuatan maha dahsyat dengan sebutan Tuhan, tetapi mereka tidak mendefinisikan bagaimana Tuhan itu.

Ikut mendampingi Menag, Kepala Balitbang-Diklat Abd Rahman Mas’ud dan Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan. (Thobib)

Sumber : Balitbang-Diklat
Penulis : Kontri
Editor : Khoiron
Dibaca : 211 kali