Digitalisasi Layanan dan Wajah Baru KUA

Revitalisasi Kantor Urusan Agama (KUA) menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama tahun 2021. Ada 100 KUA yang menjadi target revitalisasi tahun ini, dan enam di antaranya ditetapkan sebagai KUA Model.

Keenam KUA Model tersebut hari ini dicanangkan Menag Yaqut Cholil Qoumas. Pencanangan dipusatkan di KUA Banjarnegara, Jawa Tengah.

Apa dan bagaimana layanan KUA Banjarnegara hingga dijadikan KUA Model, simak perbincangan Tim Humas Kemenag Kurniawan (KNW) dengan Kepala Kankemenag Banjarnegara Agus Suryo Suripto (ASA) di KUA Banjarnegara, Sabtu (29/5/2021).

 

Pak Suryo, kita sudah lihat keadaan kantor dan juga persiapan untuk pelaksanaan pencanangan besok yang akan dilakukan Menteri Agama Republik Indonesia. Mungkin bisa diceritakan nih Pak, sejarah gedung ini hingga akhirnya menjadi KUA Banjarnegara. 

Baik. Gedung KUA ini awalnya adalah Kantor Kementerian Agama Kabupaten  Banjarnegara. Karena tempatnya agak ke dalam, dan pemerintah ingin memberikan pelayanan  kepada masyarakat  dengan lebih baik, maka Kantor Kementerian Agama Banjarnegara dipindah, dari lokasi di jalan Selamanik ke jalan Tentara Pelajar yang ada di main road. Sehingga, masyarakat lebih mudah mengetahui kantor Kemenag karena kantornya mudah diakses masyarakat dari jalan utama.

Tanah di KUA Banjarnegara ini cukup luas, 1.130 M2. Tahun 2016, melalui program SBSN, dibangun KUA Banjarnegara. Luas bangunannya, 330 M2, cukup luas dan nyaman untuk melayani masyarakat.

Harapan kita, dengan gedung baru, halaman yang luas, penataan yang lebih bagus,  kita bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan jauh lebih nyaman, dan profesional.

Saya lihat, memang nyaman banget gedungnya, Pak. Menurut saya, ini sih sudah standard nasional  banget. Kira-kira, kenapa KUA Banjarnegara dijadikan salah satu model Revitalisasi KUA, bahkan sebagai tempat pencanangan?

Oke. Ada tiga alasan kenapa KUA Banjarnegara layak dijadikan tempat untuk Kickoff pencanangan Revitalisasi KUA.

Pertama, penataan SDM. KUA Banjarnegara itu melayani sekitar 500 sampai 550 jumlah pernikahan dalam satu tahun. Kita dibantu satu kepala KUA, satu penghulu, dan lima tenaga administrasi. Kami juga dibantu dengan delapan tenaga penyuluh agama Islam, sehingga untuk pelayanan masyarakat itu dapat terlayani dengan baik.

Kedua, dari sisi bangunan dan properti. Bangunan di KUA Banjarnegara, menurut saya cukup representatif, mewakili figur wajah Kementerian Agama yang dapat memberikan image kepada masyarakat bahwa Kementerian Agama, KUA khususnya yang dahulu ketika melayani masyarakat itu gedungnya kumuh, kotor, tempatnya panas, sekarang melalui program SBSN, gedungnya sangat luar biasa. 

Gedung KUA ini merupakan gedung perwakilan pemerintah di tingkat kecamatan paling megah di Kecamatan Banjarnegara. Dengan kantor-kantor yang dinas vertikal lainnya, kita paling keren, ruangannya juga sudah ber-AC.

Ketiga, kita sudah mengawali pelayanan digital kepada masyarakat. Di KUA Banjarnegara, kita sudah membuat data digital pernikahan. Mulai dari real time yang tercatat hari ini sampai dengan tahun 1947, semua terekam di KUA Banjarnegara.

Lumayan panjang berarti ya Pak. Itu proses penyiapan datanya berapa lama hingga bisa digitalisasi?

Jadi begini, kalau kata para sosiolog, data itu merupakan nyawa dari sebuah organisasi. Data pernikahan kita itu mencatat peristiwa pernikahan. Kalo dahulu ada namanya wedono,  jaman-jaman awal kemerdekaan. Bupati-bupati terdahulu pernikahannya tercatat dengan baik. Kalau ini menjadi dokumen nasional ini patut dibanggakan di tingkat nasional. Dan ini yang menurut saya kenapa kami mempunyai kepercayaan diri bahwa KUA di Banjarnegara patut menjadi tempat di mana Menteri Agama akan melaunching program revitalisasi KUA di Indonesia.

Keren banget nih, bisa jadi representasi untuk masyarakat mencari informasi tanpa harus bertanya langsung kepada Kepala KUA nya. Cukup klik "Pojok KUA", publik bisa melihat informasi yang dibutuhkan.

Terakhir nih Pak. Menteri Agama ingin mencanangkan KUA juga bisa menjadi Rumah Moderasi Beragama. Artinya, pelayanan bukan hanya untuk pemeluk agama Islam saja tapi juga pemeluk agama lainnya. Persiapannya bagaimana, Pak?

Baik. Saya ingin meng-highlight pernyataan Menag ketika membuka rapat kerja nasional tahun 2021. Apa itu? Bahwa Kemenag itu bukan Kementerian Agama Islam, tetapi Kementerian untuk seluruh agama. Ini yang harus di-highlight.

Nah, ke depan tantangan kita bermasyarakat itu sangat kompleks. Maka moderasi beragama, itu harus dimulai pada ujung Kementerian Agama, yaitu KUA.

Lalu apa persiapan kita? Kita sudah melakukan brainstorming dengan tenaga-tenaga di KUA dan stakeholder dari semua agama. Jadi, kita bekerjasama dengan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) bahwa Negara Kesatuan RI ini menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya dari umat Islam saja. Pemeluk agama lain juga mempunyai kewajiban bersama.

Kita berada pada Negara Kesatuan RI di mana kita hidup di situ. Sehingga komunikasi yang kita jalin dengan lintas agama itu menjadi sangat penting sekali. Maka KUA di Banjarnegara akan menjadi media untuk berdiskusi, berdialog masalah-masalah kebangsaan, dan masalah masalah agama.

Jadi KUA  bukan hanya soal urusan agama Islam saja, tetapi nanti rumah moderasi itu akan kita pusatkan di KUA-KUA di Banjarnegara.

Terima kasih. Semoga ini bisa menjadi inspirasi. KUA Banjarnegara bisa menjadi salah satu rujukan dalam pelaksanakan Revitasisasi KUA di Indonesia.