Di Empat Penjuru Lautan, Semuanya Saudara

Semuanya saudara, kata ini mudah diucapkan, tetapi tidak  semua manusia dapat melaksanakannya. Sebab, sepertinya ada sekat yang membatasi ruang lingkup hal tersebut.  Misalnya, perbedaan ras, warna kulit, agama, suku, kelompok, dan lain sebagainya.  

Dalam bahasa Kitab Suci, perbuatan yang menonjolkan sekat-sekat pembatas disebut Xiao Ren (Manusia rendah budi/manusia kerdil). Sedangkan lawan katanya adalah Junzi (susilawan/manusia beradab yang baik budi).

Untuk membedakan Xiao Ren dan Junzi dapat dikutip ayat berikut, “Seorang Junzi dapat rukun meski tidak dapat sama, seorang rendah budi dapat sama meski tidak dapat rukun.” (SS XIII;23).  Ayat ini memberikan  gambaran di manakah sebaiknya kita memposisikan diri.

Di hadapan Tuhan, manusia tidak ada bedanya dan yang membedakan manusia adalah perbuatannya saja. Yakni, perbuatan dalam kategori kebajikan, beradab yang disebut Junzi, atau kategori jelek, jahat dan sejenisnya yang disebut Xiao Ren.  Oleh karena itu, di dalam Kitab SS XII:5 menyatakan bahwa manusia di empat penjuru lautan, semuanya saudara.  Dalam hal ini tidak memandang perbedaan suku, golongan, agama ataupun ras.

Khusus mengenai pemahaman keyakinan agama yang berlainan, Nabi Agung Kongzi memberikan sabda, “Kalau berlainan Jalan Suci, tidak usah saling berdebat”.  Sabda ini memberi pesan mendalam. Sebab, pada masa 2.500 tahun yang lalu, agama-agama besar lainnya belum ada di dunia. Tetapi seorang Nabi dapat memberikan sabda yang sejuk dan dapat berlaku hingga kini, sangat luar biasa!

Agama Khonghucu (Ru Jiao) dari sejarahnya para Nabi dan Raja Suci bukan dari satu keturunan bangsa saja. Hal ini dapat dibuktikan dari Kitab Meng Zi IV B:1.  Di dalam ayat suci tersebut, dijelaskan ada bangsa I Timur, sekarang adalah bangsa Mancu dan Jepang. Ada juga bangsa I Barat, sekarang adalah bangsa di Asia Tengah dan Tibet.  Jadi ini menunjukkan bahwa Agama Khonghucu bukan dari dan untuk etnis tertentu, tetapi untuk semua umat manusia di dunia.

Sekarang ini banyak bangsa-bangsa di dunia mempelajari ajaran Nabi Agung Kongzi, karena ajaran tersebut berdimensi Etika, Filsafat, dan Agama. Bagi para sastrawan, ilmuwan, budayawan, dan negarawan non Agama Khonghucu, mereka cendrung mempelajari dari segi Filsafat dan Etika. Bahkan, salah satu simpulan konferensi internasional di Paris pada Januari 1988 yang diikuti 75 partisipan, termasuk 52 Ilmuwan, menegaskan: “Jika nilai kemanusiaan tetap perlu dipertahankan, maka haruslah kembali ke 25 abad yang lalu untuk menyentuh kebijaksanaan Khonghucu”. (Sutradharma TJ.Sudarman, MBA).

Sejauh yang penulis ketahui bahwa para pemenang Nobel semuanya berasal dari Eropa dan Amerika, tetapi kesimpulan yang diambil adalah harus kembali pada benua Asia yang nota bene suatu ajaran dari seorang manusia yang Agung bernama Nabi Kongzi. 

Suryanto (Rohaniwan Khonghucu)