Kamis, 18 Oktober 2018

Menag Hadiri Gita Jayanti Nasional 2017

  • Minggu, 17 Desember 2017 17:28 WIB

Jakarta (Kemenag) - Setiap tahun umat Hindu merayakan acara Gita Jayanti Nasional 2017. Peringatan perayaan hari disabdakannya Bhagawad Gita oleh Krishna atau Gita Jayanti, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin hadir di acara yang mengusung tema “ Berbangsa dalam persaudaraan dan Bersaudara dalam kebangsaan,” di Gedung Sapta Pesona Kementerian Parisiwata, Jakarta, Minggu (17/12).

Menag mengatakan, acara Gita Jayanti Nasional ini menjadi wahana untuk mengekspresikan cita rasa seni, budaya dan religiusitas, juga sekaligus sebagai media merevitalisasi nilai-nilai luhur agama Hindu.

Menurutnya, umat Hindu menunjukkan semangatnya yang besar untuk terus memelihara dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kitab suci Bhagawad Gita agar tidak mudah pudar dari dampak negatif modernisasi.

“Acara ini tidak saja penting,tetapi juga dibutuhkan untuk memberi ruang besar kepada seluruh umat Hindu , agar terus dapat berkontribusi dengan menjadikan Bhagawad Gita sebagai pedoman praktis dalam kehidupan,” kata Menag.

Menag menyebutkan adanya tuntunan etika, moralitas dan filosofis dari ajaran Bhagawad Gita perlu terus digaungkan kembali, demi terwujudnya kehidupan yang bercita rasa seni, berbudaya, beradab, dan religius serta terwujudnya kebahagian lahir dan batin atau Moksartam Jagat Hita.

Pelaksanaan Gita Jayanti Nasional ini kembali dikatakan Menag, sejalan dengan isi pokok Bhagawad Gita ,yang tidak hanya bersifat filosofis dan rasional tetapi juga menjadikan etika sebagai aspek yang fundamental dalam menjalani kehidupan.

“Bhagawad Gita bahkan telah menjadi teologi pembebasan bagi banyak tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela hingga lr. Soekarno,” ujar Menag disambut meriah peserta.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengapresiasi penyelanggara yang bisa memahami konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Acara Gita Jayanti Nasional yang kali ini mengusung tema sentral “Berbangsa dalam Persaudaraan dan Bersaudara dalam Kebangsaan” menurut Menag adalah sumbangsih nyata umat Hindu dalam memperkuat kekayaan bangsa melalui keberagaman agama, seni dan budaya. Keanekaan yang begitu subur tumbuh di atas bumi pertiwi adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya.

“Di sisi lain, acara ini juga sangat bermakna untuk menenun kembali kerukunan, kebersamaan dan rasa persaudaraan tanpa batas melalui konsep Tat Twam Asi, Tri Hita Karana, maupun Wasudewa Kutum Bakam,” ujarnya.

“Semoga tema acara ini makin membuat kita optimis untuk berbangsa dalam persaudaraan dan bersaudara dalam kebangsaan,” tambah Menag

Menag berharap, makna acara ini tidak berhenti untuk memperkokoh persatuan intern umat Hindu, namun juga diwujudnyatakan untuk membangun sikap hidup dengan saling menghargai dan menghormati yang ujungnya bermuara dengan terpeliharanya kerukunan dengan-saudara-saudara umat beragama lainnya.

“Terlebih keberagaman dan toleransi kita sedang dan terus diuji oleh banyak kejadian baik yang terjadi di daerah maupun berskala nasional. Meskipun Indonesia sangat majemuk dengan berhiaskan suku, agama, adat istiadat dan budaya yang beranekaragam, namun sebagai satu bangsa yang berbingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucapnya.

“Nilai luhur dengan memiliki umat Hindu akan terus yang sebagai satu nilai sekalian pilar kedalam rupa termasuk bagaimana kita berdampingan berbeda iman sekalipun,” kata Menag.

Menutup sambutanya, Menag berharap untuk menutup tahun 2017 dengan damai. Ia juga meminta menumbuhkan optimis untuk tahun 2018, dengan peningkatan kualitas seni dan budaya Hindu yang berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga, peningkatan persaudaraan dalam kehidupan berbangsa, dengan menempatkan nilai keberagaman sebagai pengikat persatuan dan kesatuan.

Tampak hadir Perwakilan Dharma Adyaksa Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Guru Kerohanian Umat Hindu, serta ratusan umat Hindu dari berbagai daerah. Hadir mendampingi Menag, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag RI I Ketut Widnya.

Sumber : kontri
Penulis : dodo
Editor : dodo
Dibaca : 1.023 kali