Bersyukur

Atthamhi jatamhi sukha sahaya, tutthi sukha ya itaritarena. Punnam sukham jivitasahkhayamhi, sabbassa dukkhassa sukham pahanam. Sungguh bahagia mempunyai kawan pada saat kita membutuhkannya; sungguh bahagia dapat merasa puas dengan apa yang diperoleh; sungguh bahagia dapat berbuat kebajikan menjelang kematian; dan sungguh bahagia dapat mengakhiri penderitaan. (Dhammapada, Syair 331)

Tanpa terasa kita telah memasuki bulan kedua tahun 2021. Pada awal tahun baru, hampir semua orang membuat resolusi hidup untuk menuju yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Telah banyak hal yang dilewati, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Pengalaman menyedihkan yang masih tersisa hingga saat ini salah satunya adalah pandemi Covid-19.

Cara setiap orang dalam menyikapi pengalaman tersebut berbeda-beda. Ada orang yang sangat merasa tertekan karena tidak dapat terpenuhi keinginannya, ada sebagian orang yang acuh tak acuh, dan tidak sedikit juga orang yang dapat mengendalikan dirinya dengan baik.

Bagi mereka yang dapat mengendalikan diri dengan baik itulah yang kemudian disebut sebagai orang yang dapat menerima kehidupan sebagaimana adanya. Orang yang dapat berterima kasih dan memiliki rasa syukur. Menjalankan kehidupan sebagaimana adanya, dapat membuat orang semakin mengerti makna kehidupannya. Menyadari bahwa roda kehidupan akan terus berputar, rasa senang dan susah akan terus ada, datang silih berganti. Sebagai insan yang percaya kepada Tuhan, tentu harus selalu mensyukuri sekecil apapun berkah yang didapatkan, tidak perlu mengeluh dan merasa kurang.

Guru Agung Buddha mengajarkan, bahwa setidaknya ada tiga hal yang patut dikembangkan dalam kehidupan untuk disyukuri, yakni: kesehatan, kepuasan, dan kepercayaan (Dhammapada, syair 204). Semua orang tentu mengharapkan agar dapat hidup dengan layak, memiliki kesehatan yang baik, memiliki kepuasan, juga dapat dipercaya dalam hidupnya. Karenanya menjadi orang yang dapat bersyukur dan berterima kasih merupakan dambaan setiap orang.

Banyak orang yang terlalu tinggi dalam membuat target kehidupan. Ketika apa yang diharapkan tidak tercapai maka timbul rasa kecewa dan kesedihan yang mendalam, padahal masih ada hal yang dapat disyukuri dari apa yang telah didapatkan.

Ungkapan terima kasih dan rasa syukur merupakan sikap yang harus dilatihkan. Menjadi mudah berterima kasih dan bersyukur harus dimulai dari hal yang paling sederhana. Sadarilah bahwa munculnya rasa tidak puas lebih disebabkan oleh pikiran yang tidak terkendali. Karenanya kita harus selalu mengendalikan pikiran kita dengan senantiasa memunculkan rasa terima kasih dan syukur atas apa yang telah didapatkan.

Marilah kita melatih diri kita melihat segala sesuatu sebagaimana apa adanya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan diri ini kita tempatkan dalam kondisi yang netral. Kita tidak menjadi terikat karenanya, tetapi juga tidak menolak atas keberadaannya. Kita melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bekerja dengan sebaik-baiknya.

Kembangkanlah rasa syukur dalam hidup ini dengan senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan baik, seperti: memiliki rasa hormat, bersikap rendah hati, merasa puas hati, memiliki rasa berterima kasih, mendengarkan dhamma pada saat yang tepat, memiliki kesabaran, patuh pada nasehat orang tua, bergaul dengan para bijaksana, dan senang belajar dhamma (Mangala Sutta). 

Hadapilah tantangan kehidupan ditengah pandemi Covid-19 dengan penuh bijaksana. Kelola pikiran dengan baik. Kuatkan persaudaraan dan kepedulian antar sesama. Bangkitkan semangat yang kuat dalam bekerja yang lebih cerdas, guna mewujudkan resolusi hidup yang lebih baik lagi. Dan janganlah lupa, tetap bersyukur atas segala berkah yang didapatkan. Niscaya penderitaan akan dapat teratasi.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)