93 Tahun Sumpah Pemuda dan Bahasa Kejujuran

Kita baru saja memperingati salah satu momen besar dalam perjalanan perjuangan bangsa, 93 tahun Sumpah Pemuda. Tepaatnya, 28 Oktober 1928, dalam Kongres Pemuda II di Jakarta, pemuda dari berbagai daerah, suku dan etnis yang ada di wilayah Kepulauan Nusantara menyatakan, "Bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia". Mereka sadar bahwa tanpa persatuan dan kebersamaan, perjuangan meraih kemerdekaan akan sia-sia.

Bagaimana sekarang? Apa setelah merdeka persatuan tetap penting? Beribu tahun lalu Confucius, Kongzi atau Khonghucu telah mengingatkan bahwa, "Kalau ada persatuan tidak akan ada masalah kekurangan orang atau tenaga". Kalau tanpa persatuan, 275 juta rakyat Indonesia bukan menjadi sumber kekuatan, melainkan akan menjadi sumber petaka yang tak akan ada ujungnya.

Mencius, Mengzi, cici murid Kongzi menekankan arti pentingnya persatuan. Sebuah negara yang mempunyai banyak peluang atau kesempatan atau sumber daya, termasuk keunggulan geografis, takkan ada artinya tanpa adanya persatuan.

Pada kesempatan lain Mengzi mengatakan, "Seorang pemimpin (negara) harus meyakini dan memegang teguh tanah air, rakyat (bangsa) dan pemerintahan sebagai mestika atau pusakanya. Bila dibandingkan dengan isi sumpah pemuda, sepintas ada perbedaan di butir ketiga, bahasa dan pemerintahan. Namun kalau didalami, sejatinya rohnya sama.

Dulu, semasa perjuangan, bahasa persatuan dibutuhkan untuk mengikat warga nusantara sebagai kesatuan. Kini bukan sekedar bahasa Indonesia yang dibutuhkan, melainkan bahasa yang satunya kata dan perbuatan. Rakyat akan melihat pemerintah bukan dari katanya, kebijakannya, atau apa yang tertulis dan terucap, melainkan apakah ada keselarasan, kesesuaiannya di lapangan. Ini yang harus dipegang teguh para pemimpin.

Setiap kebijakan, program atau apapun namanya, tidak sekedar baik dalam niat, tujuan, rencana, undang-undang atau peraturan, melainkan benar-benar nyata dan sama nafasnya di lapangan. Sebab, rakyat akan melihat apa yang nyata bukan yang dikatakan. Bila antara kata dan perbuatan benar-benar selaras-senafas, barulah persatuan benar-benar riil terwujud, karena ada keyakinan soal konsistensi dan keadilan. Kongzi menekankan, "Bila ada kesungguhan, niscaya akan berhasil. Bila ada keadilan, tidak ada persoalan dengan persatuan".

Kini, ketika kita memperingati 93 tahun Sumpah Pemuda, mari renungkan bersar pesan mendalam dari butir ketiga Sumpah Pemuda. Bukan sekedar bahasa Indonesia, tetapi Bahasa yang selaras antara kata dan perbuatan, antara kebijakan dan pelaksanaan. Bahasa kejujuran dan konsistensi yang dibutuhkan dari tingkat paling atas sampai paling bawah.

Bahasa yang perlu kita bangun bukan sekedar rangkaian kata yang dimengerti seluruh rakyat, tetapi lebih jauh lagi bahasa yang membuktikan bahwa apa yang kita jalani memang on the right track dan bukan sekedar harapan atau janji surga. Bila kita semua bisa mewujudkannya, Indonesia akan menjadi negara besar dalam artian sesungguhnya, bahkan sebelum 2045.

Pada kesempatan lain, Kongzi ditanya muridnya, apa faktor yang membuat sebuah negara berdiri kokoh? Beliau menjawab, "Harus cukup makan, cukup persenjataan, dan ada kepercayaan rakyat". Zi Gong, sang murid mengejar, "Di antara ketiganya mana yang terpenting?". Kongzi tegas menjawab, "Kepercayaan rakyat! Sejak zaman kuno banyak kelaparan dan kematian, namun tanpa adanya kepercayaan rakyat, negara tidak dapat berdiri!".

Semoga kita tetap teguh menegakkan bahasa persatuan kita, bahasa kejujuran yang merupakan cermin keselarasan kata atau kebijakan dengan kenyataan. Dengan demikian bahasa tidak sekedar menjadi alat komunikasi yang bisa dipahami bersama, melainkan lebih jauh lagi menjadi alat penguat rasa saling percaya sesama anak bangsa. 

Selamat merenungi makna sumpah leluhur kita: Sumpah Pemuda!

 

Budi S. Tanuwibowo (Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat MATAKIN atau Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia dan Wakil Ketua Umum Perhimpunan INTI atau Indonesia-Tionghoa)