Minggu, 21 Oktober 2018

Malam Tasyakuran HAB 72, Menag Bicara tentang Wajah Agama, Budaya, dan Politik

  • Kamis, 11 Januari 2018 21:21 WIB
Menag Lukman beri sambutan pada Malam Tasyakuran HAB 72 bersama KiaiKanjeng. (foto: furqan)

Jakarta (Kemenag) --- Kementerian Agama menggelar Malam Tasyakuran Hari Amal Bhakti (HAB) ke-72. Hadir dalam kesempatan ini keluarga besar Kementerian Agama bersama Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan KiaiKanjeng. Hadir juga para pimpinan tokoh lintas agama di Indonesia, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. 

Di hadapan jajarannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berbicara tentang Wajah Agama, Budaya, dan Politik. Menag menilai, Malam Tasyakuran ini menjadi kesempatan langka dan kali pertama HAB diperingati dengan duduk bersama lesehan di Halaman kantor Kementerian Agama.

“Alhamdulilah, di bawah senyum wajah rembulan yang mesti  tak lagi purnama, kita dapat ber-muwajjahah (bertemu muka) dalam suasana kebersamaan yang cerah bahagia. Di sini hadir wajah-wajah dari berbagai pemeluk agama, berkumpul dalam satu Kenduri Cinta,” tutur Menag di Jakarta, Kamis (11/01).

Kenapa bicara wajah? Menag mengatakan bahwa wajah adalah tampilan paling menonjol yang mewakili seluruh tubuh dan identitas manusia. Wajahlah yang membedakan satu sama lain di antara semua manusia. Makanya, smartphone tercanggih pun kini menggunakan Face Id atau teknologi pengenal wajah bagi pemiliknya yang juga berfungsi bagi kaum difabel. 

“Saya barangkali tak mengenal satu per satu semua yang hadir di sini karena begitu beragamnya wajah. Namun, saya berharap kita dapat menyatukan tampilan kita semua dalam wajah manusia Indonesia yang bahagia,” tegas Menag. 

Maksud Menag, wajah manusia Indonesia yang bernafas dengan nilai-nilai agama, yang urat nadinya mengalir darah cinta tanah air merdeka, serta jiwanya berisi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Bukan wajah kepahitan yang hidungnya menghirup bangkai fitnah, yang matanya menyorot penuh curiga, dan mulutnya bau nyinyir menumpahkan cela yang nista. 

Menurut Menag, sesungguhnya hakikat agama tercermin dalam wajah manusia. Bagaimana cara seseorang memaknai dan mengamalkan ajaran agama, hal itu terlihat pada ekspresi wajah. Ketika wajahnya penuh amarah, maka si pemilik wajah boleh jadi cuma mengenal agama sebagai kekerasan. Ketika pucat pasi wajahnya, maka dia mungkin kusut dan ruwet dalam beragama. 

“Ketika wajahmu tersenyum padaku, maka di situ agama telah mendamaikan kalbu,” ucapnya.

Jadi, lanjut Menag, kalau agama ditempatkan dalam hati, maka seluruh tubuh akan saling berkomunikasi dan bersinergi untuk kemudian mengalirkan energi yang membentuk senyum di wajah. Senyum itu akan memantul ke wajah sekitarnya sehingga jadilah wajah-wajah yang diliputi senyum. “Itulah sebabnya, dalam agama kita ingat ungkapan: senyum adalah ibadah,” tegasnya. 

Meskipun sederhana, kata Menag, jangan anggap senyum itu mudah. Agar bisa tersenyum, seseorang perlu berdamai dengan diri sendiri dan menyingkirkan energi-energi negatif yang menjejali hati dan pikirannya. 

“Senyum itu penanda kebahagiaan. Di situlah agama hadir dengan esensinya: kebaikan, kedamaian, dan cinta. Karenanya, orang yang menebar amarah dengan atas nama agama akan menimbulkan tanya: apakah ia telah kehilangan esensi agama itu sendiri pada dirinya?,” tanya Menag.

Persoalannya, mengapa orang menampakkan wajah garang dalam beragama? Atau, nampak agamis tapi justru banyak melakukan perbuatan yang dilarang agama seperti korupsi dan sebagainya? Jawabannya, menurut Menag, boleh jadi karena ia gagal menjembatani teks-teks agama dengan konteks kehidupan nyata. Jembatan itu adalah seni dan kebudayaan. Seni dapat merelaksasi agar kita tak kebablasan dalam menyeruakkan semangat beragama. Budaya dapat mengisi ruang peradaban untuk mengekspresikan agama. 

“Nah, di sinilah pentingnya kita duduk bersama Mas Emha yang kita kenal sebagai seniman, budayawan, sekaligus agamawan,” ujarnya. 

Wajah kedua yang dijelaskan Menag terkait kebudayaan. Menurut Menag, wajah adalah artefak kebudayaan -- bukti yang merekam jejak perbuatan dan peradaban manusia. Dalam surat Al Ghasyiyah tentang Hari Pembalasan, terdapat gambaran mengenai dua wajah. Yakni, wujuhuy yauma idzin khasyi’ah (wajah yang tertunduk hina karena perbuatan buruk), dan wujuhuy yauma idzin na’imah (wajah yang berseri-seri menerima buah usahanya). 

“Kita semua tentu berharap memiliki rekam jejak yang baik agar kelak dapat menampilkan wajah yang sumringah dan berseri-seri,” jelasnya.

Menurut Menag, masyarakat dunia mengenal manusia Indonesia sebagai sosok yang ramah tamah dengan wajah yang senantiasa sumringah. Banyak budaya Indonesia yang mengajarkan upaya menjaga keramah-tamahan dan kesumringahan itu. Budaya itu bahkan dimanifestasikan dalam kosakata yang khas Indonesia. Misalnya, "untungnya" (untuk menghibur diri), "hendaknya" (untuk mengendalikan diri), "asyiknya" (untuk memahami dinamika), atau "sebenarnya" (untuk melatih kejujuran) yang dalam bahasa agama itu sama dengan "hifdzun nafs". (menjaga dan memelihara jiwa)  

“Saya berharap budaya itu terus membumi agar kita tidak kehilangan jatidiri dan identitas. Mari tunjukkan bahwa manusia-manusia Indonesia saling menghargai dan ramah tamah. Jangan sebaliknya, karena hal remeh temeh kita menjadi saling menebar amarah,” ucapnya.

Sedang terkait wajah politik di tahun 2018, Menag menyentil soal banyaknya wajah yang tampil ke publik. Wajah lama bersaing dengan wajah baru. Ada juga sosok yang sama tapi berganti wajah, dan seterusnya. 

“Ini mungkin saatnya kita mulai dibuat bingung menghadapi banyak wajah. Pesan saya, fokuslah dengan wajah sendiri dan perbaikan pribadi sehingga kita dapat mengenali wajah siapa yang sesuai dengan hati nurani,” harap Menag. 

“Kita berharap, pesta demokrasi di daerah-daerah berlangsung santun dan damai sehingga nampaklah Indonesia kita yang berwajah positif. Untuk itu, mari tebarkan kedamaian,” ajaknya.

Sumber : -
Penulis : Khoiron
Editor : Khoiron
Dibaca : 1.072 kali