Rabu, 26 September 2018

Aktivis PTKIN Diimbau Tata Ulang Model Gerakan Kemahasiswaan

  • Sabtu, 14 April 2018 10:37 WIB

Kudus (Kemenag) --- Era milineal menuntut elemen organisasi  kemahasiswaan untuk menata ulang model gerakan mahasiswa yang efektif dan sesuai dengan karakter millenial. Model demonstrasi atau turun jalan perlu dilihat ulang, terutama ketika mengkritisi persoalan-persoalan internal kampus. 

Pernyataan itu dilontarkan Kasi Kemahasiswaan Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Ruchman Basori kepada para pimpinan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) STAIN Kudus saat berkunjung ke kampus yang tidak lama lagi akan beralih status dari STAIN menjadi IAIN ini. 

Bertempat di ruangan Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STAIN Kudus, Ruchman mendiskusikan kegiatan Ormawa yang dibidanginya. Salah satunya tentang cara menajamkan kepedulian sosial dan kebangsaan melalui demonstrasi dan penyampaian aspirasi kepada pihak kampus.

Ruchman mengatakan, banyak hal yang lebih bijak dan elegan kalau ingin mengkritisi kebijakan kampus yang dirasa kurang tepat; tidak harus dengan aksi demonstrasi, bakar-bakar, serta koar-koar di kampus. Misalnya, lanjut Ruchman,  mengganti aksi dengan menuangkan gagasan lewat tulisan, diplomasi, dan dialog terbuka dengan pihak kampus.

"Aksi-aksi mahasiswa bisa disalurkan untuk menyoroti masalah-masalah ketidakdilan, diskriminasi, issu-issu kemanusiaan dan persoalan global," kata Ruchman.

"Kalian generasi milineal, generasi yang berada di era peradaban digital, maka perlu mengedepankan gagasan kreatif dan inovatif," sambung alumnus IAIN Walisongo itu.

Mantan Ketua I SEMA IAIN Walisongo menegaskan, aksi demonstrasi yang anarkis cenderung menciptakan citra buruk kampus di mata khalayak. Selain itu, iklim akademik akan terciderai karena tindakan-tindakan yang biasanya kurang pantas dilakukan mahasiswa yang notabene kaum terdidik.

"Saya yakin anda akan memilih pendekatan dialog dalam menyoroti masalah di internal kampus," ujarnya. 

Hal lain yang disampaikan Ruchman adalah berbagai program kemahasiswaan, seperti: student mobility program, kompetisi karya ilmiah populer, temu DEMA PTKIN, dan PW PTK 2018 di UIN Riau.

Senada dengan Ruchman, Abdurrahman Kasdi, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan menganjurkan kepada mahasiswa agar mengedepankan prinsip tabayyun dan kesantunan dalam menanggapi kebijakan kampus. Masalah-masalah yang dihadapi lebih baik dibicarakan dengan pimpinan agar tidak terjadi konflik yang merugikan.

"Benar kata pak Ruchman, aktivis kampus seperti kalian harus bisa memberikan contoh baik kepada mahasiswa lain dalam menyelesaikan masalah," katanya. 

"Saya harap kita bisa saling memahami dan memaklumi dan bersinergi untuk membesarkan kampus kita," harapnya. (Faqih)

Sumber : Diktis
Penulis : Kontri
Editor : Khoiron
Dibaca : 413 kali