Bekerja Bebas dari Pertentangan

Yañce viññū pasaṁsanti, Anuvicca suve suve. Acciddhavutiṁ medhāviṁ, Paññāsīlasamāhitaṁ. Setelah memperhatikan secara seksama, orang bijaksana memuji ia yang menempuh kehidupan tanpa cela, pandai serta memiliki kebijaksanaan dan sila. (Dhammapada, Syair: 229)

Salah satu faktor yang dapat mengkondisikan kebahagiaan kita adalah kepemilikan harta kekayaan. Dengan harta kekayaan kita dapat memenuhi kebutuhan hidup, berbuat baik dan mengembangkan diri kita. Harta kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara yang benar dan dipergunakan dengan cara yang benar pula akan menghasilkan kebahagiaan. Sebaliknya harta kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara yang salah dan apalagi dipergunakan dengan tidak bijaksana akan menimbulkan penderitaan. 

Ajaran Buddha tidak hanya ditujukan kepada para pertapa (Bhikkhu) yang tidak terlalu bersinggungan dengan uang dan kerja tetapi juga kepada umat perumah tangga yang perlu mengumpulkan uang dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Baik Bhikkhu maupun perumah tangga mempunyai latihan yang sama dalam memperoleh tujuan kehidupan yakni moralitas (sīla), pengembangan batin (Samādhi) dan kebijaksanaan (pañña). Seorang perumah tangga yang mesti bekerja tetap perlu menjalankan sīla, Samādhi dan pañña dalam kehidupan sehari-hari agar terbebas dari penderitaan.    

Di dalam Maṅgala Sutta (Sutta Nipata 2.4 dan Khuddakapațha 5) disebutkan “anākulā ca kammantā, etammaṅgalamuttamaṁ” yang berarti bekerja bebas dari perselisihan atau pertentangan adalah berkah utama. Penjelasan tentang sutta ini diberikan salah satunya oleh Ven. Weragoda Sarada Mahathero dalam buku Maha Mangala Sutta The Highest Blessing menurut beliau kammanta dapat berarti perbuatan, bekerja, berbisnis, mata pencaharian sedangkan anākula adalah adalah segala tindakan yang tidak mengakibatkan perselisihan atau kecemasan. Dalam konteks bekerja atau mata pencaharian sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mendapatkan kekayaan, apabila ingin mendapatkan berkah utama semestinya dilakukan dengan tanpa menimbulkan perselisihan, pertentangan bahkan permusuhan.

Seseorang dapat saja memperoleh uang berlimpah dari pekerjaannya tetapi senantiasa dalam perselisihan dan ketidakrukunan dengan keluarga, mitra kerja, atasan, bawahan maupun pelanggan maka hal ini tidak memberikan kebahagiaan yang utuh dan mulia. Tetapi bila dalam bekerja dapat menghindari perselisihan dengan siapapun hal ini akan memberikan kebahagiaan terutama saat bekerja itu sendiri. Jadi dalam hal ini berkah utama itu bukan hanya pada saat menerima hasil dari apa yang kita kerjakan tetapi juga saat menjalani proses bekerja kita mendapatkan berkah yakni rukun, nyaman dan bisa bekerja sama dengan siapa saja karena tidak ada perselisihan. Ini semua dapat terjadi apabila kita dalam bekerja memperhatikan aturan-aturan yang ada (praktik sīla), senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran baik dan bebas dari benci (praktik samādhi) dan bijaksana dalam mengambil keputusan karena mempunyai wawasan yang luas (praktik pañña).   

Saat bekerja kita akan berhadapan dengan situasi yang mungkin dapat menimbulkan perbedaan cara pandang, perbedaan sikap, perbedaan keputusan tetapi bukan berarti hal ini mesti menjadi sumber pertentangan dan perselisihan. Namun juga bukan menjadi pembenar untuk tindakan kerjasama persekongkolan yang dapat merugikan institusi tempat bekerja atau mitra kerja. Dengan mengedepankan prinsip-prinsip Dhamma maka pengendalian diri akan muncul sehingga tidak menyebabkan ketidakharmonisan dalam bekerja. Justru bekerja menjadi latihan praktik Dhamma sekaligus sebagai upaya mengurangi penderitaan hidup yang lebih nyata. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.