KOIN MAMI: Kelor UIN Maliki untuk Imunitas Masa Pandemi

Indonesia sangat kaya keanekaragaman hayati. Banyak jenis tanaman di Indonesia yang dikenal mempunyai khasiat herbal. Jurnal penelitian nasional maupun internasioanal yang ditulis oleh ilmuwan dalam dan luar negeri tentang identifikasi jenis tanaman dan kemampuannya sebagai obat herbal juga sudah sangat banyak. Berbagai macam jenis tanaman ini pun seringkali telah digunakan oleh suku pedalaman Indonesia dan dikenal sebagai etnobotani dan etnomedicine.

Pengobatan menggunakan bahan tanaman atau dikenal dengan pengobatan herbal mulai banyak dilirik karena adanya keunggulan pada jenis pengobatan ini yaitu relatif lebih aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang dengan takaran yang benar. Obat herbal juga lebih murah karena digali dari kekayaan alam sekitar. Menjadi tugas kita untuk mempelajari tanaman apa saja yang sudah diciptakan Allah ini dan dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia.

Allah berfirman: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S Al-Imran ayat 191). Ayat tersebut mengajak kita memikirkan semua yang diciptakan Allah termasuk kekayaan alam berupa keanekaragaman hayati Indonesia.

Pengelompokan jenis tanaman yang selama ini dikenal seperti gulma pengganggu, pakan ternak, limbah pertanian, tanaman liar semua itu tidak mutlak tidak bermanfaat. Sebab, belakangan tanaman-tanaman tersebut diketahui mempunyai manfaat besar sebagai tanaman obat. Demikian pula dengan tanaman kelor.

Di Jawa, kelor sering digunakan masyarakat sebagai sayuran. Namun, ada juga sebagian daerah yang tidak berani dan menganggap tabu memasak kelor sebagai sayur disebabkan daun tersebut sering dimanfatkan untuk memandikan jenazah. 

Kelor mempunyai nama latin Moringa oleivera dan dikenal sebagai miracle tree, karena manfaatnya yang sangat luar biasa di dunia kesehatan, kecantikan, pupuk, nutrisi maupun pengolahan limbah. Daunnya mengandung lebih dari 19 asam amino dan 90 lebih senyawa kimia bernutrisi yang sangat baik untuk kesehatan. Hal ini sebagai indikator tanaman ini sangat layak sebagai sumber makanan dan obat herbal yang berkualitas. Hasil uji fitokimia ekstrak air daun kelor di laboratorium kimia UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membuktikan daun kelor mempunyai kandungan fitokimia yang lengkap.

Pandemi pada awal Februari 2020  telah menginfeksi yang mengarah pada gangguan kesehatan dan kematian yang signifikan pada masyarakat. Media terus melaporkan bahaya serangan virus baru yang menyebabkan kematian fatal. Rute utama penularan adalah infeksi melalui selaput lendir atau secara tidak langsung melalui tangan, yang kemudian dibawa ke dalam kontak dengan mukosa mulut atau hidung dan konjungtiva. 

Para peneliti dari berbagai belahan dunia telah melaporkan bahwa tanaman kelor  dengan nama latin Moringa oleifera memiliki potensi antivirus. Salah satunya virus penyebab penyakit mulut dan kaki (foot and mouth disease virus). Uji ini dilakukan secara in vitro. Ekstrak air daun kelor juga memiliki aktivitas antivirus terhadap virus simplex herpes (HSV) tipe 1 dan tipe 2. 

Peneliti lainnya, pada tahun 2017, secara in vitro juga membuktikan bahwa daun kelor efektif melawan virus influenza yang lebih baik dibanding amantadina (obat standar yang digunakan untuk penyakit influenza). Covid-19 adalah saudara dari keluarga influenza SARS-CoV-2, yang dinamai oleh WHO sebagai jenis virus korona baru. Covid-19 menunjukkan hubungannya yang erat dengan aktivitas dan pendekatan dengan virus SARS, yang dipicu oleh SARS-CoV-2 sehingga disebut Covid-19 (Penyakit Virus Corona 2019).

Indonesia telah memasuki masa New Normal. Masyarakat sangat perlu diedukasi untuk tangguh hidup berdampingan dengan Covid19. Hal ini tampak pada banyak kesempatan pemerintah sangat antusias untuk membentuk kampung tangguh agar masyarakat lebih percaya diri dan tangguh dengan tetap waspada dalam menghadapi masa pandemi. 

Beberapa ahli menyarankan untuk mempertahan diri dari Covid 19 adalah dengan meningkatkan imunitas. Penggunaan bahan alami sebagai sumber vitamin C dan E sangat disarankan dibandingkan konsumsi vitamin sintetik jangka panjang. Masyarakat membutuhkan alternatif solusi kesehatan berbasis potensi lokal yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Kelor mempunyai kemampuan meningkatkan imunitas atau imunomodulator. Banyak sekali penelitian menyebutkan tentang hal ini. 

Sejak 2016 sampai awal pandemi 2020, Tim kelor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kegiatan Kampanye Kesehatan Alternatif berupa pemanfaatan herbal daun kelor sebagai tanaman obat. Kampanye ini berawal dari keprihatinan UIN Malang terhadap kondisi kesehatan masyarakat, yang semakin hari semakin turun, dan sakit. Sebagian masyarakat mengalami sakit degenerative seperti mudah pusing, kesemutan, alergi, diabet, asam urat, darah tinggi, kolesterol, asma, dan lainnya. Sebagian lain mengeluh mudah terkena masuk angin, flu dan batuk pilek. Hal ini tentu tidak terlepas dari kondisi lingkungan kita saat ini yang cukup memprihatinkan yaitu polusi yang meningkat dan gaya hidup masyarakat yang kurang sehat. Stress yang tinggi dan makanan-makanan yang serba instan juga ikut berpengaruh. Hal-hal inilah yang akan menurunkan daya tahan tubuh masyarakat.

Pada masa pandemi ini, tim UIN Malang lebih intensif mengkampanyekan kesehatan alternatif dalam program KOIN MAMI atau KELOR UIN Mulana Malik Ibrahim Malang untuk Imunitas Masa Pandemi. Tim mengajak masyarakat agar sehat dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan imunitas dengan pemanfaatan daun kelor sebagai obat herbal dengan cara yg sederhana praktis dan murah. 

Masyarakat umum memanfaatkan daun kelor sebagai sayuran atau aneka makanan tanpa mengamankan bagian yang berkhasiat obat herbal. Padahal bahan fitokimia berkhasiat obat herbal ini sangat rentan rusak dalam proses memasak yaitu pengolahan menggunaan suhu tinggi.

Infusa dapat dilakukan dengan menggunakan air dingin atau air panas. Hasil penelitian yang kami tulis di jurnal tahun 2014 menyebutkan, jumlah bahan fitokimia yang berkhasiat herbal terekstrak lebih banyak pada infusa air panas dibandingkan menggunakan infusa air dingin (suhu ruang). Pada jurnal tersebut infusa air panas kami menggunakan air panas 70oC selama 30 menit dilanjut dengan dikocok selama 2 jam, sementara infusa air dingin hanya dikocok dengan waktu yang sama.

Program KOIN MAMI mengajarkan kepada masyarakat cara memanfaatkan daun kelor untuk makanan, tetapi tetap mengamankan atau memisahkan air infusanya yang berkhasiat herbal terlebih dahulu. Dan sisa sayurannya dapat dilanjut dimasak sebagai sayuran yg bernutrisi tinggi. Program ini dilakukan melalui penyuluhan dan praktek membuat infusa. Tim juga mendampingi masyarakat untuk bersama-sama membuktikan khasiat obat herbal dari kelor.

Pendampingan dilakukan selama satu sampai dua bulan dengan frekwensi selisih kunjungan satu ke kunjungan berikutnya adalah satu sampai dua minggu. Peningkatan kualitas hidup diukur menggunakan kuisioner dengan tertinggi penilaian kualitas hidup dalam 100%. Hasil kegiatan tersebut memberikan informasi bahwa konsumsi daun kelor secara rutin menekan keluhan berbagai penyakit degeneratif dan meningkatkan imunitas. 

Konsumsi infusa daun kelor selama satu bulan teruji secara klinis dan empiris mampu meningkatkan imunitas mengatasi berbagai macam penyakit seperti, rabun mata, kolesterol, asam urat, hipertensi, stroke, diabetes, ambeien, pegal linu, asma, alergi, kesemutan, migraine, asam lambung, osteoporosis, anemia, meningkatkan produksi asi juga menjaga kesehatan kulit.

Tim UIN Malang juga mengampanyekan manfaat kelor ini melalui media sosial. Tim mengajak masyarakat luas memanfaatkan tanaman sekitar menjadi obat herbal yang sangat baik. Alhamdulillah testimoni masyarakat terus mengali. 

Semoga melalui program KOIN MAMI, masyarakat menjadi lebih sehat, rajin beribadah dan bekerja juga lebih hemat, karena tidak mengeluarkan koin koinnya untuk pengobatan yang mahal. Semoga bermanfaat 

 

Eny Yulianti, Rif’atul Mahmudah dan Achmad Hanapi (Jurusan Kimia UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)