Berjuanglah dengan Penuh Kewaspadaan

Appamādaratā hotha sacittamanurakkhatha, duggā uddharathattānaṁ paṅke sannova kuñjaro. Bergembiralah dalam kewaspadaan dan jagalah pikiranmu dengan baik; bebaskanlah pikiranmu dari cara-cara yang salah, seperti seekor gajah melepaskan dirinya yang terbenam dalam lumpur. (Dhammapada, Syair 327)

“Handadani bhikkhave amantayami: vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha’ti, ayam Tathagatassa pacchima vaca.” Yang artinya “Kini, para bhikkhu, Kusabdakan padamu: segala yang berbentuk akan lenyap kembali, berjuanglah dengan tekun (mencapai pembebasan), inilah sabda Sang Tathagata yang terakhir” (Digha Nikaya, 16), demikian yang dinyatakan guru agung Buddha menjelang beliau Parinibbana. Guru Agung Buddha mengajarkan kita semua untuk menggunakan kesempatan hidup ini dengan berjuang mencapai tujuan secara sungguh-sungguh. Kehidupan kita amatlah singkat. Jika dibandingkan dengan kehidupan di alam-alam lainnya, alam manusia memang tergolong singkat. 

Memang jika kita rasakan dalam kehidupan sekarang ini, waktu yang kita lalui terasa sangat cepat. Baru saja kita tidur mengakhiri aktifitas malam sudah kembali pagi dan mesti bergegas melanjutkan pekerjaan. Baru saja memulai pekerjaan rasa-rasanya sudah sore dan menjelang malam dan istirahat kembali. Baru saja merayakan tahun baru rasa-rasanya sudah di pertengahan atau di akhir tahun. Demikianlah, begitu singkat kehidupan ini. Terkadang kita menunda-nunda sesuatu yang baik berharap akan ada waktu yang terbaik datang tetapi terus saja kesempatan ideal itu sulit terpenuhi. Akhirnya waktu terlewati begitu saja tanpa ada hasil yang kita lakukan atau kita capai.

Menyadari begitu singkat kehidupan ini, para Ariya menasihatkan untuk membuat hari-hari yang kita lalui mesti bermanfaat, sedikit atau banyak. Nasihat tersebut dapat kita baca dalam kitab Theragatha 451: “Amoghaṁ divasaṁ kayirā, appena bahukena vā; Yaṁ yaṁ vijahate rattiṁ, tadūnaṁ tassa jīvitaṁ”. Artinya: Jadikanlah harimu produktif, apakah sedikit atau banyak. Karena setiap siang dan malam yang berlalu, kehidupanmu berkurang sebanyak itu. 

Apapun peran kita, apakah sebagai pabbajjita atau gharavassa yang bekerja sebagai guru, siswa, aparat pemerintah, kepala rumah tangga, ibu rumah tangga, petani ataupun pedagang, hendaknya senantiasa mengisi kehidupan dengan hal-hal bajik dan bermanfaat. Kita bertanggungjawab atas pencapaian tujuan hidup masing-masing. Ini artinya siapapun dari kita, pada apapun posisi kita mempunyai tugas dan tanggung jawab, medan perjuangan dan usaha sendiri-sendiri dalam mencapai kebahagiaan hidup.

Pada tataran spiritual apapun kedudukannya kita mempunyai tujuan sama yakni agar terbebas dari penderitaan. Penderitaan muncul karena keinginan yang terkontaminasi oleh kekotoran batin seperti kebencian, keserakahan dan kebodohan batin. Tiap-tiap diri kita perlu mewaspadai munculnya kekotoran batin ini. Dalam setiap momen pemikiran, ucapan maupun tindakan kita kekotoran batin ini mudah sekali muncul. Mencemari usaha-usaha perjuangan kita dalam pemurnian batin menuju kesempurnaan. Hanya dengan kewaspadaan yang tajam kita dapat melihat dengan jernih di tataran mana spiritualitas kita. Berjuanglah dengan penuh kewaspadaan, semoga berbuah hasil kebahagiaan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia