Selasa, 25 September 2018

Bertemu Guru Agama Perbatasan,  Menag Gali Saran dan Masukan

  • Selasa, 01 Mei 2018 11:06 WIB
Menag Lukman bersama Guru PAI di wilayah 3T peserta Bina Kawasan. (foto: inan)

Bogor (Kemenag) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin hari ini,  Selasa (01/05), bertemu dengan guru Pendidikan Agama Islam (PAI)  yang bertugas di wilayah perbatasan,  terdepan-terluar,  dan juga tertinggal (3T). 

Mereka dihadirkan di Bogor dalam kegiatan Pengembangan Islam Rahmatan lil Alamin dan Perspektif  Multikultural. Event yang dikemas indoor dan outdoor ini mengusung tema Penguatan Moderasi Islam dan Bela Negara.

"Saya merasa perlu hadir, utamanya ingin menyampaikan terima kasih karena saudaralah yang sesungguhnya sehari-hari menggeluti peran agar nilai Islam moderat dirawat dengan cara menularkan kepada peserta didik," terang Menag di Bogor. 

Menurut Menag, melalui tangan pendidik,  nilai agama tetap terjaga dan terpelihara dengan baik sehingga tidak hanya kehidupan keagamaan yang terawat, tapi juga keindonesiaan. 

"Saya ingin lebih banyak mendengar di lapangan itu seperti apa. Saya perlu masukan dari para pendidik.  Bagaimana menanamkan nilai Islam yang wasathiyyah itu.  Tentu berdasarkan pengalaman dan perspektif Bapak dan Ibu di lapangan masing-masing," tutur Menag. 

Guru PAI di NTT mengaku bertugas di kawasan minoritas Muslim. Penduduk Muslim di daerahnya hanya 9 persen.  Meski demikian,  dia mengaku toleransi umat sangat tinggi.  

"Saat kegiatan keagamaan Islam,  banyak pemuda Kristen menjaga masjid," kisahnya. 

Di sekolah,  dia mengajarkan anak-anak terkait aspek sosial untuk hidup saling menghargai. Selain aktif kegiatan kemasyarakatan,  dia juga mengajar mengaji dan pramuka. 

"Saya banyak berinteraksi dengan penganut agama lain di sana. Bahkan,  ada juga dari mereka yang belajar mengaji," ceritanya. 

Cerita lain disampaikan Nur Syamsiah,  guru PAI yang ditempatkan di Meumere,  Papua.  Perempuan asal Lampung namun berdarah turunan Banyuwangi ini berharap Kemenag mengirim ustadz dan ustadzah ke Papua, khususnya di daerah tempatnya mengajar. 

Menurutnya,  interaksi umat beragama di Kokoda sangar bagus.  Antar umat beragama saling menghormati dan menghargai. Namun,  keberadaan guru agama masih kurang. 

"Mereka menghendaki pengiriman ustadz dan ustadzah untuk pesantren yang mereka miliki.  Masjid sudah ada tapi mereka belum bisa berkegiatan. Ustadz dan ustadzah yang tidak hanya ngerti agama tapi juga pandai bermasyarakat," harapnya. 

Berbeda lagi dengan curhat guru PAI di Kapuas Hulu, Kalbar. Menurutnya,  tokoh agama di perbatasan Malaysia itu sangat kurang. 

"Masyarakat berharap peserta bina kawasan tidak hanya satu orang.  Kalau perlu sepuluh orang," harapnya. 

Menag mengapresiasi dedikasi guru PAI dalam merawat kerukunan dan kehiduan keagamaan di daerah masing-masing. Menag berharap,  guru bina kawasan istiqamah dalam memperluas wawasan keagaman masyarakat.  

"Kita harap Bapak dan Ibu dapat menjelaskan agama dengan memadai sehingga masyarakat memiliki wawasan yang luas,  bisa melihat keragaman pemahaman keagamaan. Masyarakat juga bisa memahami sisi dalam (syariat)  dan sisi luar (agama) sehingga tidak mudah saling menyalahkan," tuturnya. 

Terhadap beberapa masukan yang disampaikan,  Menag berharap Direktorat Pendidikan Agama Islam dapat menindaklanjutinya. Hadir dalam kesempatan ini,  Direktur PAI,  Imam Safei beserta jajarannya.

Sumber : -
Penulis : Khoiron
Editor : Khoiron
Dibaca : 674 kali