Bijaksana dalam Mengelola Harta Duniawi

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita, Yesus Kristus. Perjalanan kita dalam meniti tangga kehidupan memang tidaklah mudah. Permasalahan itu bukan hanya tentang bagaimana cara kita bertahan hidup, namun juga menikmati hidup yang dijalani.

Apalagi, jika kita dihadapkan pada aneka tawaran kenikmatan duniawi dengan berbagai porsi yang menggiurkan dan memanjakan mata. Jabatan, pangkat, uang, dan berbagai corak harta kekayaan, acapkali membuat kita lupa diri sebagai insan beriman, pengikut Kristus yang semestinya mengadopsi cara hidup Yesus yang rendah hati, sederhana, ugahari, dan penuh cinta kasih. Berhadapan dengan pilihan dilematis tersebut, seharusnya membuat kita lebih bijaksana.

Untuk berjalan melewati lika-liku kehidupan, seseorang memerlukan cahaya kebijaksanaan sebagai panduan kebaikan. Pernyataan ini mengungkapkan, jika kebijaksanaan itu sangat berharga. Nilai Kebijaksanaan itu melebihi tongkat kekuasaan, gumpalan permata, bongkahan emas, gundukan perak, kesehatan manusia, bahkan gelimang harta kekayaan (Kebijaksanaan 7:8-10).

Namun, berbeda dengan bacaan I, warta Injil yang juga baru kita dengar hari ini, memuat narasi sebaliknya; bahwa kebijaksanaan tampaknya belum dimiliki oleh seorang pemuda kaya yang memiliki hasrat yang kuat untuk mengikuti Yesus. Sang pemuda tajir tersebut menganggap bahwa hidup yang kekal cukup diperoleh dengan berbuat baik. Sedangkan Yesus menekankan kalau sikap minimalis semacam itu belum sempurna. Si pemuda kaya mesti juga melepaskan ikatan egoismenya yang selama ini melilit dia sehingga terseret ke dalam pusaran lumpur kekayaan, bukan pada pelukan kasih Allah.

Yesus menguak kesadaran sang pemuda bahwa untuk mengikuti Dia, ia harus menyingkirkan kelekatan pikirannya yang terlalu terikat dengan harta benda dan uang. Perbuatan baik tidak cukup akan membuat seseorang memperoleh hidup kekal. Tindakan baik harus didorong oleh kemauan yang kuat dan usaha yang konkret untuk menjadikan diri kita serupa dengan Allah.

Yesus tidak menyangkal kemungkinan bahwa semua orang mendapat porsi yang sama untuk bisa diselamatkan. Akan tetapi, Dia mengatakan bahwa hal itu sulit sekali bagi mereka yang tetap memeluk kekayaanya erat-erat.

Sikap Yesus ini terungkap dalam sebuah bentuk analogi tentang "lubang jarum" (Markus 10:25). "Lubang jarum" yang dimaksudkan di sini adalah sebuah gerbang kecil yang hanya dapat dimasuki oleh seekor unta. Selanjutnya, Yesus tidak berbicara mengenai apa yang dianggap mungkin oleh manusia, tetapi apa yang tampaknya tidak mungkin atau mustahil (bdk. ayat 27).

Adalah tidak masuk akal atau mustahil seekor unta melewati lubang jarum. Artinya, sangat kecil kemungkinan orang yang kaya raya, memiliki pangkat dan kedudukan yang tinggi mau melepaskan segala “harta benda” yang dia miliki tersebut hanya karena dia mau melakukan sebuah pelayanan rohani. Tentu, dari sisi pola pikir manusiawi, hal ini bukan perkara gampang!

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Keterikatan pada kekayaan dan kemuliaan diri, kadangkala mengikat pribadi kita, sehingga dengan sadar, kita mengabaikan dimensi spiritual dan relasi intim kita dengan Allah sebagai dasar pijakan untuk mencicipi "kenikmatan" kebahagiaan kekal.

Sebagai abdi negara, bagaimana kebijakan kita dalam mengelola kepercayaan Pemerintah yang diberikan lewat pangkat, kedudukan, anggaran dan sebagainya? Apakah kita sudah benar-benar mengelola kepercayaan itu secara bijak, jujur dan bertanggung jawab?

Atau, apakah kita seperti seorang pemuda kaya yang mengabaikan kebijaksanaan demi sebuah "status quo" dengan cara mempertahankan pendapat sendiri; bahkan dengan sikap yang enggan melepaskan barang milik negara?

Sebagai pimpinan, apakah kita sudah berlaku bijaksana terhadap bawahan? Barangkali kita terlalu legalistik, kaku, tanpa memberikan ruang kosong pada fleksibilitas demi menciptakan romantisme persaudaraan antarkita di dalam lembaga tempat kita bekerja. 

Oleh karena itu, sebagai abdi negara yang beriman Katolik, mari kita lebih banyak membuka hati untuk membiarkan Allah memberdayakan kita, memberi diri dan waktu bagi hal-hal yang bersifat rohani. 

Kita juga harus mampu melepaskan berbagai hambatan yang menghalangi kita untuk tidak bebas mencari Allah dan mengikuti Dia. Kita hendaknya mampu dan mau membuang jauh-jauh sikap iri hati dan dengki, korupsi, kolusi, primordialisme, fanatisme suku dan agama; sikap congkak, sombong, dan sebagainya. Sebab jika kita tidak mampu melepaskan pengaruh itu, maka tubuh dan jiwa kita dikuasai oleh kejahatan dan dosa. Akhirnya, kita sulit menerima hal-hal rohani.

Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi miskin demi kehidupan kekal. Namun Dia mengajarkan apa yang menjadi prioritas kita, yakni Allah. Kita hanyalah pengelola atas setiap harta kekayaan yang bersumber dari Tuhan, bukan pemilik absolut sehingga kita jangan terlalu erat menggenggamnya. Kiranya kita semakin bijaksana menggunakan harta yang dimiliki dan semakin fokus untuk mengikuti Tuhan.

Tuhan memberkati dan melindungi kita, serta memberikan kita damai sejahtera.

 

Yosef (Pembimas Katolik Provinsi Kalbar)


TERKAIT

Tuhan Mau dan Tuhan Mampu

Vicikiccha

Membangun Persaudaraan Sejati

Beriman dan Berbuat di masa Pandemi