BDK Semarang Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani

Semarang (Kemenag) --- Proses reformasi birokrasi terus berjalan di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang.  Setelah mendapat predikat Zona Integritas (ZI) Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), BDK Semarang saat ini berproses menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) bersama 54 satuan kerja lainnya di Kementerian Agama.

Penyiapan ini dibahas bersama dalam Evaluasi Pembangunan Zona Integritas WBBM di Auditorium Utama BDK Semarang. Hadir,  Tim Evaluasi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN & RB).

“Kami atas nama Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama mengapreasiasi segala upaya yang telah dilakukan untuk mengaktualisasikan komitmen penjaminan mutu di BDK Semarang,” kata Sekretaris Badan (Sesban) Litbang dan Diklat Kemenag, H Muharam Marzuki, saat memberikan sambutan secara daring, Kamis (25/11/2021).

Menurutnya, dari 14 Balai Diklat Keagamaan di Indonesia, baru BDK Semarang yang mampu mencapai fase ini. “Hari ini perjuangan panjang dan berliku BDK Semarang telah sampai pada ujung proses evaluasi, utamanya evaluasi dari Tim Evaluasi dari Kementerian PAN & RB. Besar harapan kami, proses ini memberi hasil optimal sebanding degan segala ikhtiar yang telah dilakukan,” harap Muharram.

Atas capaian ini, pria asli Betawi ini mengapresiasi dan mendukung BDK Semarang yang telah mendeklarasikan diri sebagai BDK KITA (Komitmen, Inovasi, Transparan, dan Amanah). “Hal ini diperkuat dengan perolehan sertifikasi ISO 9001:2015 tentang Manajemen Mutu dan ISO 37001:2016 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan,” sambung mantan Kepala Puslitbang BALK Balitbang Diklat ini.

Sertifikat ISO, lanjutnya, tentu dapat menambah eviden mutu lembaga yang telah diraih sebelumnya, yaitu predikat ZI WBK. 

Doktor jebolan Universitas Baranas Hindu India tahun 1993 ini menambahkan, saat ini Kemenag sedang terus berupaya mewujudkan good governance. Untuk itu, optimalisasi dan peningkatan mutu pada semua dimensi layanan setiap unit kerja milik pemerintah menjadi tagihan utama.

Model bagi BDK lain
Kepala BDK Semarang, Anshori Abdurrahman berharap proses menuju WBBM yang berlangsung di BDK Semarang dapat menjadi model, spirit, dan semangat bagi seluruh BDK dan satker Balitbang Diklat Kemenag. Dia mengaku telah melakukan berbagai upaya dan langkah-langkah strategis agar BDK Semarang bisa mendapat predikat WBBM dengan bimbingan Tim Itjen Kemenag dan Kementerian PAN dan RB.

“Kami haturkan selamat kepada keluarga besar BDK Semarang. Teruslah berinovasi dan meningkatkan mutu layanan. Jangan terlena dengan capaian saat ini, karena dinamika kebutuhan layanan stakeholders akan terus berubah seiring dengan pergerakan waktu,” pesannya.

Ketua Tim ZI, Rr. Sri Sukarni Katamwatiningsih, mengaku  bahagia  berhasil melewati proses persiapan evaluasi WBK/WBBM. Selama ini, dia terus berupaya membangun semangat kekompakan di antara pegawai BDK Semarang.

“Kami saling terbuka. Jika ada kritikan dari pimpinan disampaikan secara terbuka di grup WhatsApp. Tidak harus langsung dijapri satu-satu. Jadi, di tempat kami ada beberapa aturan (tak tertulis) yang intinya itu sebetulnya punishment (hukuman). Tapi teman-teman tidak merasa dihukum, sebaliknya sebagai cambuk penyemangat. Jadi, harus bisa mengkondisikan teman-teman agar bisa berjalan baik,” ujarnya.

Anggota Tim Kerja ZI WBK-WBBM BDK KITA,  Amiroh Ambarwati menambahkan, evaluasi juga dihadiri Tim Monitoring dan Pendamping dari Itjen Kemenag, pejabat struktural dan fungsional BDK Semarang, seluruh Tim Kerja ZI WBK-WBBM BDK Semarang, perwakilan alumni pelatihan, serta utusan dari Kemenag Kab Bantul.

Ikut bergabung secara virtual, perwakilan Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Ristek, perwakilan BDK Banjarmasin, BDK Jakarta, BDK Surabaya, BDK Medan, Kemenag Kabupaten Pekalongan, Banyumas dan Kota Magelang. (Ova)