Dhammasākacchā

Ye ca kho sammadakkhāte, Dhamme dhammānuvattino. Te janā pāramessanti, Maccudheyyam suduttaram. Mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma yang telah diterangkan dengan baik, akan mencapai Pantai Seberang, menyeberangi alam kematian yang sangat sukar diseberangi.(Dhammapada, Syair: 86)

Guru Agung Buddha Gautama telah memberikan ajaran yang sangat luar biasa bagi para siswanya. Ajaran yang beliau wariskan kita kenal dengan Dhamma. Sebuah warisan non fisik yang mampu memberikan warna dalam perkembangan peradaban manusia di dunia. Sebagai warisan adi luhung,  Dhamma yang bernilai tinggi itu sangat layak untuk dilestarikan, dipertahankan, dan dipraktikkan dalam kehidupan.

Menjaga dan merawat Dhamma yang bernilai luhur sangat penting bagi umat Buddha. Ada berbagai cara untuk mempertahankan Dhamma agar tetap lestari, salah satunya dengan cara mempraktikkan dalam kehidupan sehari- hari (patipati dhamma). Untuk dapat mempraktikkan dengan baik, umat Buddha harus mengetahui Dhamma secara teori (pariyatti dhamma) terlebih dahulu.

Pariyatti Dhamma dapat dilakukan dengan cara Dhammasavana atau mendengarkan dhamma dari orang orang yang ahli seperti para Bhikkhu, Pandita, maupun para cendekiawan Buddhis. Cara lain yang dapat dikukan untuk memperdalam Dhamma adalah dengan cara dhammasākacchā. Dhammasākacchā merupakan pembahasan tema atau topik pembicaraan yang sangat mendalam tentang Dhamma sehingga membutuhkan usaha yang tulus untuk mengerti Dhamma dengan benar dan menguasainya untuk kemudian dipraktikkan dalam kehidupan. Pembahasan Dhamma ini dapat dibuat lebih mudah melalui diskusi dengan orang lain yang memiliki pengetahuan yang lengkap dan menyeluruh tentang teori dan praktik Dhamma. Pembahasan dhamma tersebut tentu dilakukan secara dua arah sehingga terjadi diskusi antara pembahas dan pendengar. Cara seperti ini sudah sangat lazim dilakukan sejak jaman guru agung Buddha Gautama. Pendalaman Dhamma dengan metode dhammasākacchā ini sangat baik dilakukan karena kedua belah pihak akan sama-sama mendapatkan manfaat yang sangat dalam. 

Untuk memperoleh manfaat yang baik, tentu pembahasan Dhamma tersebut harus dilakukan pada waktu, tempat, dan pada orang yang tepat. Sebagaimana dalam Manggala Sutta, Buddha Gautama menjelaskan Kālena dhammasākacchā, membahas Dhamma pada saat yang sesuai adalah berkah utama. Kesempatan untuk membahas dhamma bersama orang-orang yang terpelajar, pandai, cerdas, bijaksana, dan berpengalaman tidak seharusnya dilewatkan oleh setiap orang.

Selain mendatangkan berkah, dhammasākacchā yang dilakukan dengan sunguh-sungguh, penuh perhatian, dan kebijaksanaan tentu akan mendatangkan manfaat yang sangat baik. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut:

a. Mengetahui Dhamma yang belum pernah diketahui;

b. Dhamma sebelumnya ada yang belum jelas, akan menjadi lebih jelas;

c. Menghilangkan keragu-raguan;

d. Meluruskan pandangan; dan

e. Menjernihkan batin

Dhammasākacchā yang dilakukan secara terus-menerus tentu akan turut menjaga eksistensi Dhamma. Keberlangsungan Dhamma di kehidupan ini akan semakin baik dan tidak mudah dilupakan oleh umat Buddha. Dengan demikian Dhamma akan tetap lestari dimuka bumi ini.

Mari kita senantiasa membiasakan diri untuk lebih dekat dengan Dhamma. semoga kita dapat menjadi bagian dari pelestari Dhamma. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.