Kamis, 18 Oktober 2018

Ini Orasi Menag pada Malam Kebudayaan Pesantren di Krapyak

  • Kamis, 11 Oktober 2018 15:58 WIB
(foto: Boy Azhar)

Krapyak (Kemenag) --- Sebagai rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN),  Kementerian Agama menggelar Muktamar Pemikiran Santri Nusantara dan Malam Kebudayaan Pesantren. 

Muktamar berlangsung di Pesantren Al-Munawwir dan Ali Makshum Krapyak,  Yogyakarta. Muktamar dibuka oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin pada Rabu (10/10) siang. 

Malam harinya,  digelar Malam Kebudayaan Pesantren di Panggung Krapyak. Para pengisi acara ini, antara lain: Gus Hilmy Muhammad,  Gus Rommy,  Inayah Wahid,  Veve Zulfikar, dan beberapa seniman lainnya.

Selain membaca puisi,  Menag Lukman didaulat menyampaikan orasi kebudayaan. Berikut naskah orasi Menag pada Malam Kebudayaan Pesantren di Panggung Krapyak. 

 

Orasi Kebudayaan Menteri Agama RI

MALAM KEBUDAYAAN PESANTREN
YOGYAKARTA, RABU, 10 OKTOBER 2018

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
MALAM ini adalah Malam Kebudayaan Pesantren. Saya tidak tahu kenapa panitia menggunakan istilah “malam” untuk disandingkan dengan kebudayaan dan pesantren. Apakah maksudnya saat siang berarti para santri tidak berbudaya? Atau karena kebudayaan itu diciptakan pada malam hari? Ataukah karena budaya pesantren itu biasanya kelihatan aslinya di malam hari? Silakan ditanyakan ke panitia untuk jawaban pasti.

Tapi yang pasti, malam ini adalah malam Kamis. Syekh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan At-Thabarsi, seorang ulama besar pada abad ke-6 H memiliki catatan tersendiri tentang malam Kamis. Dalam kitab Makarimil Akhlak pada bab Adab Zafaf, ia menyebut malam Kamis sebagai malam hambar atau anyep – kata orang Yogya. Kurang masyuk kalau digunakan untuk berhubungan badan. Kalaupun terpaksa, jangan lama-lama. Tapi, jika ternyata jadi, maka hasilnya justru akan bagus. Konon, si jabang bayi kelak bakal menjadi penguasa yang adil atau menjadi seorang ulama. Itu sekali lagi menurut Syekh Radhiyuddin, sama sekali bukan pendapat saya..

Maaf, saya sengaja mengutip kitab lain yang barangkali tidak populer. Tujuannya supaya para santri tidak cuma tahu kitab Uqudulujain atau Qurratul Uyun saja jika membahas bab orang dewasa dan hal-hal yang belum selesai. Oh ternyata, khazanah keilmuan Islam itu sungguh luas, sampai urusan begituan saja pun dibahas, banyak pula kitabnya.

Sekali lagi, ini malam Kamis. Menurut hadits riwayat At Thabari nomor 17.971, alam semesta diciptakan dalam tujuh hari. Menurut hadist tersebut, Allah menciptakan cahaya di hari Rabu lalu mengembangkan ciptaan-Nya pada hari Kamis. Hikmahnya, semoga pada malam ini di antara pergantian hari dari Rabu menuju Kamis, kita mendapatkan banyak cahaya ilham yang dapat dikembangkan untuk kemajuan pemikiran maupun kebudayaan pesantren.

Para santri, santriwati, dan budayawan yang saya hormati,
Kebudayaan sering didefinisikan sebagai kristalisasi nilai dan pola hidup suatu komunitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan adalah cara menghadapi kondisi lingkungan dan merespons tantangan zaman. Aneka karya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mempertahankan eksistensinya disebut hasil budaya. Karenanya, budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit seperti agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan hingga teknologi dan seni.

Budaya tidak terbentuk dengan sendirinya. Ia lahir dari olah data, olah jiwa, olah rasa, olah suara, olah kata, olah raga hingga olah tawa. Setiap olahan itu diproses dengan mengoptimalkan segala anugerah ilahi. Namanya, proses kreatif. Semakin sering seseorang berkreasi, ia akan mampu menghadirkan inovasi. Lalu, setiap hasil dari proses itu yang dapat dinikmati bersama akan menjadi sebuah budaya.

Indonesia adalah sumber segala kreatifitas. Tak heran, kita kaya dengan hasil budaya. Proses olah data, misalnya, menghasilkan berbagai wacana. Olah jiwa menghadirkan hikmah yang berharga dan nasihat nan bijaksana. Olah suara memunculkan seni mendongeng, menyanyi, berpuisi hingga ber-tilawah. Olah kata melahirkan referensi ilmiah, karya sastra, bahkan mantra pemikat cinta. Olah rasa menyajikan kuliner lezat penggugah selera. Olah raga bikin badan bugar dengan bonus perut rata. O ya, jangan lupa, stand up comedy merupakan olah tawa yang bisa membuat kita ber-hihi-hahaha

Dengan segala olahan itu, Nusantara ibarat sekeping surga yang diturunkan Tuhan di bumi. Demikian, kata Syekh Mahmud Syaltout, ulama terkemuka Al Azhar yang pernah berkunjung ke Indonesia pada 1960-an. Ungkapan itu untuk menyebut negeri kita yang dianugerahi Allah SWT dengan alam yang luar biasa indahnya. Padahal Indonesia tak cuma punya keindahan kontur alam, melainkan juga memiliki kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati.

Tentu kita harus bersyukur dengan semua anugerah itu. Tapi yang paling perlu disyukuri adalah negeri yang asyik ini dihuni oleh berbagai suku bangsa berbeda, yang mengikat diri dalam rajutan bangsa Indonesia. Dari situlah aneka ragam budaya tumbuh dari Sabang sampai Merauke. Pertumbuhannya pun unik karena mampu mengimbangi kondisi sekitar. Persis tanaman tropis yang menyuburkan alam sekitarnya.

Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya dengan karakter tersendiri. Tapi menariknya, ibarat kain batik, semua budaya itu seolah berada dalam satu bentang kain yang sama, hanya beda motifnya. Bisa juga seperti kain tenun yang berasal dari beragam benang tapi menyatu dalam satu motif. Bahkan batik dan tenun pun dapat berkompromi dalam bentuk baru berupa sarung songket. Jika dipadukan lagi dengan modernitas lalu dikomersialkan, jadilah varian sarung keren semisal produksi Ketjubung, Lamiri, dan BHS yang harganya bisa bikin mulut beristighfar.

Keunikan budaya itu bervariasi karena masyarakat Nusantara memiliki sikap terbuka, akomodatif, moderat, dan tak gampang ngambek. Istilah kerennya, bersifat elastis dan fleksibel, sehingga berdaya tampung luas sekaligus kuat merajut berbagai keragaman dari internal dan eksternal. Sifat ini membiasakan adanya dialog dalam keberagaman, sehingga lincah mencari berbagai bentuk keseimbangan, pola win-win solution, dan saling menenggang rasa. Minim sekali terjadi benturan semisal mempersoalkan pakaian pria Arab berupa gamis dan surban yang mirip baju perempuan yaitu daster beserta kerudung. Sebaliknya, muslim Jawa dapat menggunakan gamis dipadu blangkon.

Di Nusantara, budaya lama di masyarakat lokal dan budaya baru dari luar dapat berjodoh tanpa ribet. Ketika budaya menjadi penghulu yang mengawinkan dua unsur religi berbeda, lahirlah ritus dan situs keagamaan yang suci tapi membumi. Di masyarakat kita, ada tahlilan yang merupakan akulturasi dari peringatan kematian ala Jawa kuno yang bersubstansi majelis dzikir. Kita bisa lihat pula Masjid Menara Kudus sebagai bentuk akulturasi Hindu dan Islam. Dalam perkembangannya, produk budaya itu makin berwarna-warni setelah bersentuhan dengan unsur dari berbagai penjuru dunia, terutama China, India, Persia, dan Arab Saudia.

Seiring zaman, budaya-budaya itu terus bermetamorfosis dalam segala format dan tampilan. Namun semuanya masih berada dalam spirit yang sama, yaitu nilai-nilai etik dan spirit religiusitas. Kalaupun bentuknya artistik, tetap tak menghilangkan nilai sufistik. Di sinilah istimewanya Indonesia kita yang asyik.

Kaum santri, sahabat religi, dan penggiat puisi yang saya cintai,
Bicara Indonesia, tak bisa lepas dari kaum santri. Bukan saja karena eksistensinya sudah jauh sebelum Republik ini berdiri. Bukan saja pula karena semangat kebangsaan kaum santri sudah teruji. Tapi juga karena kaum santri adalah pengawal utama keluhuran budaya di negeri ini. Ulama-ulama Nusantara telah berperan besar memberikan nilai tambah pada setiap budaya hasil akulturasi, asimilasi, bahkan inovasi. Nilai tambah itu berupa nilai-nilai etik yang berpadu dalam spirit religiusitas dan karya artistik yang dipercantik dengan nilai sufistik.

Di ndalem kiai kini, biasa terpajang kaligrafi Arab-Indonesia bertuliskan ayat atau hadist sebagai nasihat suci. Bu Nyai dan para Ning tak sungkan berkebaya tapi tetap mengenakan jilbab sebagai penutup aurat. Di zaman Walisongo, Sunan Kalijaga menciptakan wayang untuk berdakwah lewat seni pertunjukan. Sedangkan di malam ini, “syair berdarah” ala Arya Dwipangga mungkin akan berubah menjadi “puisi bersyariah” karya Helvi Tiana Rosa.

Kaum santri tidak sulit memberikan nilai tambah spiritualitas pada suatu budaya karena dalam diri mereka terkandung sikap moderasi beragama. Terlebih sikap moderasi itu mewujud dalam budaya keseharian di pesantren berupa empat hal: kebersamaan, kekeluargaan, kesederhanaan, dan kemandirian. Keempat hal itu saling berkelindan sebagai ciri khas kaum santri.

Ciri pertama, kebersamaan. Ketika para santri yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang harus berkumpul dalam satu lingkungan dalam jangka waktu lama, kebersamaan adalah keniscayaan. Untuk mencapai keharmonisan, setiap santri dituntut mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Dicolek satu, semua menoleh. Satu nampan asyiknya dinikmati rame-rame. Nilai spiritualitas yang terbangun dari semua itu adalah upaya yang tak berkesudahan untuk senantiasa memanusiakan manusia.

Ciri kedua, kekeluargaan. Yaitu menganggap satu sama lain ibarat keluarga sendiri beserta segala peran dan konsekuensinya. Bahkan panggilan pun mencerminkan adanya hubungan keluarga, meski tak sedarah. Sebut misal, guru dipanggil mbah atau abah; santri senior disapa kang; santri yang dihormati disebut pakdhe atau paman, dan sesama alumni satu pesantren menyebut dulur tuwo-dulur enom – saudara tua dan saudara muda. Belum kenal pun, asalkan tahu sama-sama santri, panggilannya tetap bernuansa saudara: Ya Akhi. Dari sini terjagalah silaturahim sebagai bagian dari pelajaran asah, asih, dan asuh. Berpendapat maupun berpendapatan beda, itu biasa, asalkan jaga seduluran.

Ciri ketiga, kesederhanaan. Demi mengimbangi berbagai keterbatasan, para santri membiasakan diri hidup sederhana. Menikmati sesuatu secukupnya dan tidak mengumbar keinginan. Ini sama artinya belajar mengendalikan hawa nafsu, melatih kesabaran, dan tidak kagetan. Tidak silau dengan kemewahan atau kekuasaan. Bagi sebagian santri, kenikmatan itu tidak muluk-muluk. Misalnya, bisa lelap tidur tanpa kasur, ngopi pakai wadah seadanya, lunas setoran hafalan, atau menyambut pagi dengan senyuman.

Ciri keempat, kemandirian. Hidup jauh dari orang tua, seorang santri harus mandiri. Tidak bergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhan maupun menuntaskan persoalan hidupnya. Mandiri bisa juga berarti independen dalam berpikir dan idealis dalam bersikap sehingga menumbuhkan wibawa, muru'ah, atau integritas. Sebuah modal penting untuk meneguhkan diri dalam amar ma’ruf nahi munkar.

Melihat keempat hal tadi, nampaklah bahwa nilai-nilai religi kaum santri bukan semata berorientasi kesalehan individual. Lebih dari itu, kaum santri menularkan religiusitas personalnya untuk membentuk perilaku masyarakat yang lebih baik. Dengan kata lain, kesalehan sosial menjadi jembatan menuju derajat istimewa di hadapan Sang Khalik. Sebab itulah, para kiai lebih mengutamakan isi ketimbang bungkus. Mereka memberi keteladanan akhlak dalam setiap interaksi sosial, menyelipkan kebajikan dalam setiap dialog sosial, dan tanpa pamrih dalam memperjuangkan kepentingan sosial. Bukan memaksakan doktrin agama untuk ditelan mentah-mentah. Mereka menyadari bahwa setiap hikmah berasal dari sebuah proses, sedangkan hidayah adalah hak prerogratif Sang Maha Kuasa.

Kesalehan seorang santri tidak dilihat dari penampilan sok suci dan tanda-tanda fisik ahli ibadah. Melainkan dari pengaruhnya terhadap perbaikan masyarakat. Dalam pergaulan santri, kedalaman ilmu dan kebijaksanaan diri seringkali digambarkan dengan secangkir kopi. Santri yang malas dan tidak produktif dianggap kurang ngopi. Santri yang emosional dan gampang dibohongi pertanda ngopinya kurang pahit. Santri yang kuper dan kudet berarti ngopinya kurang jauh. Santri yang suka ngeyel dan mudah menyalahkan orang lain itu tandanya belum pernah menyeduh kopi. Adapun santri yang mementingkan diri sendiri, itu jelas sukanya kopi gratisan. Tapi kalau ada santri jam segini tak kunjung ngopi, itu cuma perkara belum dapat rejeki.

Kaum santri dan pecinta kopi yang berbahagia,
Seorang ulama pesantren, Syekh Ihsan dari Jampes Kediri Jawa Timur, mengarang kitab berjudul Irsyadul Ikhwan fi Bayaani Qahwah wad Dukhan (Petunjuk Umum untuk Kopi dan Rokok). Disebutkan, kopi adalah minuman para ulama karena bisa meningkatkan konsentrasi dan mempertajam intuisi. Diulas pula perdebatan fikih tentang hukum menyeruput kopi. Maklum, kopi sudah terlalu jauh masuk ke wilayah pesantren. Sampai ada adagium bahwa penggerak utama pesantren itu sesungguhnya terdiri dari: kiai, santri, ngaji, dan kopi.

Di sini saya tak hendak mengajak anda semua untuk ngopi. Tapi saya justru ingin mengingatkan, pesantren bukanlah warung kopi. Pesantren adalah tempat menuntut ilmu dan menimba pengalaman. Tempat untuk menyadari bahwa menjalani hidup itu ibarat menikmati kopi; ada pahit-pahit manis yang bikin melek hati. Sebagai majelis pengetahuan, kopi pun jadi bahasan ulama dalam karya tulisnya. Ini artinya, ilmunya para kiai tidak sebatas perkara shalat sampai haji, tak cuma soal membasuh muka sampai menata hati, tapi juga urusan menyeruput kopi.

Hal yang saya garis bawahi di sini adalah, betapa kuat budaya literasi kaum santri sampai sempat-sempatnya menulis tentang kopi. Boleh jadi lantaran mereka tak pernah lupa bahwa literasi adalah tradisi asli para ulama dan kiai. Memang terbukti, penebaran ilmu lewat tulisan lebih dapat bersifat masif dan awet ketimbang lisan belaka. Kita mengenal ulama besar seperti para imam madzhab, Al Ghazali, dan lain-lain lantaran karya-karya tulisnya. Ulama Nusantara semisal Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Yasin Al Fadani juga demikian. Pada generasi-generasi berikutnya, kita pun mengenal Tafsir Ibriz karya KH Bisri Mustofa sampai buku Fikih Sosial karangan KH Sahal Mahfud, dan seterusnya. Di masa kini, saya menunggu karya tulis anda para santri sekalian.

Tantangan saya kepada santri untuk menulis sungguh bukan hal istimewa. Sebab, budaya literasi tentu tak asing di bilik-bilik pesantren. Ia tumbuh subur karena sejak awal mondok, santri telah diajari ilmu dasar agama dengan kitab-kitab standar dan dilatih pula ilmu alat seperti nahwu sharaf yang berkaitan dengan tata bahasa. Semakin naik kelasnya, pelajarannya pun meningkat. Metode pembelajarannya juga variatif, mulai dari hafalan (tahfiz), musyawarah (hiwar), diskusi atau mudzakarah (bahtsul masaail), baca kita (fathul kutub), studi perbandingan (muqoronah), pelajaran menulis (imla’), pelatihan mengarang (kitabah), hingga latihan berdiplomasi dan pidato (muhadatsah atau muhadharah).

Tidak cukup itu, santri dibiasakan menerapkan akhlak agar terbangun karakternya. Akhlak santri bersifat komprehensif meliputi akhlak kepada Allah SWT, adab kepada orang tua dan guru, sopan santun terhadap sesama, serta sikap baik terhadap lingkungan. Santri diharapkan memiliki budi pekerti seperti dicontohkan Rasulullah SAW.

Akhlak itu pun tidak sekadar jadi pelajaran, melainkan diimplementasikan dalam keseharian ketika santri berinteraksi dan berkomunikasi dengan komunitas pesantren maupun masyarakat umum. Banyak sikap mulia yang selaras antara ajaran agama dan standar moral masyarakat Indonesia dibiasakan di pesantren agar santri memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sikap itu misalnya, tolong menolong, rukun, damai, tanggung jawab, dan tenggang rasa. Sepulang dari pesantren, santri diharapkan memiliki tiga karakter. Pertama, karakter bidang keilmuan yang disebut tafaqquh fid-din. Kedua, karakter bidang moral yang disebut akhlaqul karimah. Dan, ketiga, karakter bidang sosial yang dinyatakan dengan khairunnas anfau’hum lin naas. Ketiganya itu menjadi modal besar untuk menjadikan santri sebagai manusia-manusia mulia yang berkualitas tinggi.

Kaum berpeci dan sarungan yang saya banggakan,
Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa bangsa dan negara kita mencita-citakan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kita sungguh bersyukur, produk pendidikan pesantren umumnya tak melenceng dari rumusan tersebut.

Sulit dimungkiri, pesantren adalah tempat paling kredibel di Tanah Air dalam mewariskan ajaran Rasulullah SAW. Sebab, pelajaran di pesantren bersifat komprehensif sepanjang santri mengikutinya secara utuh, matang, lagi tuntas. Pemahaman yang belum tuntas hanya akan mengantar pada kesimpulan yang salah. Dan, ini bisa fatal bagi pengamalan ajaran agama.  Sebut saja misal, ada santri betah banget menjomblo. Setelah ditelisik, ternyata ia tidur saat belajar nahwu sehingga salah baca harakat pada sebuah hadist. Mestinya "An-nikahu sunnati” tapi dibaca “An-nikahu santai”. Cerita lain, ada santri bercita-cita poligami dengan argumentasi ingin menunjukkan tanda keimanannya sesuai ayat yang ia baca: “innamal mu’minuna asyaddu dzakara”. Padahal yang betul adalah “Innamal mu’minuna assyaddu dzikra”. Tidak lucu, bukan?

Punya sanad keilmuan yang jelas dan mutawatir, santri tentu lebih layak menjadi sumber pengetahuan agama ketimbang Syekh Google. Menguasai ilmu fikih, tafsir, tasawuf, dan seterusnya, santri adalah kaum yang memiliki otoritas untuk menjelaskan esensi dan hakikat Islam. Karenanya, santri paling bertanggung jawab atas keberlangsungan nilai-nilai Islam yang substantif di bumi Nusantara.

Santri tak boleh melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan karakter dan jatidiri kesantrian yang dikenal santun, toleran, moderat, dan taat beribadah sebagai buah dari kealiman dan kearifan yang dimilikinya. Santri harus menjadi manusia yang membumi: di mana ia berpijak selalu meninggalkan jejak-jejak kebajikan untuk diteladani. Santri harus punya hati seluas samudra: dimana welas asih tak bertepi. Santri harus turun gunung: dimana setiap masalah ia beri solusi.

Tapi perlu diingat bahwa bumi tidaklah semata daratan dan lautan, melainkan ada juga udara. Santri harus menguasai udara Nusantara dengan debu yang suci, nafas yang segar, dan energi yang positif. Santri harus mengudara dengan suara-suara ilahi berupa kebenaran, persahabatan, dan kedamaian. Bukan hanya pekik takbir cuma di bibir, istighfar sembari menggampar, berdoa tapi dusta, bermuslihat seolah memberi nasihat, atau berceramah sambil marah-marah. Pada zaman milenial ini, kuasailah ranah publik dengan konten-konten yang manfaat. Dunia maya jangan cuma jadi tempat bertanya dan arena bergaya. Jadikan sosmed sebagai sarana untuk menebar maslahat dan bukan madarat, kesejukan dan bukan kebusukan, serta menunjukkan kesantrian dan bukan kepandiran. Arahkan jemaah Fesbukiyah, Twitteriyah, dan forum Washappiyah laiknya umat yang mengaji di majelis taklim yang ilmiah, berkah, dan bikin semringah.

Di era industri 4.0 sekarang ini, santri tak boleh berdiam diri. Harus bergerak mengikuti perubahan zaman dan perkembangan teknologi. Santri tak boleh pula sibuk dengan diri sendiri sehingga tak peduli kemajuan sains dan apriori terhadap perubahan sosial. Jangan lagi hanya duduk di atas sajadah dan terjebak pada teks-teks belaka, tanpa sadar di sekelingnya makin banyak masalah. Dalam menghadapi dinamika sosial terkini, santri harus mampu membuat terobosan solusi keumatan melalui reinterpretasi doktrin melalui kajian ushul fikih yang responsif dan tafsir yang kontekstual.

Di era globalisasi, santri tak boleh terjebak pada ambigiutas antara mengedepankan moral kesantrian dan tuntutan pragmatis. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan pemahaman terhadap kemajuan teknologi informasi agar tak mengalami gagap budaya digital. Kemudian, mengatasi krisis metodologis dalam lembaga dengan membiasakan pola pikir kritis dan memperbanyak dialog tentang problem aktual kemasyaratakan. Selanjutnya, melakukan internalisasi nilai moral spiritual secara universal dengan orientasi perbaikan sosial sebagai bagian dari tugas kemanusiaan.

Pada intinya, santri harus berperan mengawal kemajuan peradaban. Semoga kita semua meniatkan setiap langkah dengan ibadah dan terus menebar kebajikan ke segala arah.

Nashrun minallahi wa fathun qarib
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Yogyakarta, 10 Oktober 2018
Menteri Agama RI

Lukman Hakim Saifuddin

Sumber : PD Pontren
Penulis : Kontri
Editor : dodo
Dibaca : 446 kali