Berbaktilah!

Marilah kita mulai edisi spesial mimbar ini dengan mengheningkan cipta sejenak serta bersyukur ke hadirat Tian Yang Maha Esa, karenaNya lah kita bisa menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke 76 tahun.

Perjuangan Kemerdekaan Indonesia bukan peran satu orang atau satu kelompok, melainkan seluruh manusia di dunia juga turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Umat Khonghucu meyakini kedamaian dunia dapat dicapai apabila kita dapat mencapai datong (kebersamaan agung), salah satunya dengan perjuangan kemerdekaan serta semangat menjaga tanah air.

Sebagai Umat Khonghucu, tentu saja kita sering mendengar salah satu ayat prioritas mengenai bela negara, yaitu: Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi. Bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi.” (Mengzi Jilid IB Pasal 15). 

Pertanyaannya, apa yang dijaga? Dan bagaimana menjaganya?

Tentu yang harus dijaga ialah ’kehidupan’ di Indonesia, meliputi lahan, air, dan mahluk hidup, khususnya manusia. Tentunya yang harus menjaga adalah yang memiliki kepandaian dan kemampuan lebih tinggi, yaitu kita sebagai manusia.

Sekarang bagaimana manusia dapat menjaga keberlangsungan hidup negaranya?

Dalam kehidupannya, manusia memiliki tata norma dalam bermasyarakat. Semua tata norma itu diperlukan dalam keberlangsungan hidup manusia. Semua hal tersebut disusun, dilindungi serta dipantau pelaksanaanya oleh pemerintah. Maka sudah sewajarnya kita sebagai manusia yang hidup dalam suatu negara, berlomba-lomba agar ikut serta dalam pemerintahan, bukankah itu salah satu sikap seorang Junzi, yaitu dalam aspek negarawan?

Penulis merasakan keresahan yang mendalam, bahwa sangat jarang umat beragama Khonghucu turut serta mengabdi dalam kepemerintahan. Padahal ajaran kitab suci Khonghucu sangat banyak ditemukan terkait sikap sebagai seorang pemimpin/perwiraan dan mengatur suatu negara. Walaupun demikian, penulis menyadari penuh hal tersebut tidak terlepas dari kultur dan budaya tionghoa, khususnya umat Khonghucu, yang pada awalnya datang ke Nusantara bertujuan melangsungkan kehidupan dengan cara bertani, melakukan pelayaran, serta berniaga.

Penulis menyadari, Indonesia kini dikelilingi oleh kawula muda yang nantinya akan membawa Indonesia lebih maju dan berkembang lagi. Maka besar harapan penulis, agar generasi muda, khususnya Pemuda Agama Khonghucu proaktif menyumbangkan ide, tenaga, dan perannya dalam kepemerintahan.

Dalam hal ini, walaupun sebagai umat Agama Khonghucu tidak mengabdi dalam kepemerintahan, tentu kita dapat berkontribusi aktif dalam membantu pemerintah. Hal ini bertujuan menjaga keberlangsungan hidup di Indonesia. Salah satu ajaran Khonghucu yang dapat dijadikan pedoman ada pada Kitab Sishu bagian Lunyu Jilid II Pasal 21, tersurat:

Ada orang bertanya kepada Nabi Kong Zi - Khong Cu, “Mengapa Guru tidak memangku jabatan?”

Nabi menjawab, “Di dalam Shu Jing - Su King tertulis ‘Berbaktilah! Berbakti dan mengasihi saudara-saudara, ini sudah berarti membantu pemerintah!’ Mengapa harus memangku jabatan baru dinamai membantu pemerintah?”

Nabi Kongzi menyadari betul bahwa tidak dapat seluruh manusia mendapatkan peran penting ‘memangku jabatan’ dalam pemerintahan. Maka Nabi menyampaikan kepada seluruh umat Khonghucu agar membantu pemerintahan dengan cara berbakti serta mengasihi saudara-saudara kita. 

Bakti merupakan inti sari ajaran agama Khonghucu, yang selalu disampaikan nabi melalui sabda-sabdanya. Salah satunya ialah berbakti dimulai dari merawat diri sendiri, mengasihi dan merawat orangtua, serta mengharumkan nama baik di zaman kemudian, baik dengan bakti kepada orangtua, kepada lingkungan, kepada masyarakat, kepada negara, serta bakti terhadap perdamaian dunia.

 

Desdiandi Hartopoh (Tokoh pemuda agama Khonghucu)


TERKAIT

Belenggu bagi Gharavasa

Agama dan Pelayanan

Kesetiaan