Ber-Uluk Salam vs Ber-Olok Salam

Uluk berarti tinggi atau lebih mulia. Salam artinya menyapa atau berdamai dengan orang. Dengan demikian, tak ada riwayatnya seseorang menjadi rendah karena terlebih dulu menyapa atau mengucapkan salam. 

Itulah filosofi orang Nusantara, khususnya Jawa. Makanya aneh kalau terdapat orang Jawa yang menganggap ada "Olok Salam". Olok artinya jelek. Jika dirangkai dengan Salam maka artinya ada orang menjadi jelek gara-gara bersalam.

Orang Nusantara adalah bangsa yang ramah. Tak ubahnya seperti orang Yaman yang diakui paling ramah di antara bangsa Arab. Dalam kitab al-Azdkar al-Nawawi halaman 227 disebutkan: bahwa Rasulullah SAW pada saat melihat sekolompok orang Yaman di tengah-tengah Madinah beliau berkata: "Mereka orang-orang ramah yang memulai salam dan berjabat tangan di antara bangsa Arab."

Dengan kata lain, Rasulullah SAW mengakui bahwa orang Mekkah dan Madinah pada mulanya tak terbiasa beruluk salam. Terkecuali sesudah mereka bersinggungan dengan orang Yaman. Mereka yang memulai kebiasaan berinteraksi dengan mengucapkan Assalamu 'alaikum.

Itulah sebabnya dalam Al-Quran banyak disinggung perintah: "ucapkan salam!" alasannya karena orang-orang di sekeliling Nabi awal mulanya bukan tipe golongan yang suka beruluk salam. Kebiasaan beruluk salam itu diadopsi bangsa Arab dari orang Yaman, lalu redaksinya ditambah Rasulullah SAW dengan lafal wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Oleh sebab itu, kalau kini muncul persepsi elit agama di Nusantara yang memilah antara Uluk Salam dan Olok Salam, maka patut dipertanyakan "keteladanannya" sebagai pewaris Rasulullah. Tak ada yang jelak dari ucapan salam. Walaupun ucapan salam yang paling lengkap maknanya adalah Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.

Justru kalau anjuran beruluk salam dipahami secara tekstualis, maka mengucapkan salam dengan berbagai redaksinya sudah benar secara Islam. Bukankah imam al-Marwadi berkata: "Bertemu dengan orang baik gunakan kalimat Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Bertemu dengan orang kurang baik redaksi salam kurangi warahmatullahi wa barakaatuh nya. Bertemu lagi dengan yang orang yang buruk akhlaknya maka katakan Salaamun 'alaika.

Jadi, tidak ada yang jelek dari beruluk salam!!!

M. Ishom el-Saha (Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)