Belenggu Individual

Sabbasaṃyojanaṃ chetvā, yo ve na paritassati; saṅgātigaṃ visaṃyuttaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ. Ia telah memotong semua belenggu, tidak lagi gemetar, yang bebas dan telah menghentikan semua ikatan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.(Dhammapada, Syair 397)

Penderitaan (dukkha) merupakan hakekat dari kehidupan ini. Penderitaan yang dialami bukanlah disebabkan oleh faktor dari luar diri manusia. Tetapi berasal dari dalam diri manusia, yaitu: nafsu keinginan (tanha). 

Nafsu keinginan yang tidak dapat dibendung dan diatasi akan menimbulkan berbagai macam persoalan dalam kehidupan. Persoalan inilah yang merupakan penderitaan. 

Ketidaktahuan tentang kehidupan sebagaimana adanya membuat seseorang sulit menerima perubahan. Ia akan berusaha mencengkeram apapun yang menyenangkan karena dianggap merupakan kebahagiaan. Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan kenikmatan dan kesenangan yang ada untuk memenuhi nafsu keinginannya. 

Padahal segala sesuatu di alam semesta ini utamanya kehidupan tidaklah kekal; selalu berubah setiap saat. Kenikmatan dan kesenangan itu pun pada saatnya juga akan berubah.  

Ada tiga macam kekotoran batin sebagai akar kejahatan yang membelenggu manusia, yaitu: keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Kotoran batin inilah yang sesungguhnya merupakan sumber penderitaan.

Dalam agama Buddha dikenal belenggu (samyojana) yang mengikat manusia dalam lingkaran kelahiran dan kematian (samsara). Selama belenggu penderitaan belum dapat dihentikan, kelahiran dan kematian akan terus berlangsung. Penderitaan pun akan terus dialami.

Berkaitan dengan belenggu penderitaan, dikenal adanya belenggu individual. Dalam Sutta Pitaka, belenggu individual adalah tiga belenggu pertama dari sepuluh belenggu. 

Pertama, sakkaya-ditthi atau pandangan salah tentang adanya pribadi, jiwa atau “aku” yang kekal. Kedua, vicikiccha atau keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya. Terakhir, silabbatta-paramasa atau kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan upacara keagamaan, seseorang dapat terbebas dari penderitaan dan mencapai kebebasan. 

Seseorang yang berhasil menghentikan tiga belenggu ini disebut pemasuk arus (sotapanna) karena telah memasuki arus menuju Pembebasan Mutlak (Nibbana). Mereka adalah orang suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi dan tidak akan lahir ke alam rendah. Tingkat kesucian yang dicapai disebut sotapatti, sedangkan orang yang mencapainya disebut sotapanna.

Dalam Anguttara-Nikaya dikatakan: “Tetapi Ia belum berhasil membebaskan dirinya dari hawa nafsu. Ia telah terbebas dari kelahiran kembali sebagai makhluk neraka, hantu, binatang atau asura. Ia dipastikan menjadi Arahat setelah mengalami kelahiran kembali maksimum tujuh kali lagi.”

Belenggu pertama dihentikan dengan penembusan mendalam ke dalam Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) dan Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan (Paticcasamuppada). Belenggu kedua dihentikan setelah Ia “melihat” dan “terjun ke dalam” Dhamma. Dan belenggu ketiga dihentikan karena meski moralnya murni, tetapi ia menyadari bahwa masih belum cukup untuk mencapai Nibbana. 

Untuk menghentikan seluruh belenggu seseorang harus memiliki tekad kuat melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga). Serta melatih diri secara tekun dan konsekuen mempraktikkan latihan kemoralan (sila), konsentrasi pikiran (samadhi) dan kebijaksanaan (panna). 

Umat Buddha memiliki tujuan akhir merealisasi Nibbana. Hanya dengan menghentikan seluruh belenggu, seseorang dapat terbebas dari penderitaan dan merealisasi Nibbana.

Semoga dengan tekad kuat serta latihan yang tekun dan konsekuen mempraktikkan Ajaran Guru Agung Buddha kita dapat merealisasi Nibbana.

Semoga semua makhluk berbahagia.


TERKAIT

Berbaktilah!

Belenggu bagi Gharavasa

Agama dan Pelayanan