Abinhapaccavekhana

Jiranti ve rājarathā sucittā Atho sarīram’ pi jaraṁ upeti. Satañca dhammo na jaraṁ upeti santo have sabbhi pavedayanti. Kereta kencana milik kerajaan akan menjadi lapuk, demikian pula tubuh manusia, akan menjadi jompo. Akan tetapi Ajaran Dhamma tidak akan lapuk. Orang-orang yang penuh pengendalian diri tanpa ragu-ragu menyadari kebenaran ini. (Dhammapada, Syair: 151)

Detik demi detik hidup kita terus berubah. Tanpa kita sadari waktu terus berjalan dan semuanya telah berubah begitu cepat. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu melawan waktu. Dia terus bergerak maju tanpa bisa dihentikan. Digunakan atau tidak digunakan, bersantai atau serius, menyenangkan atau tidak menyenangkan, sang waktu tidak pernah peduli dan terus melaju tanpa pernah kembali. Inilah realitas kehidupan yang tak mungkin bisa diingkari: semua mesti tunduk pada sang waktu.

Kesadaran akan waktu adalah amat penting. Biasanya kesadaran ini menjadi lebih tajam ketika kita menyadari perubahan pada diri kita, perubahan pada orang-orang di sekitar kita dan pada apapun yang terlihat oleh indria kita. Dari kecil menjadi besar lalu rapuh kemudian. Dari lahir bertumbuh menuju tua diiringi kesakitan dan kepayahan lalu berakhir pada kematian. Semuanya hanya muncul, berlangsung dan tenggelam mengikuti hukum perubahan seiring berjalannya waktu.

Perubahan pada apa yang tidak dikehendaki adalah hal yang menakutkan. Meskipun perubahan adalah kepastian yang tak terelakkan, tetapi kebodohan batin (moha) dan kelekatan (uppadana) terus memprovokasi agar kita mengingkari kenyataan ini. Ketika raga terus menua, berpacu dengan penyakit, kepayahan tubuh terus terjadi dan kematian serta perpisahan pasti terjadi, kita tetap pada pandangan dan keinginan agar tidak sakit, tidak menjadi tua bahkan jangan sampai mati. Keinginan semacam ini bukannya membuat hidup menjadi bahagia tetapi sebaliknya menjadi lebih menderita, tersiksa pada ketakutan rasanya menjadi sakit tua mati dan berpisah dengan apa yang dicintai.

Kesiapan beradaptasi pada perubahan perlu dilatih. Tujuannya agar siap berdamai dengan perubahan yang tak terelakkan itu. Hanya dengan kesiapan mental untuk menerima perubahan maka batin menjadi lebih damai, tenteram dan bebas dari ketakutan. Oleh karenanya Guru Agung Buddha mengajarkan kita latihan untuk berani menghadapi perubahan dengan melakukan perenungan berulang pada sakit, tua, mati dan perpisahan. Apa yang umumnya dihindari karena menakutkan dan tidak kita inginkan ini justru oleh Guru Agung Buddha, kita diajak untuk mengakrabinya sehingga muncul kesadaran penerimaan (acceptance) pada apa yang sudah pasti akan terjadi.  

“Aku wajar mengalami penuaan, aku takkan mampu menghindari penuaan. Aku wajar menyandang penyakit, aku takkan mampu menghindari penyakit. Aku wajar mengalami kematian, aku takkan mampu menghindari kematian. Segala milikku yang kusenangi dan kucintai wajar berubah wajar terpisah dariku”.

Perenungan kerap kali (abhinhapaccavekkhana) pada ketuaan, kesakitan, kematian dan perpisahan ini adalah teknik yang mengagumkan. Dengan mendaraskan, memahami, menyelami dan menyadari sifat perubahan secara berulang dan terus menerus memunculkan kebijaksanaan luhur yang membebaskan dari penderitaan mental. Apa yang tampak menakutkan akan semakin menakutkan jika tidak pernah berani dihadapi sebaliknya hal itu menjadi tidak menakutkan jika terus dikenali dan disadari. 


TERKAIT

Cinta Kasih Menebarkan Kedamaian

Menuju kepada Kristus

Janji Pemulihan dari Tuhan

Maria, Teladan Iman