Di depan Pemimpin Agama Dunia, Menag Paparkan Metafora Turis dan Gelandangan

Nusa Dua (Kemenag) --- Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas didapuk menjadi pembicara dalam forum pemimpin-pemimpin agama dunia atau Forum Religion Twenty (R20) yang digelar dalam rangkaian kegiatan G20 di Nusa Dua, Bali. 

Di depan para pemimpin agama dunia, Menag mengawali paparannya dengan sebuah metafora yang dikemukakan pemikir sosial Zygmunt Bauman pada tahun 1996. 

Menag mengisahkan, Bauman menulis suatu metafora bahwa globalisasi menghasilkan dua jenis kelompok manusia dengan nasib yang sama sekali berbeda: turis dan gelandangan. 

Keduanya sama-sama bergerak, bermigrasi dalam globalisasi tetapi dalam pengalaman yang sama sekali berbeda, bahkan bertentangan. 

"Wisatawan adalah analogi untuk orang kaya yang mengalami globalisasi sebagai libur menyenangkan. Sedangkan gelandangan adalah kaum miskin yang terlunta dalam globalisasi, seperti para pengungsi dan pekerja migran.  Mereka mengalami globalisasi dalam keadaan serba rawan dan serba rentan,"  kata Menag Yaqut, Rabu (2/11/2022).

Globalisasi, lanjut Gus Men, panggilan akrab Yaqut Cholil Qoumas, adalah kekuatan transformatif yang mendorong perubahan mendasar dan struktural di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya, ekologi, dan militer. 

Ia menginterupsi hubungan internal dan eksternal tiap bangsa secara besar-besaran. Namun, ia juga adalah proses sejarah yang dinamis dan terbuka, membelah manusia dan komunitasnya dengan penuh kontradiksi dan paradoks.

"Ini adalah serangkaian proses yang menghasilkan bentuk-bentuk baru hubungan kekuasaan di tingkat global dan lokal, yang pada gilirannya, menyebabkan stratifikasi baru dan pengucilan terhadap orang-orang di berbagai sektor sosial," ujarnya.

Ditambahkan Gus Men, globalisasi diam-diam telah  merekonstruksi pola inklusi dan eksklusi tradisional di antara negara-negara dengan membentuk hierarki baru di semua masyarakat dan wilayah di dunia: antara Utara dan Selatan; Dunia Pertama dan Dunia Ketiga; orang kaya-orang miskin. Semua terjalin secara paradox: dalam persamaan kultural sekaligus perbedaan jurang ekonomi dan sosial. 

"Perbedaan ini juga jangan-jangan berlaku bagi kita yang hari ini hadir di sini mewakili negara masing-masing. Forum supra-state semacam ini, adalah tempat yang baik namun ia tetap tidak mungkin menghapuskan perbedaan-perbedaan dari warga/umat kita masing-masing yang suaranya kita wakili di sini hari ini, " tutur Menag.

Menag memandang politik global mengubah fondasi tatanan lokal, nasional, regional dan dunia. Salah satunya adalah secara homogenisasi budaya. Homogenisasi dalam kebudayaan bisa berarti ekstreminasi dan kekerasan simbolik.

Ia menghapuskan jejak identitas dari suatu masyarakat dan budaya lokal yang sebelumnya eksis: adatnya, makanannya, system-politiknya dan simbol-simbol kebudayaannya.  

Dengan itu globalisasi mengundang balik, respon dan tantangan yang seringkali juga keras;  politik identitas yang muncul di Amerika Latin dan Afrika misalnya, adalah respon yang bermaksud menyuarakan identitas mereka yang dipinggirkan oleh globalisasi. Pada sisi yang lebih ekstrem, sebagian gerakan fundamentalisme agama juga muncul sedikit banyak sebagai respon dari keruntuhan negara bangsa di kawasan Persia dan homogenisasi yang dialirkan oleh globalisasi. 

Proses global yang intensif ini, tidak hanya menggeser warga dari peta tradisional geopolitik dunia, tetapi juga menghancurkan sentralitas yang telah diduduki negara. Ini menunjukkan bahwa penyesuaian yang signifikan  dengan persyaratan politik yang baru diperlukan untuk menopang hidup negara-bangsa agar tetap relevan.

"Inilah globalisasi dalam kisah yang pertama. Apa yang saya sajikan dalam kisah pertama globalisasi adalah globalisasi yang paradoksal. Ia mengintegrasikan kita dalam kultur global tapi sekaligus dengan itu ia justru membelah dan membangun stratifikasi baru yang mengakibatkan banyak kaum miskin di berbagai negara yang ekonominya lemah, makin menderita, " tandas Menag.

Globalisasi dalam kisah ini, kata Menag, boleh diibaratkan laksana gelombang pasang yang memporak-porandakan identitas dan pendirian-pendirian dasar,  bukan hanya bagi negara-bangsa tetapi juga bagi kemanusiaan universal serta religiositas.

Sejak setidaknya tahun 2020, dunia mengalami globalisasi dalam rupa yang sama sekali lain: globalisasi sebagai bencana, dukacita sekaligus solidaritas.  Inilah paradox lain dari kisah globalisasi yang kedua: globalisasi pandemic.

Dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, pandemi COVID-19 bukan hanya telah mengkonfigurasi ulang struktur trans-nasional, mobilitas, dan koneksi yang telah menjadi dasar bagi globalisasi pasca-Perang Dingin. 

Pandemic secara mondial menghadapkan setiap orang, di belahan dunia manapun dengan latar kelas sosial apapun, agama dan bangsa yang berbeda-beda, untuk berhadapan dengan belangsungkawa universal. 

"Di dalam pandemic, baik turis maupun gelandangan, sama-sama menghadapi risiko dihadapan keganasan virus yang mematikan," ujar Menag

Ajang pertemuan pemimpin agama dunia atau R20 kali pertama yang diinisiasi Nadhalatul Ulama (NU) dan Liga Muslim Dunia ini digelar 2-3 November 2022 di Nusa Dua Bali.