Al-Qur’an Tegaskan Persamaan Derajat Manusia

Peristiwa diturunkannya ayat pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw pada 17 Ramadan/ 6 Agustus 610 M menjadi titik pancang perubahan terbesar dalam sejarah agama dan kemanusiaan. Momentum tersebut dikenang oleh umat Islam sebagai peringatan Nuzulul Qur’an. Umat Islam “mengheningkan cipta” memperingati turunnya Al-Qur’an dengan ibadah puasa Ramadan. Bulan suci Ramadan juga disebut sebagai Syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an).     

Seorang cendekiawan Barat yakni James Michiner dalam sebuah tulisan yang dikutip oleh Prof. Dr. H.A. Mukti (Menteri Agama periode 1971 - 1978) mengemukakan kesan tentang Al-Qur’an. Menurutnya, “Al-Qur’an boleh jadi kitab yang paling banyak dibaca di muka bumi dan pastilah yang paling banyak diingat dan mungkin paling berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari umatnya. Kitab ini belum setua Perjanjian Baru, tertulis dalam gaya yang cemerlang. Kitab itu bukan puisi dan prosa, namun mengandung potensi untuk membangkitkan gairah iman para pembaca dan pendengarnya. Al-Qur’an itu sangat praktis memberikan pembahasan tentang kehidupan yang ideal.” ungkap Michiner.

Al-Qur’an adalah petunjuk universal bagi seluruh umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Penggunaan kata seru dan lafaz dialog; “Ya Ayyuhannas” (wahai seluruh manusia) disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 18 kali. Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan terbuka dipelajari oleh semua manusia. Di dalam rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an ditegaskan ke-Esaan Allah dan persamaan derajat sesama manusia yang diciptakan-Nya.  

Seluruh isi Al-Qur’an, dimulai dari surah Al-Fatihah (1) dan ditutup dengan surah An-Naas (114) seratus persen adalah wahyu Allah. Keotentikan Al-Qur’an dijamin oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa, sampai akhir zaman. Dalam Al-Qur’an diungkapkan proses kejadian alam semesta, penciptaan manusia sejak dari manusia pertama Nabi Adam, perjalanan sejarah umat manusia sebagai khalifah Allah di bumi, hukum-hukum kehidupan, dan alam yang kekal setelah kehidupan duniawi. Semua informasi Al-Qur’an tentang dunia dan akhirat tidak ada keraguan di dalamnya.   

Peringatan Nuzulul Qur’an adalah pengingat kepada setiap muslim untuk senantiasa memuliakan Allah di atas segala sesuatu dan menghargai setiap manusia dengan segala keragamannya. Semua manusia berasal dari Nabi Adam dan Adam diciptakan dari tanah, sehingga tidak ada kelebihan satu bangsa dari bangsa lain, tidak ada kelebihan seorang manusia dari manusia lain kecuali karena takwanya kepada Allah.

Islam dengan ajarannya yang progresif dan inspiratif membongkar akar feodalisme dan eksploitasi sesama manusia sebagai penghalang kemerdekaan dan kesetaraan manusia. Keharusan menghargai martabat manusia berangkat dari keyakinan bahwa Allah meniupkan roh-Nya pada kejadian setiap insan di dalam rahim ibunya. 

Manusia bukan hanya sebagai makhluk biologis dan makhluk bumi, tetapi sekaligus makhluk spiritual karena eksistensi manusia terhubung dengan Ilahi Rabbi. Sewaktu ada orang yang meninggal dunia dianjurkan mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”, sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan kita akan kembali kepada-Nya.    

Dalam Al-Qur’an dijelaskan, Allah memuliakan anak keturunan Adam, Allah angkut mereka dengan kendaraan di darat dan di laut serta diberi-Nya rezeki dari yang baik-baik dan dilebihkan dari kebanyakan makhluk yang diciptakan-Nya dengan kelebihan yang sempurna. (Q.S. Al-Israa [17]:  70). 

Menurut sebuah Hadis Qudsi, Allah SWT tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia daripada akal-pikiran yang diberikan-Nya kepada manusia. Tetapi, apabila manusia mengabaikan petunjuk Ilahi, tidak menggunakan hati, mata dan telinga sebagaimana mestinya, ia bisa jatuh ke dalam posisi yang serendah-rendahnya.

Islam mengajarkan cara pandang terhadap sesama manusia dalam perspektif persamaan derajat dan kemuliaan martabat kemanusiaan. Ajaran tersebut melahirkan prinsip persamaan manusia di mata hukum. Islam lebih jauh menegakkan prinsip-prinsip kemerdekaan, toleransi dan hak asasi manusia di atas landasan tauhid dan perlindungan martabat manusia. Semua manusia bersaudara dalam iman atau kemanusiaan. Sahabat Rasulullah, Khalifah Ali bin Abi Thalib, mengatakan, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, saudaramu dalam kemanusiaan.” 

Satu ketika iringan orang membawa jenazah lewat di depan Rasulullah, Nabi yang mulia itu berdiri dengan sikap menghormati. Salah seorang sahabat memberi tahu itu jenazah seorang Yahudi. Rasulullah mengatakan, “Bukankah dia seorang manusia?”

Kejadian di zaman Umar bin Khattab, ia menegur keras putra Gubernur Mesir setelah menerima pengaduan seorang rakyat biasa, pemuda Koptik, yang dipersekusi dipukul punggungnya oleh putra gubernur yang kalah dalam lomba pacuan kuda, menarik dipetik hikmahnya. Khalifah Umar bin Khattab mengucapkan kata-kata yang berkesan sepanjang sejarah, “Hai Amar, sejak kapan engkau memperbudak manusia padahal mereka dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merdeka?”

Umat Islam haruslah menjadi pionir terdepan dalam menegakkan dan membela nilai-nilai kemanusiaan sejalan dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dalam uraian hikmah Peringatan Maulid Nabi Nabi Muhammad Saw di Istana Negara Jakarta tanggal 24 Mei 2002 M/12 Rabiul Awal 1423 M mengemukakan, “Sepanjang keberadaannya, Islam telah membangun peradaban besar yang telah memberikan sumbangan sangat menentukan dalam sejarah peradaban umat manusia hingga ke zaman kita sekarang ini. Demikian pula sumbangannya dalam rangka mengakui dan menghormati harkat dan martabat manusia. Tidaklah berlebihan kiranya, jika kita mengatakan bahwa Islam adalah agama kemanusiaan (religion of humanity).” 

Islam mengajarkan, setiap manusia harus dihargai karena ia dilahirkan sebagai manusia, sebagai satu pribadi yang utuh. Ilmu, kekuasaan dan kekayaan tidak menentukan tinggi-rendahnya nilai kemanusiaan seseorang. Sikap menghargai manusia yang kini mulai luntur dalam masyarakat perlu dibudayakan kembali. Jangankan menyakiti dan membunuh, merendahkan dan mengolok-olok sesama manusia adalah perbuatan terlarang dalam agama. 

Sikap jujur dan objektif tidak boleh dikalahkan oleh pandangan sempit. Mereka yang berbeda keyakinan atau berbeda pendapat bukanlah musuh, melainkan kawan dalam berpikir. Sebagaimana pesan Al-Qur’an, “Janganlah sekali-kali kebencianmu kepada satu kaum, mendorong kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Maidah [5]: 8).

Seorang pahlawan bangsa Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengajarkan sikap teladan yang mencerminkan jiwa Islam, "Jangan pernah kehilangan objektifitas meskipun terhadap mereka yang tidak kita sukai." 

Selamat menggali hikmah Nuzulul Qur’an. Semoga kehidupan kita bertambah baik. 

M. Fuad Nasar (Sesditjen Bimas Islam)