Berpegang Teguh pada Dharma di Era Modern

Om swastyastu, Om awignam astu namo sidam, Om anubhadrah kertawu wiyantu  wiswatah, Hong wilaheng sekaring bhawono langgeng, Rahayu, rahayu sagung dumadhi

Saudaraku umat hindu sedharma yang berbahagia. Puji astungkara kita haturkan ke hadapan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asung kertawara nugrahanya, sampai hari ini kita diberi Kesehatan. Sehingga, dalam menjalani hari-hari ini, kita selalu diberi kemudahan dalam menjalani hidup.

Sujud bakti kita haturkan ke hadapan para maharsi yang telah menerima wahyu kitab suci weda. Sehingga, kita sebagai umat manusia beragama Hindu kususnya, dapat mendharmabaktikan ajaran-ajaran yang sudah tertuang di dalam kitab suci Weda.

Saudaraku umat hindu sedharma yang berbahagia. Setiap mahluk hidup pasti memiliki tujuan di dalam hidupnya. Apalagi di era modern ini, banyak manusia yang berusaha mencapai tujuan dengan menunjukkan eksistensi dirinya agar diakui oleh manusia lain. Tetapi, banyak manusia yang salah mengambil jalan dalam mencapai tujuan tersebut. Pasalnya saudaraku, di zaman sekarang ini banyak manusia yang melupakan kemanusiaan. Mereka tega menjatuhkan, melukai, bahkan merendahkan manusia lain. 

Lalu bagaimana agar hal seperti ini tidak terjadi kepada diri kita? Maka dari itu, dengan selalu berpegang teguh pada ajaran suci Weda, izinkanlah saya untuk menyampaikan pesan dharma dengan judul “Berpegang Teguh pada Dharma dalam Mencapai Tujuan Hidup di era Modern”.

Saudaraku, membahas mengenai tujuan hidup, kita tidak dapat lepas dari ajaran Agama Hindu sendiri. Di dalam ajaran Agama Hindu, terdapat empat tujuan hidup manusia. Hal ini disebut dengan Catur Purusa Artha. Yang bagian-bagiannya meliputi: Dharma (kebenaran), Arta (kekayaan), Kama (keinginan), dan Moksa (kelepasan dari keterikatan keduniawian).

Moksa menjadi tujuan utama atau tertinggi dan dharma itu sendiri menjadi penopang dasar dalam mencapai tujuan lainya. Akan tetapi, dalam realitanya di masyarakat yang kita temui, apakah seperti itu? Tidak. Artha dan Kama lah yang menjadi tujuan yang digandrungi oleh sebagian besar umat manusia.

Terbelenggunya umat manusia akan Artha dan Kama, membuat manusia melupakan Dharma. Akhibatnya, untuk mencapai Artha dan Kama ini, manuisa akan bertentangan dengan Dharma itu sendiri. Demi mencapai Artha dan Kama, manusia akan melupakan bagaimana cara memanusiakan manusia lain. Menipu, menghina, mencuri, merampok, berkorupsi hingga membunuh adalah proses mencapai artha dan kama yang tidak di dasari dengan adanya dhama atau kebenaran ini.  

Saudaraku, perlu saya tekankan, sejatinya dharma sangatlah penting sebagai dasar penopang dalam mencapai tujuan hidup di dunia ini. Seperti halnya yang sudah dijelaskan dalam Sarasamuccaya mantra 14: “Ikang Dharma ngarania. Henuning mara ring swarga ika kadi gatining perahu. an henuning banyaga untasing tasik”. (Yang dimaksud dharma adalah jalan untuk pergi ke surga, bagaikan perahu yang merupakan alat bagi pedagang untuk menyeberangi lautan).

Umat Hindu Sedharma yang berbahagia. Sebab bahaya sekali ketika kita hidup di zaman sekarang ini tanpa berpegang pada dharma. Seperti halnya ketika kita menyeberangi sungai, ketika berada di tengah-tengah, tiba-tiba terjadi banjir bandang. Maka dari itu, mari kita selalu berpegang teguh pada dharma agar dalam mencapai tujuan hidup ini kita tidak merugikan mahluk lain.

Saudaraku, dengan berpegang teguh pada dharma dalam setiap langkah, kita akan selalu dibimbing oleh Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam menjalani hidup ini. kKetika rasa keinginanmu untuk sukses jauh lebih besar dibandingan rasa ketakutanmu untuk gagal, kamu tidak akan terkalahkan. Maka ada sebuah filosofi yang mengatakan manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan, tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama masih setia pada hatinya. Hati nurani adalah dharma itu sendiri

Saudaraku, umat hindu sedharma yang berbahagia. Demikian, semoga bisa menjadi perenungan bagi kita bersama akan pentingnya dharma dalam mencapai tujuan hidup di era modern ini.  Hayu, hayu, rahayu. Jaya, jaya, Wijaya. Rahayu mulyaning jagad. Om santi santi santi Om

Gunawan Purnomo (mahasiswa di STAHN Mpu Kuturan Singaraja)