Berani Jujur Menilai Diri Sendiri

Sudasssaṁ vajjamaññesaṁ attano pana duddasaṁ, paresaṁ hi so vajjāni, opunāti yathābhusaṁ, attano pana chādeti kaliṁ va kitavā saṭho. Amat mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi sangat sulit untuk melihat kesalahan-kesalahan sendiri. Seseorang dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain seperti menampi dedak, tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri seperti penjudi licik menyembunyikan dadu yang berangka buruk. (Dhammapada syair 252)

Memberi komentar terhadap apa yang dilakukan atau diterima orang lain adalah hal yang mudah dan sering kita lakukan. Memberi komentar adalah bagian dari memberikan penilaian. Kecenderungannya memberi komentar negatif lebih mudah dari pada memberi komentar positif, memandang lebih rendah orang lain dan memandang tinggi diri kita adalah juga jauh lebih mudah.

Tanpa kita sadari dalam setiap komentar-komentar kita pada orang lain sesungguhnya kita merasa lebih tinggi atau lebih baik daripada orang lain itu. 

Memang dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari menilai dan dinilai, dikomentari, dan mengomentari.

Dalam Dhammapada, syair 227 dikatakan, “O Atula, sejak dahulu kala, tidak hanya terjadi sekarang. Mereka mencela orang yang duduk berdiam diri, mereka mencela orang yang sedikit bicara, mereka juga mencela orang yang banyak bicara, tidak ada orang yang tidak dicela di dunia ini”. Jadi selama kita ada di dunia ini kita mesti siap menerima segala hiruk pikuk dunia termasuk soal penilaian ini. 

Menilai apapun secara obyektif sesuai fakta dan kenyataan adalah tidak mudah. Apalagi ketika kita harus menilai diri sendiri. Ketika akan menilai diri sendiri, kita cenderung mengalami kesulitan terutama untuk mengakui kekurangan-kekurangan, kesalahan, dan keterbatasan diri kita.

Berbeda ketika melihat kesalahan, kekurangan, dan keterbatasan orang lain dengan sangat mudah kita bisa memberikan penilaian. Apa yang menyebabkannya? Tiada lain adalah pikiran kita yang masih diliputi debu kekotoran batin berupa kebencian, keserakahan, ego, dan kesombongan. 

Menilai diri sendiri (self assessment) sesungguhnya adalah penting sebagai bagian untuk kemajuan diri. Dengan menilai diri akan kita kenali potensi dan kelemahan kita. Hanya saja sekali lagi kesulitan kita adalah menilai secara obyektif, jujur, dan berani mengakui apa prestasi, pencapaian, potensi, kelemahan, dan tantangan kita.

Oleh karenanya, latihan yang memungkinkan untuk bisa menilai diri sendiri adalah melihat ke dalam diri sendiri apa yang sudah kita kerjakan, apa yang belum kita kerjakan, apa yang sudah kita capai apa yang belum dicapai. Kalau kita lebih sering melihat ke dalam maka tidak akan banyak waktu untuk melihat keluar, menilai orang lain.

Dhamma ajaran Sang Buddha bukanlah kacamata yang digunakan untuk mengukur orang lain tetapi kacamata untuk melihat diri sendiri.

Jadilah diri sendiri, percayalah atas potensi dan kemampuan yang ada dalam diri untuk menyelaraskan kebahagiaan dan kedamaian. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.