Aktivis Perdamaian Solo Diundang ke Amerika

Solo, 3/5 (Pinmas) - Tiga aktivis Forum Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (FPLAG) Solo diundang dalam forum pendidikan dan training internasional tentang perdamaian antaragama, ras dan golongan. Forum tersebut berlangsung di Amerika Serikat dan Filipina selama dua bulan mulai 6 Mei hingga akhir Juni 2006, kata Ketua FPLAG Al Munawar di Solo, Rabu. Mereka yang akan dikirim untuk mengikuti pendidikan sebagai trainer perdamaian, antara lain KGPH Dipokusumo di Summer Peacebuilding Institute (SPI) di Eastern mennonite University, Virginia, Amerika Serikat.

Dua lainnya, Ade Irman dan Robert, dijadwalkan akan mengikuti Mindanao Peacebuilding Institute (MPI) di Filipina. Mereka yang dikirim dalam forum ini, kata dia, diharapkan memiliki tanggung jawab untuk menjadi trainer perdamaian lokal. Selama dua tahun terakhir ini, kata dia, Solo selalu mendapat jatah mengikuti forum pelatihan trainer perdamaian internasional tersebut. "Solo tampaknya selalu menjadi pilihan karena kota ini dikenal sebagai daerah rawan konflik antarras dan golongan maupun kelompok. Bahkan di mata internasional, kota ini sering dikenal sebagai sarang teroris," papar Al Munawar.

Ia berharap, wakil dari Solo itu mampu menjadi fasilitator menciptakan kerukunan antar ummat, golongan, kelompok dan ras di kota ini. Sementara itu aktivis FPLAG yang pernah mengikuti training tersebut, kini menjadi trainer perdamaian di sejumlah kota di Indonesia, kata Wakil Ketua FPLAG, Paulus menambahkan. Dua tahun ini FPLAG sudah mengirim empat aktivisnya ke forum tersebut. "Kita memang mendapat prioritas dari dua forum itu, karena diharapkan untuk menambah trainer-trainer perdamaian di Solo khususnya dan Indonesia pada umumnya," kata Al Munawar.

Untuk ajang MPI akan diikuti 200 peserta dari berbagai negara mulai Asia, Eropa, Afrika, Amerika Latin maupun Amerika Serikat sendiri. Mereka yang disiapkan sebagai trainer perdaimaian ini berasal dari berbagai elemen mulai tokoh agama, aktivis perempuan, pemuda, budayawan dan lainnya. KGPH Dipokusumo sendiri mengaku cukup tertantang mengikuti pelatihan ini, apalagi membawa nama Solo di mana selama ini dikenal sebagai kota rentan konflik dan sarang teroris.

"Saya dalam pelatihan itu pasti akan dicecar dengan pertanyaan seputar itu. Namun semuanya sudah kami siapkan jawaban dan paparan secara panjang-lebar. Ini tanggung jawab besar untuk menjelaskan kepada mereka dan semoga kebarangkatan saya ini ada manfaatnya bagi upaya menciptakan kerukunan di Solo dan Indonesia," katanya. (Ant/Ba)