Berdamai dengan Perubahan

“Handadani bhikkhave amantayami: vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha’ti, ayam Tathagatassa pacchima vaca.” “Kini, para bhikkhu, Kusabdakan padamu: segala yang berbentuk akan lenyap kembali, berjuanglah dengan tekun (mencapai pembebasan), inilah sabda Sang Tathagata yang terakhir.” (Digha Nikaya, 16)

Salah satu hal penting dalam ajaran Buddha adalah tentang perubahan. Perubahan merupakan ciri dari segala yang berkondisi, baik ruang maupun waktu. Anicca, demikian kita biasa menyebut istilah perubahan ini, segala sesuatu tidak kekal.

Perubahan tidak bisa dihentikan, dihindari, dicegah dengan apapun. Perubahan ini tetap keberadaannya dan Buddha sekadar menunjukkan keberadaannya untuk kita kenali dan pahami.

“Apakah Tathagatha muncul atau tidak muncul terdapat suatu hukum yang tetap keberadaannya, terdapat suatu hukum yang pasti keberadaan bahwa segala yang bentukan adalah tidak kekal adanya” demikian dalam Dhammaniyama Sutta, Aṅgutara Nikaya, Tikanipāta.

Sekilas apa yang Guru Agung Buddha ungkapkan adalah bentuk pesimisme, menyerah pada keadaan yang berubah menjadi buruk (menuju kehancuran). Tetapi sejatinya apakah tujuan Guru Agung Buddha mengajak kita untuk memahami hukum perubahan ini?

Kita mesti kembali kepada semangat Guru Agung Buddha mengajarkan Dhamma dalam Saṃyutta Nikāya, sagāthāvaggo, mārasaṃyuttaṃ, paṭhamavaggo, dutiyamārapāsasuttaṃ “caratha, bhikkhave, cārikaṃ bahujanahitāya bahujanasukhāya lokānukampāya atthāya hitāya sukhāya devamanussānaṃ.” 

Pergilah Bhikkhu, ajarkan Dhamma yang bermanfaat untuk kebahagiaan dan kesejahteraan bagi para manusia dan dewa. Jadi jelas bahwa Guru Agung Buddha menunjukkan kepada kita hukum perubahan. Bukan untuk membangun pesimisme, ketakutan, dan menyerah pada perubahan, tetapi justru untuk mencari jalan agar terbebas dari penderitaan dan mencapai kebahagiaan.

Suka tidak suka, siap tidak siap, setuju tidak setuju, perubahan akan terus terjadi entah lambat maupun cepat. Apakah kita berupaya atau tidak berupaya, perubahan akan tetap terjadi. Perubahan bisa menuju kepada yang lebih buruk atau yang lebih baik. Dengan menyadari adanya hukum perubahan, kita mempunyai cara pandang bahwa kita selalu punya kesempatan untuk merubah apapun. 

Setiap upaya yang dilakukan walaupun belum nampak mengubah sesuatu, tetapi sejatinya telah menjadi bagian dari proses perubahan itu sendiri. Hukum perubahan memungkinkan kita untuk membuat hal yang belum baik menjadi baik, siapa yang belum pintar menjadi pintar, apa yang belum nyaman bisa dibuat lebih nyaman. Di sini muncul optimisme, sebab tidak mungkin akan seperti itu selamanya, selalu ada kesempatan mengubah.

Kita juga menyadari bahwa perubahan juga bisa ke arah yang buruk, seperti menjadi hancur, menjadi tidak nyaman, menjadi lenyap. Menyadari hal ini, Guru Agung Buddha mengajarkan kita untuk realistis menerima dengan legawa, tidak melekat, bersedia menerima kenyataan.

Memang ini tidak mudah tetapi bukan berarti tidak bisa. Sebab Guru Agung Buddha juga telah mengajarkan langkah-langkah melatihnya yakni dengan dana (memberi), alobha (tiada serakah), nekkhama (pelepasan). Langkah-langkah ini melatih kita untuk bersikap legawa atas perubahan yang tidak menyenangkan.

Kita tidak mungkin menyangkal adanya perubahan. Segala sesuatu terus berubah, baik alam pikir kita (mikrokosmos) maupun alam luar kita (makrokosmos). Setelah memahami hukum ini dengan benar, optimisme berubah ke arah lebih baik akan muncul, sekaligus kewaspadaan dan legawa menerima perubahan juga tumbuh.

Marilah melatih memahami dan berdamai dengan perubahan ini. Vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha, segala sesuatu tidak kekal adanya, berjuanglah dengan sungguh-sungguh. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.