Depag Akan Evaluasi Operator Angkutan Haji

PIKDA, 20/01 Jakarta - Tingginya tingkat keterlambatan dalam pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji, menyebabkan Depag akan mengevaluasi PT Garuda Indonesia sebagai operator penerbangan haji nasional. "Akan dievaluasi, kita sudah menegur berkali-kali sampai "meniren" terhadap keterlambatan ini," kata Menteri Agama Maftuh Basyuni kepada pers saat menjemput rombongan Amirul Haj di Bandara Soekarno-Hatta Banten, Kamis.

Tercatat, dalam tiga hari pemulangan jemaah haji (15-18 Januari), keterlambatan Garuda Indonesia sudah mencapai hingga di atas 147 jam, sementara keterlambatan Saudi Arabian Airlines mencapai 31 jam. Menurut Menteri, pengangkutan jemaah dari maktab ke Bandara (naqobah) tidak bisa menjadi alasan keterlambatan, tetapi ia membenarkan alasan keterbatasan gate. Garuda hanya mendapat satu gate dari 12 gate yang  ada di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. "Tetapi ketika kita memberi jadwal kepada pemerintah Arab Saudi, mereka menjanjikan kalau ada gate kosong akan diberikan," kata Basyuni.

Pesawat GA 7302 yang ditumpangi rombongan Amirul Haj sendiri juga mengalami keterlambatan hingga 4-5 jam. Pesawat untuk kloter 10 JKG asal Bengkulu itu seharusnya berangkat dari Jeddah pukul 18.55 WAS dan  dijadwalkan tiba pukul 08.45 WIB, namun realisasinya pesawat baru berangkat dari King Abdul Aziz Jeddah pukul 23.55 WAS dan tiba di Soekarno-Hatta pukul 13.10 WIB.

Sementara itu, Amirul Haj yang juga mantan Menag, Malik Fajar mengatakan, perlunya Direktur Utama Garuda hingga direktur-direktur lainnya melihat sendiri kondisi bagaimana keterlambatan pesawatnya di lapangan. "Ini tentu menghambat proses pemulangan selanjutnya, orang lelah tentu menginginkan ketepatan waktu tiba di tanah air," katanya. Mengenai masalah keterlambatan tersebut, Malik meminta jangan ada yang mencari kambing hitam, terutama karena selama ini Depag yang selalu disudutkan.

Keterlambatan seperti dicatat data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), dialami misalnya Kloter 3 BDJ (Banjarmasin) hingga 34 jam, kloter 1 BTJ (Banda Aceh) 18 jam, kloter 2 BTJ 18 jam, kloter 3 BTJ 17 jam, kloter 8 dan 10 JKG hingga empat jam, kloter 1 MES (Medan) hingga tujuh jam. Kloter 2 MES juga terlambat hingga enam jam, kloter 3 MES hingga lima jam, serta kloter-kloter Solo yang seluruhnya mengalami keterlambatan 3-11 jam, misalnya Kloter 7 SOC yang terlambat mencapai 11 jam, serta kloter 2 dan 3 UPG (Makassar) terlambat hingga empat jam. mch/pur (Republika)/myd