Bedah Buku, Kemenag Kaji Dampak Covid-19 terhadap Praktik Keberagamaan

Jakarta (Kemenag) --- Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kemenag kembali menggelar bedah buku. Kali ini, buku yang menjadi bahan diskusi berjudul Virus, Manusia, Tuhan, Refleksi Lintas Iman tentang Covid-19, karya DR Fatimah Husein dari Assiciate Director ICRS Yogyakarta.

Diskusi ini menghadirkan  pembahas dari MUI, KH Cholil Nafis, dari Universitas Hindu Indonesia (UNHI) I Ketut Ardhana, dan Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha, Kemenag, Supriyadi.

Memberi pengantar diskusi, Kapuslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, M Adlin Sila, menyampaikan bahwa buku ini mengulas refleksi lintas iman dan lintas disiplin keilmuan  terkait pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hamper dua tahun. 

"Pandemi telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, baik kesehatan, ekonomi, pendidikan, keagamaan dan lain-lain," kata M. Adlin Sila di Jakarta, Kamis (2/9/2021).

"Banyak tulisan telah dipublikasikan. Namun, ICRS menghadirkan yang berbeda. Bagi ICRS, peristiwa ini sekaligus menjadi kesempatan untuk membuka percakapan lintas agama dan lintas kepercayaan yang bermakna, tidak hanya sekedar untuk memahami perbedaan atau mencari kesamaan, tapi menghadapi tantangan secara bersama," tambahnya.

Penulis Buku, DR Fatimah Husein menyampaikan bahwa Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) ingin menawarkan hasil refleksi teologis, filosofis, dan etis atas Pandemi Covid-19 dari berbagai pakar serta ahli di bidangnya dan komunitas keimanan mereka. "Artikel-artikel dalam buku ini diharapkan mencerminkan tingkat yang lebih dalam dari sudut pandang teologi, filsafat, dan etika atau metafisika," kata Fatimah Husein.

Dijelaskan Fatimah Husein, ICRS merupakan konsorsium yang dibentuk tahun 2006 oleh UGM, UKDW, dan UIN Sunan Kalijaga. Kolaborasi akademis ini dimanifestasikan dalam program doktoral internasional di Sekolah Pascasarjana UGM yang bernama Inter-religious Studies, yang hingga kini dijalankan secara bersama-sama oleh ketiga Universitas tersebut. Selain itu, tak sedikit aktivitas penelitian dan pendidikan publik juga telah dikembangkan ICRS.

Fatimah Husein juga menjelaskan bahwa para kontributor dalam buku ini terdiri dari sarjana-sarjana, teolog di bidang masing-masing, dan perwakilan dari komunitas lintas iman yang disegani dan didengar oleh umat yang meneladani mereka. Para penulis berlatar belakang agama Islam, Protestan, Katolik, Konghucu, Buddha, Hindu Bali, Hindu Kaharingan, Baha'i dan Penghayat Kepercayaan.

"Pandemi ini juga telah membuka kembali ketegangan antara agama dan sains. Di satu sisi ada ketidakpercayaan sebagian umat beragama terhadap virus, dokter, ilmuan. Dan sisi lain ada anggapan dari sebagian ilmuan bahwa umat beragama itu anti sains,” ujarnya.

Dampak Keberagamaan
KH Cholil Nafis dari MUI menjelaskan bahwa  pandemi Covid-19 telah berdampak pada adanya perubahan lanskap keberagamaan di masyarakat, dan polarisasi otoritas agama. "Tidak sedikit kegiatan pengajian-pengajian dilakukan secara online. Narasi keagamaan di media sosial dan pedukuhan melihat pandemi ini merupakan peringatan Tuhan terhadap ketamakan manusia," kata KH Cholil Nafis.

Isu lainnya adalah, lanjut KH Cholil Nafis, soal ijtihad akar rumput. Pandemi Covid-19 telah mengubah secara cepat religiositas masyarakat di akar rumput. Perubahan ini merefleksikan reinterpretasi teologis dan penalaran keagamaan bukan hanya dari ulama, tetapi juga masyarakat awam.

"Ijtihad akar rumput telah melahirkan cara beragama yang tidak terbayang sebelumnya. Di sinilah perlunya penyikapan konstruktif atas wabah ini dengan spritualitas yang cosmotheandric, bahwa Tuhan, dunia, dan manusia yang tidak terpisahkan," tambah KH Cholil Nafis.

Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha, Kemenag, Supriyadi, menyampaikan bahwa dari sudut perspektif agama Buddha, pandemi Covid-19 menjadikan terjadinya transformasi pemahaman tentang karma, bahwa karma itu bukan takdir dan dapat diubah.

I Ketut Ardhana menyampaikan bahwa dalam melihat dan menghadapi Pandemi Covid-19 ini, diperlukan kemauaun dan kemampuan untuk membangun rekonsiliasi lintas agama, lintas etnis, lintas gender, yang tidak hanya didasarkan atas toleransi saja, tetapi juga atas pemahaman bahwa semua kelompok adalah rentan terhadap covid-19 serta menderita.

"Perlunya kerja sama dalam menangani dampak Covid-19, bahwa beragama dapat saling menghargai sesama manusia dengan segala keterbatasannya," tutup I Ketut Ardhana.