Bijak dalam Memilih

Stephen Covey, seorang penulis buku psikologi terkenal, membuat sebuah metode self-help menggunakan sistem matrik untuk manajemen waktu dan kegiatan, yang dikenal sebagai sistem “Kuadran Empat Prioritas”. Metode ini untuk mengatasi masalah dalam kehidupan manusia mengenai perkara PENTING dan MENDESAK. Karena yang mendesak itu kadang tidak selalu penting dan yang penting itu kadang tidak selalu mendesak. Untuk menjatuhkan pilihan yang mendesak dan penting bukanlah perkara yang mudah dan kadang menjadi problem tersendiri.

Saudara-saudari terkasih. Bacaan Injil hari ini mengisahkan sikap dalam penerimaan tamu. Maria dan Marta memiliki cara yang berbeda dalam menerima dan melayani tamu. Marta menerima kehadiran Yesus di rumahnya, namun ia menyibukkan diri dengan mempersiapkan makanan dan minuman untuk dihidangkan. Sedangkan Maria, ia asyik mendengarkan perkataan Yesus, bahkan duduk dekat kaki Yesus. Maria duduk diam mendengarkan Yesus terkesan tidak peduli pada kesibukan orang lain, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku” (Lukas 10:40). 

Apa yang dilakukan oleh Marta adalah hal wajar yang dilakukan oleh banyak orang bila menerima tamu. Namun, Yesus tidak membenarkan ataupun tidak menyalahkan sikap tersebut. “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Lukas 10:41-42).

Dialog rohani di atas menggambarkan problematika manusia dalam menghadapi tantangan hidup “religious” di tengah “budaya” manusia. Meskipun hal ini tidak bisa dikatakan berhadap-hadapan, tetapi agak sulit juga untuk mengatakan seiring sejalan, atau dalam bahasa lain dikatakan harus dengan hati menegakkan ketaatan supaya tidak menjadi radikal.

Yesus menantang Marta untuk melihat dan memilih prioritas dalam hidup. Menjadi murid Yesus tidak cukup hanya berbuat baik kepada orang lain. Sebagai pengikut Kristus juga harus memiliki hubungan yang intim dengan Dia. Dengan demikian seorang Kristiani sejati mampu menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini, sebagaimana dikatakan dalam Doa Bapa Kami, “…Datanglah Kerajaan-Mu di atas Bumi seperti di dalam Surga..”

Saudara-saudara terkasih. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita juga berbuat seperti yang dilakukan oleh Marta. Kita sibuk bekerja untuk diri sendiri dan keluarga, seakan-akan tak ada waktu untuk orang lain. Atau juga kita sibuk dengan kegiatan sosial di masyarakat hingga tak ada ruang dan waktu untuk diam sejenak dalam doa, mendengarkan suara-Nya yang memanggil. 

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose mengatakan: “Kristus ada di tengah-tengah kamu” (Kol. 1:27). Sabda Yesus yang kita renungkan hari ini menjadi pedoman bagi kita untuk bijak dalam memilih, mengutamakan prioritas menuju kesempurnaan dalam Kristus. Tuhan memberkati.

B. Riyanto, S. Ag (Pembimas Katolik Prov. Bengkulu)


TERKAIT

Uposatha

Kebahagian dan Penderitaan

Orang Samaria yang Murah Hati 

Dharmayatra