Darma Bakti dalam Membangun Bangsa

Wei de dong Tian, Xian You Yi De, Shanzai. Luasnya hati seorang  luhur budi (Junzi). “Langit adalah ayahku. Bumi adalah ibuku. Bahkan mahluk kecil seperti diriku menemukan tempat yang nyaman di tengah-tengah mereka. Apa yang mengisi alam semesta kupandang sebagai tubuhku dan apa yang mengemudi alam semesta kupandang sebagai sifat dasarku, watak sejatiku. 

Semua orang saudaraku, dan semua benda sahabatku...  Bahkan mereka yang letih, lemah, lumpuh, atau sakit. Mereka yang tidak memiliki saudara atau anak, istri atau suami, semua adalah saudaraku yang sedang menderita dan tidak memiliki siapapun untuk berpaling. Ketika saatnya tiba, menjaganya dari gangguan – inilah kepedulian seorang anak. Bergembira di dalam Tian dan tak memiliki kecemasan – inilah bakti tersuci anak kepada orang tua…….”

Agama Khonghucu adalah agama yang berisi tuntunan Tuhan Yang Maha Esa (Tian) melalui para nabi (sheng) dan raja-raja suci untuk manusia yang hidup di bumi ini. Tujuannya adalah agar manusia dapat belajar terus menjadi manusia yang berbudi luhur (junzi). Yakni, dapat menggemilangkan kebajikan sehingga mampu mengabdi kepada Tuhan dan mengasihi sesama (Daxue Bab Utama: 1). 

Tuhan menciptakan manusia disertai watak sejati yang hakikatnya baik dan berisi benih-benih kebajikan: cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, dan kebijaksanaan (Mengzi VIIA: 21/4).

Perasaan belas kasihan itulah benih cinta kasih; perasaan malu dan tidak suka itulah benih kebenaran; perasaan rendah hati dan mau mengalah itulah benih kesusilaan; dan perasaan membenarkan dan menyalahkan itulah benih kebijaksanaan (Mengzi IIA:.6.5). 
Sebagai manusia, kita menerima Firman Tuhan dilahirkan melalui kedua orang tua. Sebagai manusia, kita wajib menjalankan fungsi kemanusiaan dengan menjalankan kebajikan.

Pada sikap Ba De, symbol yang mempunyai arti ibu jari kiri melambangkan ayah, ibu jari kanan melambangkan ibu. Kedua ibu jari dipertemukan membentuk huruf “Ren” manusia. Sebagai manusia, kita dilahirkan oleh kedua orang tua, sebagai manusia mempunyai kewajiban menjalankan delapan kebajikan. (Ba De)

Laku Bakti merupakan De yang satu dalam Agama Khonghucu (Ru Jiao) sesungguhnya mempunyai  makna imani sebagai ‘Memuliakan Hubungan’.  Hal ini dapat disimpulkan dari alasan-alasan berikut:

Dari arti bangun huruf Xiao ‘Bakti’ ini, terdiri dari dua bangun Aksara, yakni: Lao yang berarti: tua; dan Zi yang berarti: anak. Sehingga seakan-akan menggambarkan; ‘Anak Mendukung/ Menjunjung Orang-tua’ atau berpengertian: ‘Yang Dijunjung Oleh Anak Dengan Sepenuh Hati’. Sehingga secara umum Xiao ‘laku bakti’ dapat diartikan sebagai ‘Memuliakan/ Pemuliaan Hubungan’ antara yang lebih ‘muda/junior’ kepada  yang senior atau lebih  ‘tinggi’.  Lebih luas dari pengertian  Imani dengan mengkaji ayat-ayat Kitab Suci Agama Khonghucu, memang sesungguhnya ‘Laku Bakti’ menuntut tindak pengamalan ‘Pemuliaan Hubungan’.

Memahami ajaran dari kitab Si Shu – Wu Jing dan Xiao Jing memerlukan pemahaman yang jernih akan perihal ‘Bakti’ ini dalam duduk permasalahannya yang lurus dan benar. Meletakkan ‘Bakti’ tetap dalam sendi utama Ajaran Agama Khonghucu tanpa menyimpang dari dasar & pokok Ajaran Agama Khonghucu sendiri.
Marilah kita renungkan dan pahami.

Bangun huruf ‘agama’ atau Jiao adalah gabungan dari Xiao dan Wen yang berarti: Teori, Ajaran, Sastra, Budaya. Maka, huruf ‘agama’  (Jiao)  dapat diartikan secara bebas sebagai ajaran tentang bagaimana menjunjung/ memuliakan hubungan aspek kehidupan manusia sebagai kodrat yang difirmankanNya. Hal ini secara tegas tersirat dalam Kitab Bakti (Xiao Jing) Bab I: 4 dan berikutnya lihat Bab IX : 1

Nabi KONGZI bersabda: Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah Pokok Kebajikan. Dari situ ajaran agama berkembang. Nabi KONGZI bersabda: Diantara watak-watak yang terdapat antara langit dan bumi, sesungguhnya manusialah termulia.

Di antara prilaku manusia tiada yang lebih besar daripada Laku Bakti. Di dalam Laku Bakti, tiada yang lebih besar daripada menaruh hormat dan memuliakan orang tua. Dan, hormat memuliakan orang tua itu tiada yang lebih besar daripada selaras dan harmonis kepada Tuhan.

Dalam Kitab  Xiao Jing IX disebutkan, ... maka bila orang tidak mencintai orangtuanya tetapi dapat mencintai orang lain, itulah kebajikan yang terbalik. Tidak hormat kepada orangtua sendiri tetapi dapat hormat kepada orang lain, inilah kesusilaan terbalik.

Dalam Kitab Li Ji XXI (II): 11: Adapun laku Bakti itulah pokok dari segala pengajaran Agama. Laku Bakti dilaksanakan dengan memberi perawatan, di dalam kemampuan memberi perawatan yang sukar adalah; adakah disertai rasa hormat? Dapat berlaku hormat, yang sukar adalah dapatkah memberi rasa tenteram sentosa? Dapat memberi rasa tenteram sentosa; dapatkah melaksanakannya sampai wafat? Setelah ayah bunda tiada, dapat hati-hati menjaga prilaku dirinya, tidak mengakibatkan nama buruk orang tua.

Demikianlah dapat dikatakan menunaikan kewajibannya. Cinta kasih itulah cinta kasih di dalam melaksanakan ini. Kesusilaan itu ialah sopan santun di dalam melaksanakan ini. Kebenaran itu ialah kesadaran kewajiban melaksanakan ini.

Dapat dipercaya itu ialah dapat dipercaya di dalam melakukan ini. Perkasa itu ialah perkasa di dalam melaksanakan ini. Dan kebahagiaan itu ialah bila diri dapat melaksanakan ini dan hidup selaras dengan ini. Dan hukuman itu dikenakan kepada diri yang bertentangan dengan ini.
Namun laku bakti bukan berbakti membuta, menurut saja. Akan tetapi sebaliknya, juga dituntut sikap untuk memperingatkan bila terjadi penyelewengan, penyimpangan atas laku bajik (ingkar dari Jalan Suci).

Betapa luas dan dalam pengertian imani akan prilaku bakti itu, sudah terungkapkan makna hakikatnya melalui ayat di atas. Dalam pengamalan dan penerapan bakti di kehidupan sehari-hari, menurut ajaran Agama Khonghucu, sungguh mencakup segala dimensi kehidupan manusiawi manusia! Untuk itu, dapatlah kita petik ajaran berikut guna mengantar ke dalam gambaran pengamalan dan penerapan laku bakti.

San Cai (Hubungan Tian-Di-Ren)

San Cai merupakan tiga entitas atau tiga hakikat/kekuatan sebagai tiga unsur/dimensi dalam teologi agama Khonghucu, yakni hubungan Tian (Tuhan), Bumi atau Di (Alam Semesta), dan Manusia atau Ren (Tian-Di-Ren) yang saling bersinergi dan melengkapi.

Jika ketiga hubungan ini dapat selaras dan berjalan beriringan dengan harmonis, maka semua makhluk akan tumbuh berkembang. Dalam kitab Kitab Li Ji disebutkan: “Bila tiada keselarasan antara langit dan bumi, tidak akan tumbuh/hidup berlaksa benda/makhluk.”

Bila kurang harmonis maka terjadi kerusakan alam dan kerusakan manusia. Sebagai contoh, pandemi Covid 19 ini begitu dahsyat dan mengubah tata kehidupan dunia. Demikian juga, bencana alam, banjir, dan tanah longsor. Senang sekali saat ini sudah mulai banyak kesadaran dalam diri kita sehari-hari untuk membersihkan diri, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan, menghentikan upaya alihfungsi hutan secara tanpa rencana, serta munculnya gerakan reciclyng, go green, credit carbon, dan lainnya.

Ws.Dra.Tan Minggayani, M.Ag (Rohaniwan Khonghucu)


TERKAIT

Ketulusan Hati

Menjadi Insan yang Berbudi

Donor Darah dalam Pandangan Hindu

Peran Serta Gereja dalam Masyarakat