Berkembang dalam Praktik Dhamma (Vuddhi)

Appassutāyaṁ puriso, balivaddo va jīrati; maṁsani tassa vaḍḍhanti, paññā tassa na vaḍḍhati. Orang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi; dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang. (Dhammapada, Syair: 152)

Perkembangan teknologi informasi telah memberikan peluang bagi umat Buddha untuk belajar Dhamma dengan cukup mudah. Hal ini tentu menjadikan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Berbagai macam media cetak seperti buku buddhis, majalah buddhis, dan media online juga mendukung umat untuk belajar Dhamma lebih serius.

Namun demikian, terdapat hal yang lebih penting untuk dijadikan renungan bagi semua umat Buddha terkait dengan kualitas praktik Dhamma dari umat itu sendiri. Mengapa hal ini penting? Karena dalam beberapa kejadian, antara kualitas praktik Dhamma dari umat tidak seiring dengan perkembangan sumber belajar yang bersifat materi tersebut. 

Masih banyak umat hanya sekedar tahu dalam hal pengetahuan ajaran secara teoritis, tetapi dalam praktik dhamma sehari-hari belum dijalankan sesuai nilai dari teori yang dipelajarinya. Hal lain yang lebih menyedihkan adalah adanya umat yang telah belajar Dhamma justru menggunakan pengetahuannya untuk bahan berdebat atau berargumen. Ini tentu belum sejalan dengan tujuan belajar Buddha Dhamma.

Sangatlah diharapkan, bahwa seseorang yang telah memiliki pengetahuan Dhamma dengan baik, hendaknya menggunakan pengetahuan dhammanya untuk pengembangan batin, untuk memperoleh berkah kebahagiaan, baik dalam kehidupan saat ini maupun yang akan datang. Pengetahuan Dhamma yang baik jika dipergunakan dalam praktik kehidupan sehari-hari akan membawa manfaat bagi perkembangan batin yang lebih baik. 

Umat Buddha mengenal tahapan dalam merealisasi Dhamma adalah Pariyatti, Patipatti dan Pativedha Dhamma yakni dipelajari, dipraktikkan dan dirasakan manfaatnya. Tahapan belajar Dhamma ini dapat membawa seseorang untuk mempunyai pemahaman yang baik sehingga praktiknya akan lebih mantab dan hasilnya pun juga lebih baik. 

Di dalam Angutara Nikaya II: 245 terdapat empat hal yang dapat membawa perkembangan dalam praktik Dhamma jika dilaksanakan. Adapun keempat hal tersebut adalah:

1. Sappurisasamseva: bergaul dengan orang-orang yang mulia dan terpuji dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran. 

Pergaulan adalah hal yang sangat mengkondisikan pertumbuhan spiritualitas dalam praktik Dhamma. Bergaul dengan mereka yang bijaksana adalah berkah utama. Dalam pergaulan tentu perlu bijak agar memiliki teman yang sejati. Teman yang memiliki kecenderungan berpikir baik, berucap baik, dan bertindak baik.

Dalam Dhammapada, Syair 328-329 dikatakan: “Apabila dalam pengembaraanmu engkau dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai, dan bijaksana, maka hendaknya engkau berjalan bersamanya dengan senang hati dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya. Apabila dalam pengembaraanmu engkau tak dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakukan baik, pandai, dan bijaksana, maka hendaknya engkau berjalan seorang diri, seperti seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya, atau seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan”. 

2. Saddhammasavana: mendengarkan ajaran-ajaran dari orang-orang mulia dengan penuh penghormatan.

Mendengarkan Dhamma hendaknya dilakukan dengan kesiapan diri yang baik. Tidak sedang dalam kondisi yang tidak berkonsentrasi, seperti memikirkan pekerjaan, keluarga maupun hal yang lainnya. Tidak pula mendengarkan Dhamma, sambal berbincang dengan teman, atau bermain handphone sendiri. Sikap perilaku seperti itu tidak dapat menunjang perkembangan kebijaksanaan batin. 

Orang-orang dengan kualitas pengetahuan dan praktik Dhamma yang kuat mempunyai pengalaman dan wawasan yang sangat berguna bagi yang belum mengalami. Dengan mendengarkan dan memperhatikan sungguh-sungguh apa yang diajarkan oleh mereka yang bijaksana akan membantu perkembangan praktik Dhamma. 

3. Yonisomanasikara: merenungkan dan mengetahui hal-hal apa yang baik dan buruk.

Melihat ke dalam untuk mengetahui dan merenungkan apa saja yang telah dilakukan, apa manfaat dan akibatnya merupakan cara untuk meningkatkan perkembangan praktik Dhamma. Tahap evaluasi diri ini menjadi penting, sebab yang sesungguhnya tahu tentang diri sendiri dan perkembangannya adalah diri sendiri. Keberanian untuk mengakui dan menerima apa yang belum berkembang merupakan langkah yang akan membawa kepada kemajuan praktik Dhamma. 

4. Dhammanudhammapatipatti: mempraktikkan Dhamma sesuai dengan Dhamma yang telah diselidiki dan dimengerti.

Dhammapada Syair 115 menyatakan bahwa “Daripada hidup selama 100 tahun tanpa memahami Buddha Dhamma (Ajaran Buddha), lebih baik hidup satu hari tetapi memahami ajaran Buddha” dan Dhammapada Syair 102 menegaskan bahwa “Daripada membacakan seratus syair, yang terdiri dari kata-kata yang tidak berarti, lebih baik sepatah Dhamma yang dapat membuat si pendengar penuh damai”. Dhamma yang telah pahami meskipun hanya sedikit apabila dipraktikkan akan membawa kemajuan yang berarti. Tetapi meskipun menguasai banyak teori Dhamma tetapi tidak dipraktikkan tidak akan terlalu membawa manfaat yang banyak. 

Demikianlah empat hal yang dapat membawa seseorang untuk bertumbuh dan berkembang dalam praktik Dhamma. Orang yang benar-benar belajar Dhamma untuk dipraktikkan, maka kebiasaan buruk akan ditinggalkan dan senantiasa mengembangkan kebiasaaan-kebiasaan yang baik. Orang yang demikian itulah yang dapat disebut umat Buddha sejati dimana selain belajar juga mempraktikannya.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT

Identitas yang Jelas

Bersiap untuk Kedatangan Tuhan

Tuhan Bekerja dalam Setiap Pergumulan

SAMĀDHI BALA