Mudik: Soliditas, Solidaritas, dan Kekuatan Ekonomi

post-title

Akhmad Fauzin (Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi)

Idulfitri 1444 H/2023 M menjadi momentum luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Sebab, setelah pandemi covid-19, tahun ini menjadi kali pertama dibukanya mudik secara penuh, karena sebelumnya masih ada sejumlah pembatasan.

Mudik atau pulang ke kampung halaman dilakukan oleh masyarakat rantau. Mereka kembali ke desa kelahiran setelah merantau di sejumlah kota besar.

Banyak cara dilakukan seseorang untuk mudik. Ada yang ikut program mudik gratis yang digelar beberapa instansi pemerintah, termasuk Kementerian Agama. Ada juga yang memilih menggunakan kendaraan pribadi, motor atau mobil, bahkan sepeda onthel dan kendaraan roda tiga. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan, yakni berjumpa dan bercengkerama dengan keluarga yang mereka sayangi. Berapapun biaya yang dikeluarkan, apapun risiko dalam perjalanan, semua tidak menjadi penghalang untuk mudik yang diidamkan.

Mudik juga menjadi momen membahagiakan bagi anak-anak kecil di kampung. Mereka biasanya mendapat uang saku atau pecingan tanda kasih sayang dari saudaranya yang baru mudik. Idulfitri memang menjadi hari raya yang paling ditunggu mereka.

Mudik juga merupakan bentuk rasa Syukur. Karenanya, para pemudik selalu antusias dan semangat untuk pulang ke kampung halaman. Wajah mereka bahagia, meski lelah mendera. Menahan diri untuk tidak mudik selama dua tahun akibat pandemi, menjadi kekuatan dan penambah semangat tersendiri bagi mereka.

Masyarakat juga berterima kasih kepada pemerintah yang memberikan cuti bersama lumayan Panjang. Sehingga, mereka dapat mudik lebih awal sebagai ikhtiar menghindari kemacetan. Entoh demikian, karena jumlah pemudik yang banyak dan luar biasa, tetap saja arus lalu lintas padat merayap.

Para pemudik juga tidak perlu buru-buru. Jika lelah, mereka sebaiknya segera istirahat. Ada banyak tempat istirahat yang telah disiapkan. Ini bagian dari perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang mudik agar mereka mengedepankan keselamatan dan kenyamanan. Sehingga, mereka bisa menikmati perjalanan mudik atau pulang ke kampung halaman. Jangan lupa, tetap harus taati peraturan lalu lintas dan terapkan protokol kesehatan.

Soliditas
Mudik juga sebagai ajang untuk meningkatkan soliditas antara masyarakat. Ini menjadi kekuatan bangsa. Munculnya rasa senasib dan seperjuangan menjadikan masyarakat memiliki ikatan kuat untuk membentuk persatuan yang kokoh.

Mudik juga memiliki potensi besar munculnya akulturasi budaya, di mana masyarakat urban akan berbaur dan kembali ke warga daerah asalnya. Budaya berbeda, walaupun perbedaannya tidak mencolok, tetapi ini dapat dirasakan di tengah kehidupan saat masyarakat mudik di kampung halaman.

Budaya urban yang relatif lebih kosmopolit dan beragam, bertemu budaya masyarakat daerah yang kental dengan nilai gotong-royong, saling membantu, jujur dan apa adanya. Dua perilaku dan budaya ini berbaur dalam satu masa dan satu waktu.

Mereka yang mudik, memang sudah menjadi orang kota (urban), tetapi tidak melupakan tanah kelahiran. Mereka rela melakukan perjalanan demi mengenang masa lalu, masa kecil, dan masa sebelum mereka melakukan urbanisasi ke kota. Mudik seakan menjadi media yang tidak akan terputus oleh apapun karena ia menjadi pondasi bagi para pelancong untuk bersua dengan handai taulan di kampung halamannya. Apalagi, kepulangan masyarakat urban juga diterima, bahkan ditunggu masyarakat daerah. Momen berbaur dan saling mengisi dalam arena mudik ini menjadikan soliditas dan kekuatan yang kokoh dalam membangun semangat persatuan bangsa.

Solidaritas
Fenomena mudik juga membentuk perasaan senasib dan solider. Berbaur dalam perjalanan, tidak jarang menumbuhkan sikap peduli antar pemudik. Jika terjadi sesuatu dari salah satu pemudik, pemudik lain akan membantunya. Misalnya, membantu saat ada pemudik yang ban kendaraannya bocor, atau memberikan takjil kepada mereka yang melakukan perjalanan pulang.

Rasa empati dan kebersamaan ini memompa para pemudik untuk saling membantu satu dengan yang lain. Kita juga dapat melihat di mana masyarakat saat melakukan mudik tidak segan untuk saling tegur sapa di tempat peristirahatan. Pemerintah bersama dengan instansi swasta juga membuat pos-pos layanan untuk para pemudik dalam memperlancar perjalanan mereka.

Dampak Ekonomi
Tidak dipungkiri bahwa mudik berdampak pada ekonomi dan kenaikan perputaran uang di setiap daerah. Hal itu berefek pada pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi daerah ini otomatis ikut memperkuat ekonomi nasional.

Dampak pertumbuhan ekonomi dari mudik juga dinikmati dan dirasakan banyak orang. Kebutuhan sembako, kebutuhan sandang, kebutuhan pernak pernik tambahan dalam penyiapan Idulfitri, bahkan penyediaan konstruksi material seperti cat, semen, dan lain-lain, meningkat seiring tingginya minat masyarakat Indonesia di berbagai daerah.

Moment Religious
Idulfitri menyiapkan diri seseorang untuk bisa merefleksikan nilai-nilai yang didapat selama Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, pasca menunaikan ibadah puasa. Kegiatan amaliah di bulan Ramadan yang begitu semangat dan kuat dalam diri seseorang, seyogianya, dapat diterapkan dalam kehidupan setelah Ramadan. Sehingga Syawal diartikan sebagai peningkatan, meningkat takwanya, imannya, termasuk kesalehan individu dan sosial. Di sinilah yang mestinya perlu mendapat perhatian seirus bagi semua orang.

Kalau hingar bingar Idulfitri hanya terhenti pada aspek fisik, maka itu tidak mengena dalam hati dan kurang bermanfaat. Benar apa yang disampaikan Menag Yaqut Cholil Qoumas, bahwa takbiran yang dikumandangkan selama malam lebaran sampai pelaksanaan salat Idulfitri memberi pesan tentang pentingnya kerendahhatian. Ungkapan takbir adalah wujud kesadaran keimanan bahwa hanya Allah Yang Maha Besar. Dengan kesadaraan ini, manusia dapat menghayati fitrahnya sebagai hamba Allah. Dengan begitu, akan tumbuh pribadi-pribadi yang rendah hati, mau saling memaafkan, dan bersinergi dalam membangun bangsa ke depan.

Akhirnya, Ramadan 1444 H telah berlalu dan tidak ada yang bisa menjamin apakah kita akan bertemu Kembali di tahun mendatang. Semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amal ibadahnya tahun ini dan diberi umur Panjang dapat berjumpa kembali dengan Ramadan 1445 H. Selamat Idulfitri 1444 H, mohon maaf lahir dan batin. Wallahu a’lam.

Akhmad Fauzin (Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi)


Editor: Moh Khoeron
Fotografer: Rikie Andriyawan

Kolom Lainnya Lihat Semua

Lainnya Lihat Semua