220 Mahasiswa dan Dosen PTU Dilatih Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara 

Malang (Kemenag) --- Sebanyak 220 mahasiswa dan dosen Pendidikan Agama Islam pada sejumlah perguruan tinggi umum (PTU) berkumpul di Malang. Mereka mengikuti Basic Leadership Training Moderasi Beragama bagi Mahasiswa Islam di Perguruan Tinggi Umum (PTU) yang digelar Direktorat Pendidikan Agama Islam. 

Pelaksanaan kegiatan tersebut melibatkan Direktorat Bela Negara Ditjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani mengungkapan, penguatan Moderasi Beragama selaras dengan penguatan Bela Negara yang bertujuan untuk menjaga keutuhan bangsa dan mengoptimalkan sumber daya negara. “Kalau Moderasi Beragama digandengkan dengan Bela Negara, ini hal yang memiliki relevansi kuat. Kita semua memahami masalah bangsa ini banyak, dari struktur demografi hingga penggalian sumber daya alam yang perlu dioptimalkan, dan sebagainya,” jelas Dhani, panggilan akrabnya,  Kamis (29/7/2022).

Upaya tersebut perlu dilakukan kerjasama dengan semua pihak untuk mencapai tujuan bersama. “Ada sebuah kesadaran bersama bahwa saat ini tidak ada superman, yang ada adalah superteam. Membangun sebuah tim harus seirama dan sejalan,” sambungnya.

Dhani berpesan agar mahasiswa sebagai duta moderasi beragama di Perguruan Tinggi Umum dapat menjalankan agama sebaik mungkin sebagai bentuk pengejawantahan nilai moderasi beragama. “Saya ingin menyampaikan bahwa moderasi beragama pada dasarnya mengingatkan kepada kita semua agar kita umat muslim menjalankan agama sebaik mungkin karena setelah orang menjalankan agama sebaik mungkin maka hatinya akan digerakkan untuk senantiasa mencintai siapapun,” pungkasnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Direktur Bela Negara Kemenhan, Brigjen TNI Jubei Levianto. Dalam paparan materi penguatan Bela Negara, dia menjelaskan musuh utama di era digital saat ini adalah informasi negatif dan berita hoaks yang dapat berdampak pada pola pikir yang keliru.

“Kita lihat dulu pendiri bangsa kita berjuang mengusir penjajah, musuhnya sudah terlihat, Belanda kita usir, Jepang kita usir, Inggris kita usir. Kita sekarang dipertontonkan kepada hal-hal yang begitu negatif. Era Revolusi Industri 4.0 ini diintai dengan segala aktivitas kita menggunakan ponsel yang banyak diisi dengan berita hoaks,” paparnya.

Sejalan dengan Dhani, Jubei menjelaskan pemuda adalah aset bangsa yang menjadi penentu maju mundurnya negara. “Pemuda-pemuda diharapkan menjadi satu kekuatan yang luar biasa untuk membangun Indonesia. Tahun 2045 itu menjadi Indonesia emas. Tentu ini adalah milik adik-adik sekalian yang harus disiapkan dengan optimal dan tepat,” sambungnya.

Jubei berharap, civitas akademik di perguruan tinggi umum dapat menjadi agen perubahan bela negara di kalangan generasi muda, menjadi sebagai role model dalam aksi nyata bela negara, dan menjaga nama baik bangsa dan negara sebagai generasi muda Indonesia, kreatif, inovatif, cerdas, maju, dan berdaya saing.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Rektor Universitas Islam Malang Masyukri Bakri, Kasubdit Lindik Ditbelneg Ditjen Pothan Kemhan Kolonel Marinir Rachmat Djunaidy, Kasubdit PAI pada PTU M. Munir, PTP PAI pada PTU Adimien Dien, dan Ketua LP2M UIN Maliki Malang Agus Maimun.