Nasional

Memetik Pelajaran Hidup dari Siti Hajar

Jeddah (MCH) - Prosesi tawaf yang mempersatukan umat Islam seluruh dunia, boleh berhenti bagi setiap orang yang melaksanakannya. Namun, kebersamaan terus berlanjut manakala memasuki fase berikutnya yakni Sai dari bukit Safa dan Marwah yang letaknya lebih tinggi dari altar Ka`bah. Tepat kaki ini bersama jemaah yang lain menginjakkan bukit Safa, maka terbayanglah perjuangan Siti Hajar dalam mempertahankan hidup bagi dirinya dan Ismail, putranya. Setelah itu, secara bersamaan wajah dipalingkan mengahadap Ka`bah. Saat itu pula, terbayang bagaimana Ismail yang disandaran di Ka`bah dalam keadaan yang perlu air di tengah terik matahari. Ingatan ini terus melayang ke belakang, melukiskan keadaan di sekitar Ka`bah, bukit Safa dan Marwah yang tentu lebih gersang daripada sekarang. Karena itu, bagi jemaah haji yang melakukan napak tilas, hendaknya melakukan penjiwaan secara total ketika berada di bukit Shafa dan lorong-lorong yang mengantarnya sampai ke Marwah.

Melalui totalitas jiwa ini, siklus kita akan membawa pada perenungan masa lampau. Sosok Siti Hajar akan hidup kembali dalam bentuk kekuatan yang luar biasa di saat menghadapi penderitaan yang besar beserta putranya itu. Sepanjang jalan dari Safa dan Marwan ketika itu adalah padang gersang, penuh bebatuan yang runcing dan tajam terhampar. Begitu pun terik matahari yang menyengat kepala, membakar tubuh dan hempasan angin yang menusuk pori-pori terasa kering. Bayangan itu sangatlah kontradiktif dengan kondisi saat ini. Ini karena jejak-jejak Siti Hajar antara Safa dan Marwah telah berubah lantaran tanah yang dulu kasar kini terhampar pualam licin. Udara yang panas menyengat telah berubah menjadi sejuk. Kesan yang didapat secara fisik, Sai itu tidak ada tantangan apa pun.

Hal itu akan berbeda jika seluruh jiwa tenggelam dalam kesungguhan sehingga memenuhi ruang-ruang masa lampau. Atas dasar itu, maka hikmah yang diraihnya adalah berupa nilai perjuangan yang amat dahsyat bagi istri yang taat kepada suami, bertanggungjawab terhadap amanah yang diembannya dan selalu berserah diri pada Sang Khalik. "Subhana Allah. Betapa berat bila dirasakan keadaan yang dihadapi Siti Hajar beserta putranya. Tapi, itulah cara Allah Yang Maha Besar menguji orang-orang pilihan dan yang disayangiNya," begitu bisik hati ini seraya menyeka air mata yang menetes tanpa dirasa. Melalui Sai, jemaah mestinya menangkap simbol kemandirian Siti Hajar dalam memperjuangkan kehidupan untuk dirinya dan Ismail, putranya.

Dari perjuangannya yang tak mengenal lelah dan menyerah itu, Allah memberinya mata air yang hingga kini masih terus mengalir yakni Zam Zam. Hadiah dari Allah itu bentuk kasih sayang atas kesungguhan dan ketabahan dalam memperjuangkan kehidupan Siti Hajar. Ini hendaknya menjadi pelajaran penting dalam kehdupan umat Islam yang berjalan dan kadang berlari kecil antara Safa dan Marwah. Keadaan jalan yang menuju dua bukit itu ada kalanya mendatar dan ada kalanya naik. Mendatar seolah mencerminkan jalan kehidupan ini kadang menimbulkan perasaan tenang baik dalam himpitan maupun kebahagian. Sebaliknya, dua bukit itu dapat diambil gambaran bahwa dalam meraih kesuksesan hidup ini tidak mudah karena harus berani mewati berbagai rintangan.

Kunci untuk keberhasilan ini juga harus sertai dengan tawakal dan tindakan nyata, bukan bertopang dagu dan bermalas-malasan. Hal itu harus dilakukan supaya mampu meraih apa yang menjadi tujuan hidup, baik untuk dunia maupun kelak di akhirat. Tokoh sufi Jalaluddin Rumi mengatakan, "Tawakal dicintai Allah. Tuhan telah meletakkan tangga di depan kita agar kita mendaki hingga puncaknya. Anda punya tangan mengapa tak dilentangkan Anda punya kaki, mengapa dibiarkan lumpuh? Jika Anda ingin bertawakal, maka bertawakllah melalui pekerjaanmu yakni tebarlah bibit, barulah bertawakal." Tawakal yang dicontohkan Siti Hajar itu telah melibatkan seluruh kekuatan tubuh dan kekuatan batin. Pasalnya, ia gerakkan kaki dan tangannya untuk terus berusaha menembus padang gersang mencari kehudupan. Kekuatan batinnya adalah menyandarkan sepunuhnya kepda kasih sayang Allah sehingga menemukan mata air Zam Zam.

Hikmah lainnya, melalui Sai telah mengajarkan kesungguhan dalam segala hal, baik dalam menjalani kehidupan secara fisik maupaun rohani. Nabi Muhammad Bersabda, "Sungguh, Allah sangat senang jika salah satu di antara kalian melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh." Kesungguhan itu telah dicontohkan Siti Hajar melalui perjuangan antara Safa dan Marwah. Kini jemaah haji kita telah melakukan prosesi spiritual di antara dua bukit itu melalui Sai. Harapannya, setelah kembali ke kampung halaman bersama keluarga, semoga jemaah haji kita lebih istiqomah dalam menjalani kehidupan dan dapat mengalirkan kasih sayang bagi sesama, seperti mata air Zam Zam yang bisa dirasakan setiap orang. Semoga menjadi haji yang mabrur. (syaifullah hadmar)

Tags:

Nasional Lainnya Lihat Semua

Berita Lainnya Lihat Semua