Dahsyatnya Kekuatan Semangat (Viriya Bala)

Katama·ñca, bhikkhave, viriya-balaṃ? Idha, bhikkhave, ariyasavako araddha-viriyo viharati akusalanaṃ dhammanaṃ pahanaya, kusalanaṃ dhammanaṃ upasampadaya thamava daḷhaparakkamo anikkhittadhuro kusalesu dhammesu. Idaṃ vuccati, bhikkhave, viriya-balaṃ.

Dan para bhikkhu, apakah kekuatan viriya itu? Para bhikkhu, yakni ketika seorang Ariya Savaka senantiasa mempunyai viriya untuk meninggalkan tindakan-tindakan tidak bajik (akusaladhamma) dan melakukan tindakan-tindakan bajik (kusaladhamma), dia kokoh dan tak tergoyahkan dalam upaya, tidak berpaling dari tindakan-tindakan bajik. Para bhikkhu, inilah yang disebut kekuatan viriya. (Vitthata Sutta)

Semangat dalam terminologi sanskrit disebut Vīrya dan dalam bahasa pali disebut sebagai viriya, merupakan salah satu aspek dari kekuatan pikiran yang sangat bermanfaat membawa kemajuan, baik dalam aspek duniawi maupun spiritual. Tanpa semangat yang memadai, berbagai usaha yang dilakukan akan menemukan jalan buntu, tanpa adanya penyelesaian yang tuntas. Sebaliknya dengan semangat yang gigih maka berbagai halangan yang dihadapi dapat disingkirkan. Berbagai ide dan kreativitas akan dimunculkan oleh adanya semangat yang mendorong pada pencapaian tujuan. 

Viriya adalah semangat, energi, sebuah kekuatan usaha. Vitthata Sutta menjelaskan bahwa kekuatan semangat mengacu pada suatu usaha yang teguh untuk meninggalkan berbagai tindakan yang tidak baik, tidak bermanfaat dan usaha yang teguh untuk memunculkan berbagai tindakan yang baik serta bermanfaat. Terminologi ini identik dengan definisi dari usaha benar atau samma vayama. Dengan adanya semangat, maka seseorang akan mampu menyingkirkan kemalasan yang biasanya bermanifestasi dalam dua hal.

Pertama, menunda. Menunda merupakan penyakit, penghalang dari sebuah usaha. Menunda pekerjaan hakikatnya adalah membuang energi secara percuma selain juga merupakan cerminan dari seseorang yang terbelenggu oleh waktu. Pekerjaan yang seharusnya sudah selesai sering tidak dapat diselesaikan gara-gara ditunda. Menunda sebuah pekerjaan sesungguhnya lebih berat dan memakan energi daripada mengerjakan pekerjaan dengan segera karena tumpukan beban pekerjaan akan semakin banyak dan mengganggu aktivitas mental maupun fisik. Menunda pada akhirnya hanya akan memperumit masalah yang dihadapi seseorang. Dengan hadirnya kekuatan semangat yang membara maka menunda sebagai manifestasi dari kemalasan dapat ditaklukkan. Jika kita mencerna hal ini dengan baik maka akan dapat mengerti secara seksama betapa besarnya kekuatan dari semangat dalam membantu seseorang menuju pada kesuksesan baik secara duniawi maupun spiritual. 

Kedua, Banyak alasan. Bagi si pemalas akan selalu menemukan alasan untuk bermalas-malasan. Terlalu pagi, terlalu dingin, terlalu siang, terlalu sore, terlalu malam, terlalu lapar, terlalu kenyang, terlalu berat dan berbagai macam alasan. Banyak alasan dalam bermalas-malasan kelihatanya menyenangkan untuk dilakukan namun sejatinya terdapat bahaya besar yang mengintai. Terlalu banyak alasan akan menghalangi seseorang untuk mencapi tujuan atau menyelesaikan masalah yang dihadapi. Menungu pekerjaan akan selesai dengan sendirinya merupakan ilusi yang berakar pada kebodohan batin. Untuk menyelesaikan suatu aktivitas baik sebuah pekerjaan duniawi maupun spiritual seseorang perlu bangkit dengan segera, mengerahkan segala usaha tanpa banyak alasan untuk mengerjakan sesegera mungkin. Bangkit bergerak merupakan ciri dari seseorang yang memiliki kobaran semangat yang mampu membakar mental pencari alasan.

Jika dijabarkan menurut kaidah Vitthata Sutta maka akan dijumpai empat (4) kriteria dari viriya atau semangat yang membawa manfaat sangat besar bagi keberhasilan yaitu: (1) berusaha dengan gigih untuk tidak memunculkan kondisi buruk (tidak bermanfaat) yang belum muncul, (2) berusaha dengan gigih untuk meninggalkan kondisi buruk (tidak bermanfaat) yang telah muncul, (3) berusaha dengan gigih untuk memunculkan kondisi baik (bermanfaat) yang belum muncul, dan (4) berusaha dengan gigih untuk mempertahankan kondisi baik (bermanfaat) yang telah muncul.

Untuk dapat mencapai empat (4) kriteria kekuatan semangat, dibutuhkan ketelitian, kecermatan dalam melihat ke dalam diri, memeriksa menganalisa apakah muncul batin yang buruk atau batin yang baik. Jika batin yang buruk muncul perlu segera untuk dilenyapkan jika batin yang baik muncul perlu segera untuk dikembangkan atau dipertahankan. Kecermatan dan ketrampilan untuk selalu melihat ke dalam diri akan menghantarkan seseorang untuk selalu waspada pada gelagat atau kecenderungan dari batinnya sendiri dengan kata lain seseorang akan mengenal dirinya sendiri dengan baik.

Tidak ada yang lebih berharga dari mengenal diri sendiri. Karena hanya dengan mengenal diri maka seseorang akan mampu untuk melatih, dan mengendalikan diri dengan baik. Semangat yang dimaksudkan dalam Dhamma ajaran Buddha sebagai viriya bala tidak lain adalah semangat untuk selalu berbenah, mengoreksi diri, menekan, melenyapkan karakter yang buruk dan memunculkan serta mengembangkan karakter yang baik. Dengan demikian akan terjadi proses berbenah secara terus menerus menuju kesuksesan duniawi maupun spiritual. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.