Al-Audiyah, 10 Rasa Tangga Ruhani Sufi Raih Rida Ilahi

Jakarta (Kemenag) --- Lima dari 10 bab Tangga Ruhani para Sufi dalam meraih Rida Ilahi sebagaimana tertuang dalam Kitab Tanbih Al-Masyi karya Abdurrahman Al-Sinkili sudah dijelaskan oleh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman melalui utasan twitter nya. 

Hari ini, Humas Kemenag mencoba menghadirkan bab keenam, yaitu: Manzilah Al-Audiyah (rasa). “Ini merupakan persinggahan tangga ruhani keenam dan di dalamnya ada #10TanggaRuhani juga,” demikian Kepala Pengasuh Pesantren Al Hamidiyah Sawangan Depok mengawali utasannya sebagaimana dikutip Humas dari akun @Ofathurahman dengan beberapa penyesuaian, Kamis (6/5/2021).

Pertama, al-Ihsan (baik). Yakni engkau sembah Tuhanmu seakan melihatnya. Merasa melihat dan dilihat, menghadirkan-Nya setiap saat. Ihsan adalah inti iman, puncak kebaikan. “Tidak ada balasan ihsan kecuali ihsan pula,” demikian Oman menjelaskan sembari mengutip QS al-Rahman: 60.

Tangga ruhani kedua pada Manzilah Al-Audiyah adalah al-‘Ilm (ilmu). Yakni pengetahuan yang didasarkan pada argumen, dan menghilangkan kebodohan. Ada ilmu yang bisa didengar, dilihat, dan dicerna; ada ilmu yang hanya diketahui orang tertentu. 

“Ada juga ilmu yang diperoleh melalui ilham-Nya,” jelasnya.

Ketiga, al-Hikmah (hikmah). Yakni, mengetahui rahasia segala sesuatu, memahami hubungan sebab akibat. Hikmah berarti bijak, menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak berlebihan, tidak mnyegerakan waktu yang sudah ditetapkan, juga tidak menundanya.

Al-Bashirah (mata batin) menjadi tangga ruhani keempat. Maksudnya, kekuatan batin yang melampaui penglihatan lahir, menyingkap hijab, dan menghilangkan keraguan atas hal ghaib. “Pengetahuan mata batin menuntun pada kebenaran hakiki, memilahnya dari pngetahuan lahir nan nisbi,” jelas Oman.

Tangga ruhani kelima adalah al-Firasah (firasat). Yaitu, mengenali hal ghaib melalui mata batin, tanpa perlu saksi atau bukti kehadirannya. Firasat diperoleh dengan memperhatikan tanda-tanda. Ia tidak didatangkan, tapi masuk ke dalam hati tanpa diketahui penyebabnya.

“Keenam adalah al-Ta’zim (pengagungan), yakni mngetahui dan tunduk pada Keagungan al-Haq, tidak menyalahi perintah-Nya, tidak meratapi takdir-Nya,” ujar Oman. 

“Pengagungan juga berarti tidak memilih amaliah yang menggampangkan atau meréméhkan, sebaliknya tidak berlebihan,” lanjutnya.

Ketujuh, al-Ilham (ilham). Maksudnya, pengetahuan Rabbani (dari Tuhan) yang meresap ke dalam hati. Ilham itu maqom para ahli hadis (al-muhadditsin). Ia lebih tinggi dari firasat karena lebih permanen. “Firasat hanya datang sesekali dan terkadang menyulitkan,” terang Oman.

Berikutnya, tangga ruhani yang kedelapan adalah al-Sakinah (ketenangan). Tangga ini membawa pada keadaan di mana jiwa merasa tenteram setelah menghadapi guncangan, kegelisahan, dan ketakutan. Ketenangan diberikan kepada Rasulullah Saw saat bersembunyi di Gua Hira. Al-Sakinah adalah anugerah dari-Nya.

Kesembilan, al-Tuma’ninah (tenteram). Yakni, istirahat, tenang dengan rasa aman. Al-Harawi, kata Oman, mengartikan al-tuma’ninah sebagai ketenangan yang diperkuat dengan rasa aman hakiki. “Tuma’ninah adalah puncak sakinah. Kalau sudah sakinah, maka akan merasakan tuma’ninah,” tuturnya.

“Terakhir adalah al-Himmah (hasrat). Yakni gairah kuat yang menggerakkan diri untuk mencapai tujuan, tidak bisa dibendung atau dihindari oleh pemiliknya. Himmah tertinggi adalah ketergantungan pada al-Haq. Kualitas hamba terletak pada himmah yang dimilikinya,” tandas Oman.