Senin, 16 Juli 2018

Pengajian DWP Kemenag, Menag: Jangan Mudah Menghakimi

  • Rabu, 09 Mei 2018 12:45 WIB
Foto: Sandi

Jakarta (Kemenag) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama untuk tidak mudah menghakimi dan menyalahkan sesuatu yang berbeda dengan pengetahuan, keyakinan dan pemahaman yang dimiliki. 

"Kita jangan mudah menghakimi, apalagi menyalahkan sesuatu yang berbeda dengan pengetahuan, keyakinan maupun pemahaman kita. Pahami dulu konteksnya. Para ulama terdahulu, yang mempunyai keluasan pemahaman, sangat jarang menjustifikasi sesuatu yang berbeda dengan yang diketahuinya," terang Menag saat memberi Tausiyah di hadapan 300-an anggota DWP dari Kemenag di Rumah Dinas Widyacandra,  Jakarta,  Rabu (09/05).

Selain DWP Kemenag pusat,  hadir juga pengurus DWP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,  Kemenag Jabar, DKI Jakarta, dan DWP Kanwil Kemenag Banten.

"Sepengetahuan kita, 2+2= 4. Ini adalah sesuatu yang benar. Namun,  10-6= 4 juga tidak salah. Karenanya, mari kita membiasakan diri untuk tidak menyalahkan sesuatu yang mempunyai cara pandang yang berbeda. Kita harus lebih bijak dalam memahami keragaman," imbuh Menag. 

Menag Lukman menyatakan, Allah bisa saja menciptakan umat yang satu. Namun, Dia ciptakan keragaman sebagai ujian manusia dalam berfastabiqul khairat. "Keragaman adalah sunnatullah. Karena dengan keragaman, kehidupan ini bisa muncul dan dinamis," tambah Menag. 

Menag lalu mencontohkan keragaman dalam memahami Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.  Diatur dalam Alquran bahwa wanita yang menjanda, dilarang menikah sebelum memenuhi masa iddah-nya, yaitu tiga kali quru'.  Lantas, apakah yang dimaksud dengan quru'? Terjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama.  Sebagian memahami quru' sebagai masa suci, sedang sebagian lain justru masa menstruasi (haid).  Ulama berbeda panafsiran dalam hal ini, tapi tidak ada yang saling mencela. 

"Lalu yang benar yang mana? Semuanya benar, karena berdasarkan argumentasi yang jelas dan mendasar,” tutur Menag. 

Menurut Menag, perbedaan muncul karena manusia mempunyai keterbatasan, memiliki sudut pandang yang berbeda-beda.  Karenanya, ketika menemui keragaman pandangan, masing-masing pihak untuk tidak mudah menghakimi dan menyalahkan. 

Sumber : -
Penulis : pujiyanto
Editor : dodo
Dibaca : 490 kali