Senin, 28 Mei 2018

Kunjungi Lapak Pemulung, Trisna Willy: Semua Anak Harus Bisa Membaca

  • Rabu, 06 Desember 2017 13:22 WIB
Trisna Willy Lukman bersama DWP Kemenag RI mengunjungi lapak pemulung binaan RPK di Jakarta Selatan, Selasa (05/12). (foto: InmasDKI)

Jakarta (Kemenag) --- Selasa (05/12) terik  matahari Jakarta terasa menyengat kulit. Waktu menunjukkan pukul 11.23 WIB ketika mobil yang membawa rombongan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama berhenti di pinggir jalan daerah Pondok Labu Jakarta Selatan.

Satu per satu pengurus DWP Kemenag dan DWP Kanwil Kemenag DKI Jakarta turun dari mobil. Seketika, sejuknya udara yang berhembus dari air conditioner (AC) mobil pun digantikan panasnya udara, ditambah kepulan asap dan debu pembangunan jalan.

Hari itu, DWP Kemenag RI akan mengadakan kunjungan ke lapak pemulung yang berada tepat di bawah jalan Tol Desari (Depok – Antasari) Jakarta Selatan.  Di perkampungan ini, para penyuluh agama fungsional Kemenag yang tergabung dalam Rumah Penyuluh Kreatif (RPK) memberikan bimbingan dan penyuluhan dengan bahasa agama bagi ratusan warga yang bermukim.

“Wah, di sini ya ternyata perkampungan pemulung tempat penyuluh agama mengajar itu?,” ujar Pembina DWP Kemenag Trisna Willy Lukman Hakim Saifuddin. Trisna Willy mengaku mengetahui keberadaan RPK karena membaca tulisan Rumah Penyuluh Kreatif, Oase Kehidupan Kaum Miskin Kota. Trisna Willy tertarik dengan kisah perjuangan para penyuluh agama yang menurut beliau banyak bekerja dalam senyap.

“Sekali-sekali perlu tahu bagaimana perjuangan penyuluh agama,” ujar Willy, begitu ia biasa disapa, sambil  menyusuri jalan setapak menuju kampung pemulung. Tampak kardus bekas, botol plastik bekas, dan barang rongsokan lainnya menumpuk. Rumah-rumah di sana berdinding triplek bekas dan beratap seng.

Trisna Willy beserta rombongan  menyusuri  perkampungan pemulung Pondok Labu, Jakarta Selatan

Tiba di lokasi, Willy memperhatikan anak-anak pemulung yang sedang mengaji dengan salah satu Penyuluh Agama Fungsional, Dzurotun Ghola.  Mereka duduk melingkar dengan alas terpal tipis yang digelar di atas tanah yang sebenarny adalah tumpukan puing-puing bangunan. Untuk mengurangi terik panas, tampak selembar kain dibentangkan di atas tempat mereka duduk.

Beberapa buku Iqra, tampak dipakai bergantian antara anak yang satu dengan lainnya. “Di sini tidak sama semua kemampuan bacanya. Ada yang sudah Iqra 6, sudah bisa baca Quran, tapi juga ada yang masih Iqra 1 dan 2. Tapi karena keterbatasan  SDM, jadi ya semua saya yang mengajar Bu,” cerita Ghola kepada rombongan DWP.

Keterbatasan tempat  yang mereka miliki ternyata tak menyurutkan anak-anak ini untuk belajar. Willy tampak kagum dengang semangat yang mereka miliki. “Hayo, ngajinya sudah Iqra berapa? Ibu mau tahu dong sudah ada yang bisa baca Quran belum?,” tanya Willy kepada mereka.

Tanpa ragu, salah satu anak pemulung, Trisna, menunjukkan kecakapannya membaca Al-Quran. “Wah, sudah bagus ya bacaannya. Namanya juga sama dengan saya niy,” ujar Willy sambil tertawa usai menyimak bacaan Iqra 6 halaman terakhir yang dibacakan Trisna. Selanjutnya, ia pun menyimak bacaan bocah lelaki yang belum genap berusia 7 tahun. Bayu, bocah tersebut, dengan lancar membaca tulisan arab yang ada di jilid 2 Buku Iqra.

Hampir satu tahun ini Ghola beserta rekan yang tergabung di RPK telah menjadikan kampung pemulung ini menjadi tempat binaan. Tak hanya mengajar mengaji, Ghola dan rekan-rekan berusaha mengubah mindset warga di lapak pemulung ini untuk lebih memiliki kepedulian terhadap pendidikan. “Awal saya masuk sini, banyak dari anak-anak ini yang berkeliaran untuk mengemis bunda. Alhamdulillah sekarang mereka tidak mengemis lagi,” lanjut Ghola.  

Nisa, salah satu anak binaan RPK pun menyetujuinya, “Sekarang malu kalau ngemis bu..,” ujarnya sambil tersipu. Tak main-main, RPK pun menyusun program agar anak-anak ini memiliki masa depan yang lebih baik. Beberapa anak yang putus sekolah, diikutkan  Kejar Paket A, B, atau C. “Biayanya, ya kami cari-cari sendiri Bu. Sumbangan dari donatur, selain untuk perbaikan kelas juga kami alokasikan untuk membiayai kejar paket tersebut,” kata alumnus UIN Jakarta ini.

 RPK pun menggandeng beberapa mahasiswa dari universitas Islam, antara lain: Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Universitas At –Thahiriyah, dan Universitas Asy Syafiiyah. Mereka memberikan pembelajaran baca tulis, berhitung dan pelajaran umum lainnya. “Ini agar anak-anak bisa lebih mudah mengikuti ujian kejar paket,” lanjut Ghola.

Kepada anak-anak pemulung, Willy berpesan agar mereka tidak pantang menyerah dalam menuntut ilmu. “Meskipun misalnya gak sekolah, tetap harus belajar. Semuanya harus bisa membaca. Yang sudah bisa, ajarin yang belum bisa. Karena dengan membaca, kita gak dibohongi sama orang. Harus terus mencari ilmu,” pesan Willy.

Di samping itu, Willy pun berpesan agar  mereka tidak mengemis. “Gak boleh ngemis, bekerja saja apa yang bisa dengan tenaga kita. Tapi jangan meminta-minta, karena itu tidak mulia,” ujar Willy yang juga pernah berprofesi sebagai guru.

Di sudut lain pemukiman, Willy dan rombongan juga menyaksikan ibu-ibu pemulung yang sedang melaksanakan taklim dipandu penyuluh agama lainnya, Ferry. Bersama Ferry, para ibu belajar ilmu agama. “Kami ajarkan tata cara ibadah, mulai dari solat, baca Quran, dan lain sebagainya,” cerita Ferry.

Kunjungan Willy dan rombongan yang tak disangka-sangka tersebut, membuat warga amat antusias. “Kirain tadi bohongan pas dibilang yang dateng Ibu Menteri, apa iya? Puluhan tahun tinggal di sini, belon pernah ada menteri ke sini. Eh ternyata beneran istri nya menteri agama yang ke sini ya,” ujar Kartini yang telah tinggal di perkampungan tersebut lebih dari 20 tahun.

Perempuan berusia 53 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung tersebut makin terlihat bahagia saat tahu rombongan DWP juga membawakan Al-Quran,  Buku Iqra dan Buku Yasin bagi warga. “Alhamdulillah... semoga tambah barokah, semoga Pak Menteri Agama bisa cepet naik haji,” ujar Kartini polos. Celetukan polos Kartini ini diikuti derai tawa semua yang hadir.

“Mungkin ibu-ibu hari ini harusnya ada yang mulung, jadi tertunda karena saya tiba-tiba ke sini, mohon maaf.  Jadi memang ini dadakan karena tidak direncanakan,” ujar Willy yang mengaku senang bisa bersilaturahim dengan warga kampung pemulung. Pada kesempatan tatap muka tersebut, Willy dan pengurus DWP Kemenag RI juga mendengarkan keluh kesah para ibu pemulung tersebut.

Willy pun tak lupa mengingatkan para ibu pemulung akan pentingya pendidikan. “Kita sebagai orang tua kewajibannya adalah memberikan pendidikan, kemampuan baca tulis, dan lain-lain. Masa depan anak-anak kita harus punya modal itu,” pesan Willy.

Untuk itu, Willy menuturkan bahwa DWP Kemenag siap memberikan dukungan untuk bersama memajukan pendidikan anak-anak kampung pemulung. “Hari ini kami baru bawa Al-Quran dan Iqra. Nanti, kami tampung kebutuhan apa lagi yang dibutuhkan RPK. Kalau tujuannya untuk pendidikan, tentu akan kami usahakan,” jelas Willy.

Willy berharap ibu-ibu pemulung juga mau bekerja sama untuk memperbaiki masa depan anak-anak mereka. Salah satunya, dengan tidak menyuruh anak-anak untuk mengemis.

“Saya bilang ke anak-anak kalau tugas mereka adalah belajar.  Kalau ibu-ibu merasa, ‘saya aja gak bisa baca tulis..’ ya sudah belajar bareng di RPK. Gak apa yang penting belajar. Tapi kalau anak-anak, harus, wajib  bisa baca, harus bisa ngaji, harus bisa berhitung. Harus di dorong untuk punya pendidikan,” tegas Willy.

Menurut Willy, di sini lah peran ibu dibutuhkan. Ibu-ibu pemulung binaan RPK ini memiliki peluang untuk mengubah masa depan anak-anak. Willy berharap, dengan terus mengikuti taklim yang dikelola para penyuluh agama, ibu-ibu pemulung ini makin terbuka wawasannya sehingga mulai melakukan perubahan-perubahan dalam kehidupan. “Jadi, ini bagus sekali sudah ada yang berubah. Saya dengar ibu-ibu banyak yang tidak mengemis lagi, ada yang jadi pembantu rumah tangga. Kita harus yakin bahwa setiap orang itu sudah ada rejekinya,” ungkap Willy memberi semangat.

Willy berterimakasih kepada penyuluh agama yang telah mendedikasikan dirinya demi perbaikan kualitas umat. Menurut Willy, apa yang dilakukan Ghola dan Ferry tentunya membutuhkan keikhlasan dan kesabaran yang luar biasa. Untuk itu Willy berharap Ghola dan Ferry tetap istiqamah dan dapat menularkan hal baik ini kepada penyuluh agama lainnya.

Menutup kunjungan, Willy dan rombongan menyerahkan bantuan berupa Al-Quran, Buku Iqra, Buku Yasin, buku tulis dan alat tulis. “Alhamdulillah dengan kehadiran ibu-ibu dharma wanita menjadi penyemangat bagi kami, sekaligus support yang sangat berarti bagi RPK dan warga kampung pemulung ini,” ujar Ghola.

 

 

  

 

Sumber : -
Penulis : Indah Limy
Editor : Khoiron
Dibaca : 700 kali