Jum'at, 25 Mei 2018

Berkunjung ke Cina, Sekjen Diskusikan Masalah Rohaniawan Buddha

  • Selasa, 21 November 2017 20:02 WIB
Sekjen Kemenag Nur Syam berkunjung ke KJRI di Guangzhou Cina diskusikan masalah rohaniawan Buddha. (foto: Zemi)

Guangzhou (Kemenag) --- Sekjen Kemenag Nur Syam melakukan kunjungan kerja ke Negeri Tirai Bambu, Cina. Salah satu agendanya adalah berkunjung ke Konjen RI di Guangzhou, Cina, untuk mendiskusikan masalah rohaniawan Buddha. 

Ikut mendampingi Sekjen, Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha Supriyadi, dan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Ferry Meldy.  

Jumat (17/11), Sekjen bersama rombongan diterima pejabat KJRI,  Wicaksono dan Taufiq. Supriyadi menyampaikan bahwa salah satu masalah yang saat ini sedang dihadapi Ditjen Bimas Buddha adalah terkait banyaknya para bhiksu palsu yang datang ke Indonesia. 

Menurut Supriyadi, mereka datang dengan menggunakan jubah bhiksu padahal sesungguhnya bukan. Mereka sengaja datang ke Indonesia lalu mengaku sebagai bhiksu untuk mencari uang. Mereka sekarng bahkan terorganisir,  datang secara bersamaan lalu menyebar di seluruh wilayah di Indonesia. 

Supriyadi menambahkan bahwa mereka umumnya datang dengan visa on arrival. Bepergian dengan pakaian biasa sebagaimana turis umumnya, lalu berganti jubah bhiksu setelah sampai di bandara. Selanjutnya, mereka datang ke vihara atau umat Buddha, meminta sedekah untuk kehidupannya selama di Indonesia.

“Pernah ada yang kita tangkap lalu kita serahkan ke Kepolisian untuk diusut, lalu dideportasi kembali ke Cina. Namun demikian karena jumlahnya banyak tentu menjadi problem kami yang tidak mudah diselesaikan. Itulah yang kami mintakan kepada KJRI untuk bisa membantu kami di dalam menanggulangi pemalsuan Bhiksu di Indonesia,” jelas Supriyadi.

Wicaksono menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan sharing  informasi terkait bhiksu palsu yang datang ke Indonesia. Dia mengaku kalau dewasa ini sulit melakukan pengawasan kepada warga Cina yang datang ke Indonesia, terutama sejak pemerintahnya membuka pintu bagi warganya berkunjung ke negara lain  dengan visa on arrival. Menurut Wicak, Pemerintah Indonesia juga memberlakukan hal sama dengan dalih untuk meningkatkan kunjungan wisata. 

Akan hal ini, Wicak meminta Sekjen Kemenag untuk berkirim surat penjelasan resmi sekaligus meminta KJRI terlibat dalam mengawasi para bhiksu palsu yang akan datang ke Indonesia. KJRI akan bekerja sama dengan imigrasi Cina untuk mencoba memberikan pengawasan yang lebih ketat kepada para pengunjung atau wisatawan yang akan pergi ke Indonesia, terutama yang berpotensi menjadi bhiksu.

Sekjen Kemenag Nur Syam mengaku hal ini tidak mudah untuk dilakukan, tetapi harus diupayakan. Salah satu yang harus dilakukan, kata Nur Syam adalah pengawasan ketat oleh para pimpinan vihara di Indonesia. 

“Jika ada yang datang ke viharanya, maka agar segera berkoordinasi dengan para pembimas di Kanwil atau para penyuluh agama agar segera memperoleh penanganan yang memadai,” tuturnya.

“Masyarakat Buddha harus melakukan kewaspadaan, jangan setiap orang yang memakai jubah kebesaran para bhiksu lalu dianggap sebagai bhiksu,” sambungnya. (NS)

Sumber : Bimas Buddha
Penulis : Kontri
Editor : Khoiron
Dibaca : 479 kali