Dhammakathika

Attānaṁ ce tathā kayirā, yathaññamanusāsati. Sudanto vata dammetha, attā hi kira duddamo’ti. Hendaknya diri sendiri melakukan seperti yang dinasihatkannya kepada orang lain. Ia yang terkendali dengan baik akan dapat membimbing orang lain, karena diri sendiri sesungguhnya sukar dikendalikan. (Dhammapada, Syair: 159)

Sebagai umat Buddha, tekun mempelajari Dhamma menjadi sebuah kewajiban. Tujuannya, agar dapat memiliki pengetahuan yang benar akan ajaran Guru Agung Buddha. Dengan harapan setelah memahami dan mengerti Dhamma secara teori, mereka akan termotivasi untuk dapat mempraktikkannya dalam kehidupan. Sehingga pada akhirnya akan dapat merealisasikan Kebahagiaan Sejati (Nibbana).

Khotbah Dhamma merupakan kegiatan terpenting di dalam mempertahankan Buddhasasanā. Mendengarkan khotbah Dhamma adalah salah satu cara untuk mempelajari ajaran luhur ini. Karena dengan mempelajari ajaran yang indah pada awal, indah pada pertengahan, dan indah pada akhirnya ini; akan memunculkan kebijaksanaan (pañña) di dalam diri umat Buddha dalam memandang kehidupan ini.

Ada tiga komponen di dalam khotbah Dhamma, yaitu: khotbah Dhamma (Dhammadesanā), memberikan khotbah Dhamma/membabarkan Dhamma (Dhammadesanā maya), dan orang yang memberikan khotbah Dhamma/pembabar Dhamma (Dhammakathika). Memberikan khotbah Dhamma dikatakan sebagai pemberian yang tertinggi karena berdana ajaran atau pengetahuan yang benar (Dhammadana). 

Kita hingga saat ini masih dapat mengenal, mempelajari dan mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, karena peran para Dhammakathika yang secara konsisten mengajarkan Dhamma demi kebahagiaan semua makhluk. Agar nilai-nilai luhur Dhamma dapat dimengerti oleh umat Buddha, maka dalam Dhammadesanā maya hendaknya mengandung makna berupa: maksud dan tujuan Dhammadesanā, maksud dan tujuan Dhammakathika, dan sifat-sifat dari Dhammakathika.

Memberikan khotbah Dhamma sebenarnya bukan suatu hal yang mudah. Hal ini dikatakan Guru Agung Buddha saat bersemayam di Vihara Ghositarāma di kota Kosambi. Ketika itu Bhikkhu Ananda menceritakan bahwa dirinya melihat banyak orang duduk mengelilingi Bhikkhu Upali. Sang Bhagava kemudian mengatakan, “Duhai Ananda, pemberian khotbah kepada orang lain bukanlah suatu hal yang mudah...”. 

Guru Agung Buddha kemudian menunjukkan sifat-sifat seorang Dhammakathika. Ada lima sifat yang hendaknya dimiliki oleh seorang Dhammakathika; seperti terdapat di dalam Dhamma Vibhanga (Penggolongan Dhamma) Pancaka-Kelompok Lima, A.III.138.  

Pertama, menerangkan Dhamma selangkah demi selangkah, secara berurutan dan tidak  menyingkat bagian-bagian tertentu sehingga akan mengurangi artinya. Dimana, seorang pembabar Dhamma hendaknya mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan cara mencari inti-inti Dhamma dan menganalisanya secara mendalam agar dapat dipahami oleh pendengarnya. Khotbah Dhamma yang baik hendaknya terdiri dari: tema, penjelasan dan kesimpulan.

Kedua, memberikan keterangan-keterangan yang sesuai sehingga membuat para pendengarnya menjadi lebih mengerti. Dimana, seorang pembabar Dhamma memberikan keterangan maupun contoh agar para pendengar dapat memahami Dhamma dengan benar. 

Ketiga, memiliki cinta kasih (mettā) di dalam hatinya dengan harapan semoga para pendengarnya dapat memperoleh faedah dari khotbah Dhamma itu. Dimana, seorang pembabar Dhamma memiliki harapan agar melalui khotbah Dhamma yang disampaikan, para pendengar benar-benar dapat mendapatkan manfaat dan memotivasi mereka untuk mempraktikkan Dhamma.

Keempat, tidak mengajarkan Dhamma dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Dimana, seorang pembabar Dhamma mempunyai tujuan yang tulus hanya untuk menyebarkan Dhamma, tanpa berpikir untuk memperoleh keuntungan pribadi sedikitpun.

Terakhir kelima, tidak mengajarkan Dhamma dengan maksud untuk menyerang orang lain. Dengan kata lain, tidak memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain. Dimana, seorang pembabar Dhamma akan mengutamakan pendengarnya dalam memberikan khotbah Dhamma. Sehingga para pendengarnya akan memperoleh manfaat dari khotbah Dhamma tersebut.

Inilah lima sifat yang hendaknya dimiliki oleh seorang Dhammakathika di dalam membabarkan Dhamma. Seorang disebut Dhammakathika bukan hanya karena memiliki pengetahuan Dhamma semata. Tetapi juga, karena dapat mempraktikan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, tidak hanya mempunyai pengetahuan secara intelektual saja, tetapi juga memiliki kebijaksanaan yang diperoleh dari pengalaman hidup.

Jadilah pembabar Dhamma yang memiliki lima sifat seorang Dhammakathika. Dan jadilah seperti teladan Guru Agung Buddha, yang mengajarkan apa yang dipraktikkan dan yang mempraktikkan apa yang diajarkan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT