Pesantren dan Tradisi Lapis Spiritual

post-title

Thobib Al Asyhar (Alumni Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Diktis)

Ramadan selalu mengingatkan saya tentang masa lalu. Masa saat saya mondok selama enam tahun di pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak. Ingatan saya tentang masa itu masih tersimpan rapi sehingga momen demi momen tak terlupakan hingga kini.

Secara umum, pesantren memang tempat "menanam" kesan. Kesan baik tentu saja, meski tetap saja ada sedikit kenangan buruk. Hal itu wajar karena hidup tidak selalu inline dengan harapan. Misalnya ada santri-santri yang kena ta'zir potong gundul karena nonton film layar tancap di luar pondok.

Nah, saat Ramadan tiba, seakan seluruh kenangan itu muncul kembali. Dari hal sederhana, hingga yang cukup kompleks. Ada rasa bahagia ketika mengingatnya. Kadang ada pula yang membuat saya tersenyum sendiri, seakan ingin jarum waktu kembali berputar ke belakang.

Lebih dari itu, ada satu kenangan yang terpatri hingga kini. Saya pun yakin, semua santri masih terngiang, yaitu wirid rutin membaca Al-Fatihah 1.000 kali selesai Subuh berjamaah. Setiap hari. Tidak ada jeda hari untuk libur membaca Al-Fatihah sebanyak 1.000, usai jamaah Subuh, dan di satu waktu (sekali majelis).

Bisa dibayangkan, membaca Alfatihah 1.000 kali sekali majelis itu bukan hitungan menit. Membutuhkan minimal waktu sejam. Dan sekali lagi, itu dilakukan setiap hari, selepas Subuh. Rerata para santri yang jumlahnya ribuan di dalam masjid tidak semuanya "on" atau "sadar" sejak Al-Fatihah pertama hingga akhir. Ya, mayoritas santri mengantuk. Kenapa?

Semua tentu maklum. Aktifitas harian di pondok itu sangat padat. Mulai bangun tidur jam empat dini hari hingga jelang tidur jam 22.00 atau 23.00. Bahkan sering santri begadang karena belajar, atau sekedar ngobrol santai hingga larut malam. Selain mengaji kitab, sekolah, salat berjamaah, juga ada agenda-agenda rutin, seperti taklimul khithabah, bahtsul masail, kerja bakti, dan lain-lain.

Tentu, membaca wirid bukan tanpa tujuan. Wirid panjang ala pondok itu agar para santri memiliki lapis spiritual. Sebagai makhluk ruhani, manusia, khususnya santri harus dibekali dengan wirid-wirid khusus agar kelak memiliki "kekebalan" spiritual. Tidak mudah goyah oleh "serangan" materialisme. Pun pula tidak mudah roboh jika mendapat "tembakan" jahat yang tak nampak.

Bekal wirid santri bukan hanya itu. Selepas Maghrib, mereka juga dibekali wirid "Ratibul Haddad". Salah satu zikir yang sering dibaca masyarakat Muslim dunia. Ratib ini disusun oleh salah seorang ulama terkemuka dari Hadramaut, yakni Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad.

Beliau adalah seorang mujaddid (pembaharu) di masanya. Karya tulis beliau terbilang cukup banyak dan tersebar di berbagai penjuru dunia, di antaranya adalah: an-Nashaih ad-Diniyah, Risalah al-Mu’awanah, an-Nafais al-‘Alawiyah fi al-Masa’il as-Shufiyah.

Jadi, santri memang sangat lekat dengan wirid panjang. Bahkan kompleks untuk tujuan yang banyak. Wirid yang bukan sekedar bacaan rutin tanpa maksud. Di balik rutinitas spiritual tersebut, ada makna yang begitu mendalam. Yaitu, para kyai ingin melapisi para santri secara spiritual dengan membiasakan wirid-wirid yang "musalsal" setiap kali selesai salat.

Wirid yang bersanad. Wirid yang memiliki kelekatan spiritual sebagai perisai diri. Tameng dari perilaku buruk agar santri tetap istiqamah menjalankan tiga prinsip utama hidup ala pesantren, yaitu Sun Three (tiga matahari, english), yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.

Santri adalah sosok-sosok beriman, yang menjalankan Islam secara konsisten, dan melengkapi dengan Ihsan, yaitu perilaku mulia dengan "akhlaqul karimah". Dengan wirid, para santri menjadi pribadi yang cerdas secara spiritual. Mereka memiliki kesalehan yang tidak luntur oleh zaman karena kuatnya lapisan spiritual.

Apalagi di momen Ramadan seperti saat ini. Seluruh amalan-amalan mulia, khususnya ibadah-ibadah sunnah dijalani dengan sepenuh jiwa. Santri yang istiqamah menjalani lakon wirid sebagai perisai spiritual akan tetap menjadi pribadi yang humble, menyenangkan, dan memiliki keterikatan untuk selalu memberi manfaat bagi sesama. Wallahu a'lam bish-shawab.

Thobib Al Asyhar (Alumni Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Diktis)


Editor: Moh Khoeron
Fotografer: Istimewa

Feature Lainnya Lihat Semua

Berita Lainnya Lihat Semua