Dhammasavananisamsa

Dhammam care sucaritam, Na tam duccaritam care. Dhamacari sukham seti, asmim loke paramhi ca. Hiduplah sesuai dengan Dhamma, jangan mengikuti cara hidup yang salah. Seseorang yang mengikuti ajaran Dhamma secara benar akan hidup berbahagia di dalam kehidupan sekarang maupun yang akan dating. (Dhammapada, Syair: 169)

Dhamma memiliki pegertian yang sangat luas, di antaranya diartikan sebagai hukum atau aturan dalam agama Buddha, kesunyataan mutlak, fenomena alam semesta, ajaran kebenaran, atau ajaran Guru Agung Buddha. Setiap umat Buddha dapat mendengarkan Dhamma melalui ceramah/perjumpaan langsung dengan para bhikkhu atau pandita dharmaduta di vihara, secara daring, atau menonton ceramah dhamma melalui kanal-kanal media informasi. 

Hal ini sangat baik dilakukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai ajaran agama Buddha sehingga akan memiliki pengertian yang benar dan menghindari persepsi keliru atau salah. Disebutkan dalam Mangala Sutta, Khuddakanikaya, salah satu dari 38 berkah utama (mangala) adalah “Kalena dhammasavanam”. Yaitu, mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai. Dikatakan berkah utama karena manfaat luar basa yang diperoleh dari mendengarkan dan melaksanakan Dhamma serta sangat jarang orang yang memiliki kesempatan baik untuk itu. Mereka yang memiliki waktu pun kemudian dapat mengalami kesulitan untuk mengerti Dhamma. 

Guru Agung Buddha mengingatkan bahwa untuk dapat memahami Dhamma, seseorang haruslah penuh perhatian. Karena kebanyakan orang tidak dapat menjalankan hal ini. Lebih lanjut dijelaskan bahwa hal-hal yang dapat menghalangi orang untuk dapat mengerti Dhamma, yaitu nafsu (raga), kebencian (dosa), dan kebodohan (moha). Dhammapada, Syair: 251 menyatakan bahwa: “Tiada api yang menyamai nafsu, tiada cengkeraman yang dapat menyamai kebencian, tiada jaring sekuat ketidaktahuan, dan tiada arus menyamai nafsu keinginan.” Begitu kuatnya ikatan raga, dosa, dan moha ini, sehingga orang tidak dapat mencerap dan mencerna dengan baik setiap informasi baik yang diterimanya.

Dalam Angutara Nikaya III, 2482, Guru Agung Buddha menjelaskan tentang lima manfaat mendengarkan Dhamma, yaitu: asuttam sunati, sutam pariyodapeti, kankam vihanati, ditthi ujum karoti, dan cittamassa pasidati. Dengan mendengarkan Dhamma, kita dapat memperoleh pengetahuan baru yang sama sekali belum pernah kita ketahui. Itulah manfaat pertama yang disebut asuttam sunati. Pengetahuan awal ini memungkinkan kita memperoleh persepsi yang baik dan benar tentang Dhamma. 

Manfaat dari sutam pariyodapeti diperoleh bilamana kita secara konsisten dan kontinyu mengikuti ceramah Dhamma sehingga pemahaman awal yang diterima tersebut semakin jelas, semakin menarik, kemudian menumbuhkan minat dan motivasi untuk membuktikannya (ehipassiko). 

Kankam vihanati adalah manfaat yang diperoleh dimana kita sudah tidak memiliki keragu-raguan lagi kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Keyakinan yang kuat tersebut disebabkan karena kita telah memperoleh pemahaman yang benar dan pembuktian (ehipassiko) terhadap ajaran (kebenaran) Dhamma. Jika kita semakin konsisten dan rajin mendengarkan Dhamma kita akan memperoleh pengertian yang benar (samma ditthi). Inilah manfaat selanjutnya yang disebut ditthi ujum karoti

Sebagaimana yang diketahui bahwa Sammaditthi merupakan unsur pertama dari Jalan Mulia Berunsur Delapan (Atthangika Magga) yang merupakan salah satu aspek kebijaksanaan. Dengan memiliki dan berbekal pengertian yang benar, penuh kebijaksanaan, batin dan pikiran kita akan merasa tenang dan bahagia. Itulah manfaat sekaligus tujuan terakhir yang disebut cittamassa pasidati

Jadi, kapan kita punya waktu yang sesuai untuk mendengarkan Dhamma yang membuat batin dan pikiran (hidup kita) bahagia? Waktu itu, adalah saat ini.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia