Belajar Praktik Moderasi Beragama dari Masyarakat Dersalam Kudus

Kudus (Kemenag) --- Angka penunjuk waktu di ponsel pintar saya menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tak seperti malam-malam lainnya, Jumat (24/9/2021) malam ini, saya bersama 10 teman tengah berada di ruang tengan Balai Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Jawa Tengah. Tampak kursi-kursi yang disusun berjarak di ruangan ini sudah terisi. Sesaat lagi, diskusi Dersalam Ngaji Moderasi: Ngabekti Marang Gusti, Urip Kang Gemati akan segera dimulai. 

Diskusi ini istimewa, karena dihadiri tokoh dari lima agama, tokoh masyarakat, bahkan penghayat kepercayaan di desa yang telah menjadi tempat pengabdian kami selama tiga minggu terakhir ini. Ya, kami bersebelas, sudah  hampir tiga minggu berada di Desa Dersalam. Program Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Kompetensi (KKN IK) dari kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, menjadi alasan keberadaan kami di sini. 

Perjalanan pengabdian KKN IK ini mengusung tema bhakti tumraping bumi, ekonomi lan moderasi. Memberikan pengabdian untuk bumi/lingkungan, ekonomi dan moderasi beragama. Di bawah bimbingan dosen Rofiq Addiansyah, serangkaian kegiatan pun disusun dan dilaksanakan sejak 6 September-6 Oktober 2021. Salah satunya, Dersalam Ngaji Moderasi. 

Meskipun mulanya ada di sini sebagai tugas pengabdian, tapi nyatanya kami malah bersyukur bisa berada di desa ini. Banyak pelajaran yang kami peroleh dari desa yang konon namanya berasal dari Bahasa Arab, daar yang berarti desa dan assalam yang artinya selamat. 

Seperti malam ini, bersama dengan warga, kami belajar bersama tentang moderasi beragama. Di balai desa ini telah hadir tokoh Islam Moh. Rosyid, tokoh Buddha Pandita Suparno Bodhi Cakra, tokoh Kristen Pendeta Erick Sudharma, ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kudus I Putu Dantre, serta tokoh penghayat kepercayaan Sapto Darmo Bapak Norlan. 

Madhang Geden, Kearifan Lokal Desa Dersalam Selesaikan Konflik 

Acara malam ini dibuka dengan sekapur sirih dari tokoh Desa Dersalam Setya Gunawan Wahib Wahab. Pria yang akrab disapa Wawan ini mengisahkan, kehidupan keberagamaan di Desa Dersalam selalu berlangsung damai. 

Wawan menuturkan, desa berpenduduk lebih dari tujuh ribu jiwa ini kerap menyelesaikan masalah dengan cara madhang geden (makan bersama). Melalui tradisi ini, warga yang berkonflik akan diajak duduk dan makan bersama, untuk mencari solusi terbaik bagi tiap permasalahan. Ini menjadi resep masyarakat Dersalam untuk dapat hidup damai. 

Tradisi yang telah berlangsung lama ini, terus dilakukan di era serba digital saat ini. “Setiap ada riak kecil di Whatsapp grup warga, solusinya diajak madhang geden. Itu sudah langsung beres,” ungkap wawan. 

Pembahasan mengenai kerukunan hidup masyarakat ini makin menarik ketika tiap-tiap tokoh agama membahas sudut pandangnya terkait tema diskusi malam ini, Ngabekti Marang Gusti, Urip Kang Gemati

Pandita Suparno mengungkapkan bahwa moderasi beragama artinya pengamalan agama melalui jalan tengah. Menurutnya, ngabekti marang Gusti mengandung makna tugas manusia adalah menaati perintah Tuhan. Yaitu membersihkan raga, macak semedi (merapal) memusatkan perhatian pada Gusti.

Ngabekti itu ada istilah jiwo lan rogo, rogo lan sukma. Raga harus dibersihkan, dalam jawa itu adus kramas. Setelah itu pacak semedi, mengalahkan nafsu panca indera,” ungkapnya.

Sedangkan pengertian urip kang gemati adalah proses kehidupan yaitu dengan melaksanakan kewajiban Gusti dan melaksanakan kehidupan bermasyarakat.

Urip kang gemati artinya hidup itu berproses, hidup itu tidak berhenti,” tuturnya.

Dia mengatakan manusia harus hidup mengayomi layaknya pohon besar, artinya memberi teduhan pada makhluk lain dan memberi manfaat.

Suparno mengungkapkan hidup ada dua kebutuhan supaya menjadi harmonis dan tentram. Yaitu menuruti kebutuhan hidup dan menuruti kebutuhan keinginan. Jika ingin tentram, harus mengikuti kebutuhan hidup.

Urip kang gemati itu adalah ngabekti yang tulus lahir batin,” ujar Suparno.

Sedangkan dari sisi agama Kristen, Pendeta Erick mengungkapkan bahwa tugas manusia sesuai dengan Al-Kitab ada dua, yaitu mengabdi pada Tuhan Allah dan mengasihi makhluk seperti mengasihi diri sendiri.

Dia mengungkapkan lima nilai dalam kekristenan yang harus ditaati sebagai acuan hidup sebagai poin dari urip kang gemati.“Ada nilai yang patut dijunjung tinggi, yaitu kasih, kebenaran, keadilan, perdamaian, dan kebutuhan cipta. Dan saya pikir lima nilai ini ada di semua agama. Untuk kita saling mengasihi butuh kesadaran pada nilai kemanusiaan yang Tuhan karuniakan pada kita,” ungkapnya.

Sementara tokoh muslim Moh. Rosyid menyampaikan bahwa keragaman adalah kehendak dari Allah SWT.  Ia berpandangan, moderasi beragama harus menjadi kesadaran bagi seluruh masyarakat. Utamanya para aparatur negara.

“Moderasi beragama sangat penting bagi aparatur desa, karena urusan keagamaan harus diselesaikan secara adil,” ungkap Rosyid. 

Ia pun berbagi pengalamannya saat menyelesaikan kasus pembagian kuburan. Suatu kali, ia pernah menengahi kasus seorang penghayat kepercayaan yang meninggal, kemudian mendapat penolakan masyarakat saat ingin dimakamkan di pemakaman umum desa. 

Setelah berdiskusi, diperolehlah hasil bahwa makam tersebut adalam makam umum. Semua warga, dari agama atau kepercayaan manapun dipersilahkan memakamkan disitu.

“Menurut saya ini adalah bentuk moderasi yang tinggi, dan harus diaplikasikan di Desa Dersalam ini,” kata Moh Rosyid. 

Diskusi hangat malam itu diakhiri dengan doa  dari agama Islam, Budha, Kristen, Hindu, serta doa Penghayat Kepercayaan Sapto Darmo. Semua berharap, semoga kehidupan rukun dan damai senantiasa melingkupi masyarakat Desa Dersalam.  (Melina)